The Laundry

The Laundry
anggitaapriliasa.blogspot.co.id

Kepalaku terasa berat, sepertinya otakku berubah menjadi batu setelah semalam lembur mengerjakan tugas. Bungkus makanan ringan dan softdrink berserakan di lantai, leptop masih memeutar daftar lagu sejak semalam, beberapa menit kemudian muncul peringatan batreai lemah di layar. Aku menguap, menengok ke kolong tempat tidur, gelap, membuatku ingin memejamkan mata lagi. Tapi jam weker sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Itu artinya tersisa waktu satu jam untukku bersiap pergi ke kampus sebelum mata kuliah dosen killer itu dimulai.

Dengan malas aku bangkit, membuka jendela. Cahaya matahari pagi yang menembus kaca jendela kamar membuatku harus menyipitkan mata, berkedip-kedip untuk kemudian bisa menatap pemandangan di luar sana dengan jelas. Beruntung kamarku berada di lantai dua, bisa menikmati hijaunya pegunungan yang berjarak 2km dari tempatku berdiri saat ini. perlahan kuhirup udara pagi yang sejuk, aroma embun masih tercium meskipun sedikit, maklum saja aku bangun kesiangan, embun-embun itu pasti sudah dicumbui oleh cahaya matahari. 

Aku selalu suka menatap gunung di pagi hari, hal itu akan mengingatkanku pada pengalaman mendaki bersama seseorang yang spesial, Beni. Suasana sunrise kala itu di gunung Slamet masih kuingat dnegan jelas, juga bagaimana suara Beni sedikit gemetar ketika berucap cinta kepadaku yang terbengong-bengong menatap keindahan dari puncak gunung terbesar di jawa tengah itu. Beni sampai harus mengulang tiga kali karena aku gagal fokus.

Astaga, aku sudah menghabiskan hampir setengah jam berdiri menatap gunung dan memutar memori tentangnya. Aku bergegas mandi, lebih tepatnya mandi kilat. Betapa paniknya aku ketika teringat bahwa pakaianku masih di tempat laundry, belum sempat kuambil sejak kemarin. Yang tersisa di lemari hanya pakaian untuk tidur dan bersantai, tidak pantas kan dipakai untuk ke kampus. Kulirik jam weker. Lima belas menit lagi jarum  jam menunjukan pukul delapan tepat.

Setelah berpakain seadanya, aku tergesa-gesa menuruni tangga, tidak memperdulikan sapaan tetangga kamar, bergegas memacu sepeda motor menuju ke tempat laudry langgananku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kos.

“Pong, mau ambil laundry.”

“Ya ampun, Cin. Baru aja buka. Eyke mau beres-beres dulu. Tunggu ye?”

“Aduh Pong! Aku nggak bisa nunggu. Buru-buru banget nih.”

“Ih rese deh. Ambil sendiri deh sana. awas yah jangan berantakan.”

Mataku berkeliaran mencari bungkusan baju berlabel namaku, Luky. Bajuku ada di loker paling atas. Setelah berhasil mengambil dan membayarnya, aku segera kembali ke kos. Berganti pakaian, berpacu dengan waktu. Kubuka plastik pembungkus baju, memilih yang akan kupakai. Ada yang ganjil, tidak ada satupun bajuku. Kukelurkan semuanya secara sembarang.

“Kok baju cowok?” aku bertanya pada diri sendiri dengan kesal. Aku kembali membaca nama pada label, benar, namanya Luky. Bagus, aku salah ambil. Ini pasti milik Luky berjenis kelamin laki-laki. Aku bangkit, meremas-remas rambut sambil mondar-mandir. Sementara jarum jam terus berdetak, membuatku semakin panik.

Waktu tidak memungkinkan untukku mengembalikan baju-baju itu sekarang ke laundry. Lagipula aku sudah terlanjur mengacak-acaknya. Aku masih mondar-mandir sambil menatap baju yang berserakan di atas tempat tidur. Ada satu yang mirip dengan baju perempuan, dan dugaannku benar, baju bermotif bunga-bunga itu memang baju perempuan. Tanpa pikir panjang, aku memakainya.

***

Seusai perkuliahan, aku pergi ke kantin bersama beberapa teman, memesan nasi uduk dan jus jambu. Sambil menunggu pesanan, kami berbincang-bincang. Dari kejauhan, mataku menangkap sesuatu yang tidak asing. Kaos yang dikenakan oleh lelaki berbadan jangkung itu berwarna putih dan bertuliskan huruf B. Persis seperti milik Beni. Aku yakin di dunia ini hanya dia pemilik kaos seperti itu, bagaimana tidak? Aku yang membuatnya bersama dia saat mengunjungi vestifal kaos lukis. Bercak-bercak warna di sekitar huruf merupakan bukti bahwa si pelukisnya masih amatir.

Lelaki itu semakin mendekat, menatapku tajam, kemudian melewati mejaku. Tidak salah lagi, itu adalah kaos milik Beni yang masih kusimpan. Aku menoleh ke tempatnya duduk, ternayat dia juga sedang menatapku. Setelah saling tatap beberapa saat, kami bangkit dari tempat duduk masing-masing, kemudian saling mendekat.

“Lepas baju itu sekarang!” kataku dan lelaki itu secara bersamaan.

Suasana lengang, pengunjung kantin yang mendengarnya menatap kami berdua. Begitu juga dengan teman-temanku. Aku menelan ludah, menatap sekitar. Kemudian lenganku ditarik oleh lelaki itu, keluar kantin.

“Kenapa kamu pakai dress itu?” tanyanya dengan tatapan menyelidik.

“kamu juga kenapa pakai kaos itu?” aku bertanya balik.

Kami saling diam, “Tunggu, kamu Luky?” tanyaku kemudian.

Kening lelaki itu berkerut, kemudian diacungkan jari telunjuknya ke mukaku, “Kamu cewek yang salah ambil laudry. Gara-gara kamu aku hampir telat ketemu dosen pembimbing skripsi.”

“Kamu cowok yang namanya ikut-ikutan namaku. Gara-gara kamu juga aku hampir telat masuk kuliahnya si dosen killer.”

“Gara-gara aku? Kamu yang salah ambil.”

“Kamu yang namanya ikut-ikutan aku!”

“Ribet ya ngomong sama cewek. Pokonya lepas dress itu secepatnya, aku nggak terima ada cewek lain selain dia yang pakai dress itu.”

“Aku juga nggak terima, ada cowok selain dia yang pakai kaos itu!”

“Lepas sekarang!” ucap kami bersamaan.

***

“Oke, aku lepas sekarang!” lelaki itu mulai melepas kaosnya. Aku berteriak sambil menutup mata dengan telapak tangan.

“Kenapa teriak?” tanyanya.

“Kamu porno banget ya, masa lepas baju di sini.”

Lelaki dihadapanku tertawa, aku mengintip lewat sela jari. Kaos itu masih melekat di badannya.

“Balikin baju-bajuku dan dress itu setelah kamu cuci bersih di laundry-an yang kemarin. Jangan kelamaan, besok harus udah dibalikin.”

“bajuku sama kaos itu juga. Besok ketemu di laundry-an.” 

“Oke. Jam empat tepat.”

Setelah berucap demikian, dia pergi. Punggungnya menghilang di tengah kerumunan. Teman-temanku memanggil, salah satu dari mereka menganggat sepiring nasi uduk dan jus jambu pesananku. Aku mendekat, kemudian dihujani pertanyaan tentang lelaki itu sebelum akhirnya menyantap pesananku.

“Jadi, nama kalian samaan?” tanya Leni.

“Iya gitu deh.”

“Wah, jangan-jangan jodoh.”

Aku melirik, kemudian memelototkan mata kepadanya. Yang dipelototi tertawa kecil sambil menutup mulut burung beonya itu.

***

Baju milik lelaki itu terkena air kencing kucing milik Ibu kos, aku lupa tidak mengunci kamar sebelum berangkat kuliah. Alhasil monster kecil itu kencing sembarangan di kamarku. Setelah berganti baju, aku segera pergi ke Ipong Laundry. Hari berikutnya, seperti kesepakatan, aku dan Luky bertemu di Ipong laundry untuk saling mengembalikan baju yang tertukar, kebetulan kuliahku libur. Dengan santai aku mengendarai sepeda motor, kemudian menepi ke Ipong Laundry. Seorang lelaki terlihat sedang berdebat kecil dengan Ipong, pemilik laundry yang sudah kukenal sejak lama.

“Pong,” sapaku.

Mereke berhenti berdebat, Ipong menyapaku, lelaki itu yang ternyata adalah Luky langsung memintaku menunjukkan struk pengambilan laundry.

“Buruan kasih lihat, biar bisa diambil baju-bajuku! Ini baju kamu.” Luky menyodorkannya.

“Iya, iya. Nggak sabaran amat jadi orang.”

Ipong mencari-cari bungkusan baju atas nama Luky. Cukup lama, lelaki itu terlihat gelisah, mengetukan jemarinya ke meja.

“Lama banget sih?”

“Duh, sabar cin. Tiba-tiba nama Luky jadi banyak binggo.”

Lelaki di sebelahku melirik ke jam tangannya, semakin gelisah, kemudian bangkit, “Eh Luky cewe, aku nggak bisa nunggu kelamaan. Aku harus pergi sekarang. Nanti kalau bajunya udah ketemu, kamu buruan nyusul aku ke taman kota.”

Belum sempat kujawab, dia pergi begitu saja, mengendarai sepeda motor matic. Menyebalkan.

“Loh, kemana Luky cowok? Ini bajunya udah ketemu, Cin.”

“Udah pergi dia. buru-buru katanya.”

Setelah membayar, aku pergi ke taman kota. Celingukan mencarinya sambil membawa sekantong plastik hitam berisi baju. Beberapa pengunjung menatapku, mungkin mereka bertanya-tanya apa yang kubawa. Kakiku mulai terasa pegal, berkeliling mencarinya. Kuputuskan untuk duduk terlebih dahulu, memebeli minuman dingin, meneguknya. Kembali kuedarkan pandangan mencari Luky. Dapat, dia sedang duduk tidak jauh dari tempatku saat ini, bersama seorang perempuan. Aku berlari kecil menghampiri mereka.

“Luky, ini bajunya.” Seruku sambil mengangakat kantong plastik di tangan kiri.

Mereka menoleh. Luky memberi isyarat agar aku mendekat. Sekarang aku, dia, dan perempuan itu duduk di satu kursi panjang.

“Sya, aku masih sayang sama kamu. buktinya, aku masih simpang dress yang aku beli buat kamu, Sya. Dress yang kamu balikin ke aku waktu kita putus. Kamu masih ingat kan?”

Aku terdiam, sambil sedikit menguping obrolan Luky dengan permpuan itu. sebenarnya tanpa menguping pun aku dapat dengan jelas mendengarnya. Luky menyikut lenganku beberapa kali, “Eh Luky cewek, mana dressnya?” tanyanya lirih.

“Ada di dalam plastik ini.”

“Buruan keluarin.”

Kuacak-acak seisi plastik, mencari short dress bunga-bunga, kemudian menyerahkan kepadanya.

“Lihat, Sya. Ini dressnya, kamu masih ingat kan? Setiap minggu aku pasti bawa ke laundry-an walaupun nggak kotor. Aku masih jaga ini baik-baik, kayak aku jaga perasaanku ke kamu, Sya.”

Astaga, aku mual mendengar kata-kata gombal lelaki itu. Si perempuan masih terdiam.

“Sya?”

“Luky, itu Cuma baju. Bukan simbol cinta atau semacamnya. Nggak ada gunanya kamu masih simpan, apa lagi ngelaundry-nya setiap minggu. Nggak perlu, Luky. Mau kamu simpan sampai kapanpu, mau kamu laundry berapa kalipun, aku nggak akan bisa balik ke kamu.”

Sekrang Luky yang diam, menunduk sambil memegang short dress bunga-bunga.

“Luky, aku harap kamu paham.” Ucap Si perempuan.

“Kenapa kamu tinggalin aku, Sya? Kenapa kamu lebih pilih lelaki lain?” Luky bertanya dengan suara parau setelah beberapa saat terdiam, jemarinya meremas short dress bunga-bunga di tangannya.

Rasa mualku hilang, sekarang aku seperti sedang menyaksikan pertunjukkan drama tentang cinta.

“Luky, kamu itu nggak punya cita-cita. Arah tujuan hidup kamu nggak jelas. Aku nggak suka lelaki yang nggak punya target dalam hidupnya. Sedangkan dia, lelaki yang aku pilih, dia punya cita-cita, arah tujuan hidupnya jelas. Kamu banyak omong ini itu, tapi kosong. Not action, talk only.”

Si perempuan bangkit, melangkah pergi, tanpa ada raut bersalah di wajahnya. Sementara Luky masih tertunduk. Lengang. Kutawarkan minum kepadanya, tapi dia menolak. Hening.

“Kamu ditinggalin seseorang karena nggak punya cita-cita, sedangkan aku ditinggalin seseorang karena dia ingin mengejar cita-citanya. Hidup terkadang lucu ya?” aku mulai membuka bercakapan, berharap keheningan itu pecah. Luky menghela nafas, kemudian meneguk sebotol minuman dingin yang tadi ditolaknya.

Luky tersenyum kecut, matanya menatap lurus ke depan.

“Iya, lucu.”

“Eh, tapi ada benarnya juga apa yang dibilang cewek tadi. Buat apa kamu masih simpan dress itu. aku jadi ingat kaos yang kemarin kamu pakai. Kaos itu milik, Beni, mantanku. Sampai sekrang aku juga masih simpan baik-baik kaosnya dengan harapan dia bakalan balik suatu saat nanti, dan aku akan kasih lihat kaos itu sebagai bukti kesetiaanku.”

“Masih mau simpan kaosnya?”

Aku menggeleng, tersenyum, “Nggak.”

“Sekarang dimana kaosnya?”

“Ada di motor.”

“Yuk, ambil.”

Aku dan Luky pergi ke parkiran, mengambil kaos milik Beni. Kemudian dia mengajakku pergi, entah kemana. Aku hanya mengikuti di belakang. Setelah lima belas menit, dia berbelok ke gang, kemudian berhenti di depan sebuah rumah.

“Ini kosku. Masuk aja. Naik ke atap lantai dua. Tunggu di sana. aku mau ambil sesuatu.” Katanya.

Aku menaiki tangga menuju ke atap lantai dua. Tidak lama kemudian, Luky datang membawa sebuah tong sampah yang terbuat dari besi.

“Masukin kaosnya.”

“Mau dibakar?”

“Iya.”

Kumasukkan kaos milik Beni, Luky juga memasukkan short dress milik si perempuan itu, membakarnya.

“Jadi, setelah ini apa?” tanyaku.

“Kamu punya cita-cita?” dia balik bertanya.

“Punya sih, tapi..”

“Luky cewek, tadi kamu bilang aku ditinggalin karena nggak punya cita-cita, dan kamu ditinggalin karena dia mau ngejar cita-citanya. Jadi, sekarang aku harus punya cita-cita, dan kamu harus kejar cita-citamu, bukan untuk mereka, tapi untuk kebaikan diri kita sendiri.”

Aku tersenyum mencerna kata-katanya. Orang yang patah hati terkadang menjadi sangat bijak. Setelah sepakat dengan hal apa yang akan kami lakukan masing-masing, aku dan Luky berpisah di senja yang masih orange. Kami sering bertemu di Laundry secara tidak sengaja. Ya, kami memang memutuskan untuk tidak saling bertukar nomer ponsel, berteman secara intens, atau menyengaja bertemu. biarkan waktu yang mempertemukan dan memberikan kami ruang untuk saling bercerita tentang kesepakatan di senja kala itu.



0 Comments