Tumbuh



Sumber gambar: pixabay


Selain perkataan Ibunya, Kalu juga menuruti apa yang pacarnya katakan. Jika hari itu pacarnya bilang jangan makan mie, Kalu tidak akan makan mie. Walaupun, bisa saja Kalu berbohong kepada pacarnya, lagi pula mereka tidak tinggal di rumah yang sama. Sejauh ini, apa yang pacarnya katakan adalah hal-hal baik.

“Nggak usah antar aku latihan basket ya. Soalnya teman-temanku hari ini diantar sama pacarnya. Mereka ganteng-ganteng.”

“Oke, Iyut.”

Shila, begitu pacar Kalu biasa dipanggil oleh kebanyakan orang. Tentu Kalu punya panggilan sayang sendiri, Iyut. Sedikit menggelikan. Tapi panggilan sayang itu sudah ada sejak mereka pacaran, 4 tahun lalu. Tepatnya, saat mereka berdua masih SMA. Sekarang, Kalu dan Shila kuliah di kampus yang sama, satu fakultas tapi berbeda jurusan. Mereka semester 3.

Kegiatan sehari-hari Kalu dan Shila sangat berbeda, walaupun sama-sama mahasiswa. 

“Iyut, dimana?”

“Lagi nongkrong di kafe.”

“Aku masih di perpustakan. Habis ini mau makan di warung Bu Dikin. Kamu mau aku beliin kerupuk udang?”

“Nggak usah. Ini aku malah lagi makan udang utuh, fresh juga.”

Meski terkesan dingin, Shila adalah satu-satunya orang yang perkataannya tidak pernah membuat Kalu tersinggung. Setidaknya, sampai detik ini. Dan, bagi Shila, meski Kalu jauh dari kata tampan, dia adalah satu-satunya pacar yang tidak tersinggung dengan ucapannya. Shila pernah putus dengan pacar sebelumnya karena hal yang kecil.

“Mata kamu kecil. Sempit gitu.”

Shila bukannya mempermasalahkan fisik, hanya saja dia gemar mengomentari banyak hal dan terlalu blak-blakan. Termasuk mengomentari tulisan Kalu yang akan dikirim ke website. Setiap minggu, setidaknya tiga kali, Kalu mengirim tulisan ke website milik kakak kelasnya, Mas Edo. Dari tulisan itu, Kalu mendapatkan bayaran yang uangnya bisa untuk makan di kafe bersama Shila.

“Kal, kamu pesan apa?”

“Es teh aja. Iyut mau apa?”

“Aku, udang ya?”

Kalu mengangguk. Keren sekali rasanya bisa mentraktir Shila makan udang di kafe. Sementara dia, minum es teh yang gelasnya tidak lebih berat dari gelas es teh di warung Bu Dikin. Setelah makan, mereka tidak langsung pulang. Uang hasil menulis akan kurang maksimal kegunaannya jika hanya untuk makan di kafe tanpa berlama-lama menikmati fasilitas wifi. 

Kalu bertukar tempat duduk dengan Shila agar lebih mudah menjangkau stop kontak. Dia menghidupkan laptop dan mulai menulis. Sejak semalam, tulisannya belum bertambah, masih setengah halaman. 

“Udah dibilangin, jangan nulis horor. Kamu tuh nggak bisa. Ke kamar mandi malam-malam aja telfon aku buat nemenin biar ada suara. Ini sok-sok an mau nulis horor. Buntu kan?”

“Pengin yang beda aja gitu, Yut.”

“Udah. Kamu itu cocoknya nulis romance. Apalagi kalau sad ending. Lagian, cocok sama muka kamu.”

Dip. Layar laptop Kalu gelap. Kalu mengelapnya. Wajahnya yang sendu dari lahir, terlihat jelas di layar. Dia memandangi wajahnya sendiri selama beberapa detik, kemudian menoleh ke Shila.

Kenapa, Kal? Dapat inspirasi?”

“Bukan. Kamu cabut charger laptopku, jadinya mati deh. Aku kan mau nulis.”

Kalu mengurungkan niatnya untuk menulis cerita horor. Sore yang mendung ketika mereka pulang dari kafe. Sebentar lagi, Kalu akan mendapatkan jasa cuci motor gratis. Lumayan, sudah dua minggu Kalu belum mencuci motornya. Setidaknya kali ini motornya diguyur air. 

Shila tidak pernah keberatan jika harus hujan-hujanan. Bahkan, jas hujan yang hanya ada satu itu dengan suka rela dia minta dipakai Kalu saja. Karena terakhir kali Kalu hujan-hujannya, dia demam tinggi hingga sakit berhari-hari. 

“Nanti seperti biasa sebelum dikirim, aku baca dulu tulisan kamu ya Kal. Jangan lupa, loh!”

Shila berbicara setengah berteriak. Suaranya bersahutan dengan hujan. Kalu mengangguk meski tidak terlalu mendengar apa yang Shila ucapkan. Kalu mengantar Shila pulang ke kos, kemudian pulang ke rumah tantenya yang tidak terlalu jauh dari kampus. Disanalah Kalu tinggal. Lumayan irit, dari pada ngekos.

Selesai dengan urusan membersihkan badan, Kalu kembali menyalakan laptopnya. Dia ingin bisa menulis cerpen horor. Tapi Shila bilang, dirinya tidak cocok dengan genre tulisan itu. Kalu membaca kembali pesan dari Mas Edo. Beberapa hari lalu, Kalu ditanya tentang cerpen horor.

“Kal, kalau nulis cerpen horor bisa nggak kamu? Soalnya di tetangga sebelah lagi rame tulisan itu. apalagi sejak ada kejadian isu penampakan kuntilanak di kampus kita. Tapi misal kamu nggak bisa, nggak apa-apa Kal. Jangan dipaksain.”

Kalu memang ingin mencoba menulis genre lain, termasuk horor. Selama ini, banyak orang menganggapnya spesialis cerpen romance. Kali ini, dia ingin membuktikan kepada orang-orang, kalau dia bisa menulis cerpen horor. Malam itu, Kalu lembur menulis. Meski sedikit takut saat akan ke kamar kecil, Kalu berhasil tidak menelfon Shila untuk minta ditemani.

Selesai. Dengan sumringah Kalu mengirim email ke Mas Edo. Selang satu jam, hapenya berdering.

“Kal, itu kamu yang nulis?” tanya suara di seberang sana.

“Iya, gimana Mas? Misal nggak cocok, aku ada kok cerpen yang seperti biasanya, romance.”

“Cocok kok. Aku muat aja ya sambil liat gimana respon pembaca.”

Lega, Kalu segera tidur. Besok jadwal kuliah yang padat sudah menanti. 

Di kelas, Kalu mendapat beberapa pujian dari temannya tentang cerpen horor pertamanya. Maklum, website yang dia isi memang cukup dikenal di fakultasnya, terlebih si pemiliknya ganteng dan popular di kalangan mahasiswi. Untuk seseorang yang baru pertama kali menulis cerpen horor, Kalu senang atas pujian itu. Dia semakin tertantang untuk kembali menulis cerita horor yang lebih baik.

Kelas pertama selesai, Kalu bergegas ke perpustakaan untuk menikmati koneksi wifi yang stabil. Shila datang, menunda langkah Kalu. Shila menanyakan tentang cerita horor yang Kalu tulis. Kalu tidak sabar menceritakan kepada Shila tentang respon para pembaca. Mulutnya hampir terbuka, tapi Shila mendahuluinya.

“Kenapa nggak dikirim ke aku dulu? Biasanya kan gitu, selalu! Kamu kirim tulisan itu ke aku sebelum dikirim ke bos kamu itu. Udah ngerasa jago? Udah nggak perlu minta saran dari aku?”

Semalam, Kalu lupa melakukan hal yang selalu dia lakukan. Dia terlalu bersemangat.

“Maaf, Iyut. Aku semalam langsung kirim ke Mas Edo. Terus kata dia oke. Kita coba terbitin. Aku pikir ya memang sudah oke.”

“Tapi itu bukan kamu Kal. Kamu cocoknya nulis romance. Nggak peduli apa yang lagi populer di kampus kita, kuntilanak kek, sundel bolong kek, tuyul, apa pun itu. Lagian cerita horor kamu itu nggak jelas.”

“Tapi mas Edo bilang ok. Teman-teman aku yang baca juga pada kasih pujian, Yut.”

“Terus kamu jadi merasa jago gitu nulis horor?”

“Yut, bos aku mas Edo ya. Bukan kamu. Kenapa kamu yang jadi ngatur konten sih?”

Mereka saling diam sepersekian detik. Sampai akhirnya Shila pergi lebih dulu meninggalkan ruang kelas Kalu. Beberapa mahasiswa yang masih berada di kelas memandang ke arah Kalu. Wajah sendu lelaki itu, kali ini marah. Kalu tidak habis pikir jika Shila begitu mempermasalahkan cerpennya. Padahal, Kalu berharap kekasihnya itu memberikan apresiasi atas cerpen horor pertamanya. 

Dua hari Shila tidak mengubungi Kalu, begitu pun sebaliknya. Kalu semakin menikmati pengalamannya menulis cerpen diluar genre yang dikuasainya sejak lama. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Mas Edo, nongkrong di gazebo depan fakultas. Tentu saja, banyak perempuan yang dengan sengaja mendekati Mas Edo, sementara Kalu berkali-kali menggaruk kaki karena yang mendekatinya adalah semut. Biasanya, Shila datang sekadar bertanya sedang nulis apa atau mengerjakan apa dan meletakkan infused water di dekat Kalu.

“Dihabisin ya.” Setelah itu pergi sambil ketawa ketiwi dengan teman-temannya.  

Kalu menatap layar hapenya. Foto Shila terpampang jutek disana. Tapi tetap cantik. Terbersit untuk menghubungi Shila dan meminta maaf lebih dulu. Kalu mengurungkan niatnya. Lebih baik memintaa maaf secara langsung. Kalu mencari waktu yang tepat.

Malam hari pukul 7, Kalu datang ke kos Shila. Biasanya, Shila sedang duduk di teras sambil bermain gitar. Tapi kali ini, dia tidak ada. Ibu kosnya bilang, Shila pergi dengan teman lelakinya. Kalu mencoba mengubungi Shila, tapi tidak bisa. Pikirannya melayang-layang.

Pagi hari sebelum berangkat ke kampus, Kalu mencoba menghubungi Shila. Hasilnya nihil. Kalu ingin datang ke kelas Shila, tapi dia tidak tahu jadwal kuliah kekasihnya itu. Lain halnya dengan Shila, dia selalu punya jadwal kuliah Kalu setiap semesternya. Kalu ingin bertanya pada teman Shila, tapi dia sama sekali tidak hafal satu pun wajahnya. 

Kalu berjalan di koridor dengan lesu. Mata kuliahnya diundur 2 jam lagi. Padahal dia sudah berusaha bangun pagi setelah semalam tidak bisa tidur memikirkan Shila.

“Hai Kal, gimana cerpennya? Udah jadi?” Mas Edo membuyarkan lamunannya.

“Nanti malam aku kirim Mas.”

Sebenarnya, Kalu sudah kehabiskan ide cerpen horor. Dia tidak tahu apa yang lagi yang harus ditulisnya, buntu. 

“Oke. Sibuk nggak?”

“Nggak si Mas.”

“Kebetulan aku lagi diskusi kecil-kecilan di kelas yang itu tuh. Gabung aja. Aku mau ke kamar mandi dulu sebentar.”

Kalu mengiyakan. Kemudian berjalan menuju kelas yang dimaksud oleh Mas Edo.

Eh, cerpennya Kalu yang horor itu ngebosenin nggak si? Gampang ditebak gitu.” 

Suara di dalam kelas menghentikan langkah Kalu. Dia memasang pendengarannya dengan baik. 

“Iya setuju banget.” Suara perempuan lain mengiyakan.

“Ah tapi aku tetep baca, like, komen aja gitu. Itung-itung mendukung websitenya Mas Edo.” Timpal yang lainnya

“Kalau aku sih nggak baca. Langsung komen KEREN, gitu aja.” 

Setelah itu, mereka tertawa, Kalu menelan ludah. Dia buru-buru pergi sebelum Mas Edo kembali dan mengajaknya masuk. Kalu menuju ke parkiran. Lalu mengendarai sepeda motornya tanpa tujuan. Baginya, perkataan mahasiswi tadi adalah salah satu jenis patah hati. Cerpen yang susah payah dia tulis, ternyata tidak sebaik yang dia kira. Orang-orang tidak menghargai karyanya, mereka hanya kagum kepada Mas Edo. 

Patah hati yang demikian, belum pernah Kalu rasakan selama dia menulis cerpen romance. Tidak pernah ada yang salah. Temannya bahkan sering mengajak Kalu berbincang tentang tokoh dalam cerpennya. Bukan sekadar bilang keren, bagus, oke. Beberapa teman perempuannya bahkan berharap jika tokoh itu hidup di dunia nyata. 

Kalu masih mengendarai sepeda motornya. Pikirannya tentang cerpen dan Shila bergantian mengusik kosentrasinya berkendara. Kalu memutuskan untuk datang ke kos Shila. Dia melihat Shila sudah berpakaian rapi. Shila masuk lagi ke kos dengan muka panik. Tidak lama kemudian, Shila keluar, masih dengan kepanikannya.

"Iyut.” Sapa Kalu 

“Kal, aku buru-buru. Udah telat.”

“Aku minta maaf.”

“Kal, A-KU U-DAH TE-LAT.”

“Kamu bener Yut. Aku nggak perlu maksain nulis cerpen horor.” 

Shila menghela napas kesal. Tapi Shila merasa harus mendengarkan Kalu.

“Cerpen horor aku jelek Yut. Mereka nggak bener-bener suka, bahkan ada yang sama sekali nggak baca. Mereka Cuma peduli sama Mas Edo, bukan apa yang aku tulis.” Lanjut Kalu.

“Aku akan nurut lagi apa kata kamu Yut, seperti biasanya.” Tutup Kalu, lirih.

“Nggak harus, Kal.”

“Kenapa?”

“Bagi aku hubungan ini nggak sehat. Kalau kamu selalu nurut apa kata aku.”

“Tapi apa yang kamu bilang selalu bener, Yut.”

“Nggak. Kalau waktu itu kamu nurut sama aku, kamu nggak mungkin dapat pelajaran dari kejadian ini kan? Kamu nggak tahu gimana rasanya kecewa ketika karya kamu disepelakan orang. Kamu nggak bakalan jadi lebih kuat Kal. Kamu cuma berada di zona nyaman yang tanpa kritikan. Dimana orang-orang suka sama cerpen romance kamu.”

Kalu dan Shila terdiam. Menyelami pikiran masing-masing. Shila melihat jam di tangannya. Sudah sangat telat untuk berangkat ke kampus.

“Kal, selama ini aku pikir aku adalah orang yang tahu segala hal  yang terbaik buat kamu. Ternyata aku salah. Kamu harus lebih berani lagi Kal untuk ikutin apa kata hati kamu. Aku nggak mau, gara-gara aku, kamu tumbuh tapi kerdil.”

“Kaya bonsai maksud kamu?”

“Aku nggak becanda Kal.”

“Aku mau tumbuh sama kamu. Boleh aku nurutin kata-katamu yang sesuai sama kata hatiku? Selebihnya, kita belajar bareng biar bisa tumbuh lebih baik lagi. Tumbuh jadi dua orang yang berbeda untuk melengkapi satu sama lain.”

Shila tersenyum, kemudian tertawa.

“Sumpah ya geli diperlakukan kaya cewe-cewe di cerpen kamu. Dah yuk ah jalan-jalan ngabisin bensin.” Shila menarik tangan Kalu.

“Katanya kamu mau kuliah?”

“Udah telat banget.”

Shila dan Kalu mampir ke warung Bu Dikin, membeli kerupuk udang. Kemudian mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol sambil menikmati kerupuk. Mereka memilih pergi ke taman kota. Duduk di tempat yang teduh.

“Iyut, kayaknya aku bakalan lebih jarang ngajak kamu makan udang di kafe.”

“Kenapa?”

“Aku nggak gajian lagi dari Mas Edo. Mau bikin blog sendiri aja.”

“Selamat bertumbuh, Kal.”








2 Comments