Antara Lethe dan Mnemosyne

Antara Lethe dan Mnemosyne
www.theoi.com

Kurang ajar benar lelaki itu, datang memikat hati, kemudian pergi meninggalkan luka. Hebatnya dia masih saja bisa membuatku tidak bisa lupa. Memang penjahat hati kelas kakap dia itu. Aku berkali-kali berjanji kepada diriku sendiri, jika dia datang, mengetuk pintu hatiku lagi, maka berpaling dan mengacuhkannya adalah pilihan terbaik. Tapi ternayat diri ini tertalu mudah mengingkarai janji, tersebab lelaki itu. Padahal atas semua yang dia lakukan, aku bisa saja bersikap lebih jahat atau bahkan melupakan dia selama-lamanya.

Sebenarnya hakikat perempuan itu memilih atau dipilih? Lelaki itu telah memilihku, dan berarti bahwa aku telah dipilih. Dia yang datang mendekatiku, memberi kesan perkenalan yang lekat, pertemanan yang akrab dan hangat, sampai akhirnya bermuara pada rasa yang orang sebut cinta. Tapi, lelaki itu tidak hanya memilihku, dia juga memlih perempuan lain setelah satu tahun hubungan kita, dan aku juga dipilih lagi olehnya untuk ke duakali, dipilih sebagai perempuan yang pantas ditinggalkan dengan alasan yang tidak bisa kuterima.

“Kamu baik, Aira. Bahkan kamu terllau baik untukku. Maaf, kita cukup sampai di sini. Semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dariku” begitu yang dikatakan Trian di stasiun, saat aku dengan semangat yang menggebu-gebu menjemput kepulangannya ke kota ini. Kupikir dia tidak akan mengatakannya secepat itu, setidaknya menunggu bibirku selesai mengembangkan senyum terbaik untuk menyambut kekasihn yang sudah dua bulan pergi bertugas di luar kota.

Dia memilih pergi karena aku ini baik, bahkan terlalau baik, begitu menurutnya tanpa meminta pendapat atau persetujuanku. Perlahan senyumku memudar seketika, masih belum percaya dnegan apa yang diucapkan Trian. Di stasiun, malam itu pukul sembilan, dia pergi meninggalkan aku yang terpatut menatap rel kereta sambil menahan air mata selama beberapa menit. Setelah itu aku berlari mengejar langkah panjang Trian. Dia lebih dulu mendapatkan taksi sebelum aku berhasil mengejarnya.

Aku tertawa geli, sungguhkah aku masih ingat dengan baik kejadian dua tahun lalu? Kunikmati pisang keju yang barusan kubeli sebelum pergi bersepeda ke stasiun malam-malam begini. sejak kejadian itu, aku malas masuk ke stasiun. Lebih baik menatapnya dari atas jembatan. Bahkan aku rela pergi ke luar kota menggunakan bus hanya agar bisa melupakan Trian. Aku rela menahan rasa ingin muntahku berjam-jam lamanya. Aku menghela nafas, menatap kereta yang melintas.

“Permisi.”

Aku menoleh, seorang lelaki dengan tas ransel besar sudah berdiri di belakangku, sepertinya dia adalah backpacker. Tapi memangnya ada backpacker bepergian naik kereta? entahlah. Anggap saja dia backpacker.

“Iya.” Jawabku singkat.

“Yang jualan makanan, atau kopi di sebelah mana ya?”

Dahiku berkerut, kemudian menatap ke sekeliling. Bukankah penjual makanan berada beberapa meter dari stasiun? Di bawah jembatan yang saat ini sedang kududuki.

“Di bawah.”

Sekarang dahi lelaki itu yang berkerut.

“Bawah?”

“Iya, di bawah jemabatan ini.”

“Emh, aku mau pergi ke suatu tempat, tapi kebetulan harus transit dulu di stasiun ini. keretanya akan datang nanti  sekita pukul setengah sebelas. Perutku belum terisi sejak siang, jadi aku lapar. Mataku sudah sangat berat, jadi aku butuh minum kopi.”

“Jadi?”

“Kamu bisa temani aku ke bawah untuk makan?”

Suasana hati sedang tidak cerah, dan tiba-tiba dia muncul, sangat menganggu, bertanya dimana penjual makanan, menceritakan kisah kelaparan dan kengantukannya, kemudian memeintaku menemani. Sungguh aku tidak berminat sama sekali.

“Aku yakin kamu orang baik. Dan pasti mau menemaniku, orang yang sama sekali tidak tahu daerah sini.” Katanaya kemudian.

Iya, tentu aku orang baik. Dan karena kebaikanku itu pula Trian meninggalkanku begitu saja. Aku turun dari sepeda yang kunaiki, menuntunnya. “Ayo jalan.”

***
“Makan, Bu. Lauknya telor balado, sayurnya apa saja yang penting jangan pahit.” Lelaki itu memesan.

“Kamu mau pesan apa? Tanyanya kepadaku. Karena aku haus, jadi aku memesan es jeruk. “Malam-malam minum es?” dia kembali bertanya.

“kenapa memangnya?”

“Emg, tidak apa-apa.”

Beberapa menit kemudian pesanan datang, kami menikmatinya masing-masing. Setelah itu kupikir dia akan langsung pergi atau jika dia ingin tinggal setidaknya mengijinkanku untuk pergi terlebih dahulu.

“Namaku Almas. Kamu?” dia memperkenalkan diri tanpa kutanya.

“Aira.”

Dia mengangguk-angguk. Kemudian menatapku. Aku merasa risih, “Kenapa? Ada apa kamu menatapku seperti itu?”

“Seorang gadis duduk di jembatan sendirian, menatap stasiun dengan kalut. Kamu psti sedang ada masalah.”

Orang yang duduk di depanku itu mulai sok tahu, tapi hebat juga dia tahu bahwa aku sedang ada masalah, masalah dengan ingatanku tentang Trian.

“Klau sudah tahu aku ini seorang gadis yang sedang bermasalah, kenapa kamu malah datang mengganggu, minta ditemani makan segala.” Jawabku sewot.

Almas tertawa kecil, “Ya karean aku ingin menghiburmu dengan segelas es jeruk.”

“Ya kurasan es jeruk yang kuminum cukup lucu, mengibur.” Ucapku datar.

“Kalau begitu, berterimakasihlah.”

Aku berdiri, “Terimaksih, Almas.” Kemudian bergegas pergi.

“Hey, tunggu, Aira!”

Almas menyusul.

“Ada apa lagi?” tanyaku.

“Apa yang nantinya akan kamu ingat dariku setelah kita berpisah dan mungkin tidak akan bertemu lagi. Apakah aku adalah seorang menyebalkan yang sudah menganggu gadis di atas jembatan atau aku adalah seorang yang telah membelikanmu segelas es jeruk yang lucu dan menghibur itu?”

“Kamu orang menyebalkan yang menggangu seorang gadis di atas jembatan.”

Almas terenyum, “Kamu suka filsafat?”

“sama sekali tidak.”

“Di sebelah kiri rumah Hades akan kau temukan Mata air, dan di dekatnya tegaklah pohon cemara putih. Jangan kau dekati mata air ini. namun harus kau temui mata air lain di dekat danau ingatan, air sejuk memancar senantiasa, “ucap Almas sambil berjalan menyusuri trotor, tanpa sadar aku sedang mengikuti langkahnya, “Dan ada pengawal di mukanya, katakanlah: aku putera bumi dan langit (saja). Dan kau tahu siapa dirimu. Dan lihatlah aku sengasara dan akan binasa. Cepatlah beri aku air sejuk yang memancar dari danu ingatan. Dan dengan sukarela mereka akan mengizinkanmu minum dari mata air suci, dan sesudahnya kau akan berjaya di antara pahlawan lainnya.”

Aku melongo, apa yang barusan dia ucapkan? Tanyaku dalam hati.

“Ada pertanyaan?” Almas menengok, berhenti.

“Apa yang barusan kamu ucapkan panjang lebar itu?”

“Tulisan di prasasti Petelia.”

Aku diam, baru kali ini mendengar nama itu. Almas tertawa, “ Aku sudah tahu kamu baru mendengarnya. Tidak apa, kamu tidka suka filsafat, wajar saja tidak tahu tentang hal ini.”

Aku tersenyum kecut.

“Ada pertanyaan lagi. Untuk menyakinkanku bahwa kamu tidak suka filsafat.”

Aku bingung, “Emhh, apa nama mata air itu?” tanyaku dengan asal.

“Lethe dan Mnemosyne.” Almas kembali berjalan, diikuti aku dibelakangnya.” Lethe adalah lubuk yang airnya tidak boleh diminum oleh jiwa.”

“Kenapa?”

“Karena menyebabkan lupa.”

“Lalu kalau Mnemosyne?”

“Boleh diminum, karena dia membangkitkan ingatan”

Aku mengangguk-angguk.

“Lalu mana yang akan kamu minum, Aira?”

“Lethe.”

“Kenapa?”

“Karena dia menyebabkan lupa. Aku ingin benar-benar melupakan seseorang.”

“kenapa kamu ingin melupakannya?”

“Karena dia telah menyakitiku.”

“Selain menyakitimu, ada hal lain yang dia lakukan?”

“Tidak, dia hanya datang untuk menyakitiku.”

“Coba kamu pulang, ambil seebuah gelas, pikirkan air mana yang akan kamu minum setiap harinya.”

Setelah berucap demikian, Alam pergi menuju stasiun.

***

Berhari-hari aku hampir gila memikirkan ucpaan Almas, mungkin dia seorang filsuf backpacker. Aku duduk di meja dekat jendela di kamar, menatap gelas kosong di depanku. Memikirkan air apa yang akan kutuangkan dan menjadi minumanku sehari-hari. Lethe atau Mnemosyne?

Sebenarnya ucapanku malam itu salah. Trian tidka hanay menyakitiku, diapernah membuat hari-hariku indah, membuatku bersemangat, menginspirasi, ya dia pernah menjadi malaikatku.

Kuambil secarik kertas dan sebuah pena

Kepada Tuan Almas yang menurutku kamu adalah filsuf backpacker.

Terimakasih hampir membuatku gila dnegan ceritamu tentang isi prasasti Petelia yang entah kamu baca dari buku filsafat yang berjudul apa. Aku sudah tahu air dari mata air mana yang akan kuminum sehari hari, antara Lethe dan Mnemosyne. Aku akan meminum keduanya. Lethe agar aku lupa akan keburukan yang sudah Trian lakukan, dan Mnemosyne agar aku tetap ingat kebaikan yang sudah dia lakukan untukku. Aku tidak tahu, apakah meminum keduanya diperbolehkan atau tidak di dalam filsafat yang kamu pelajari itu.

Salam

Aira Raycia


Kulipat, kemudian memasukkannya ke dalam amplop. Segera aku bergegas mengambil sepeda, memacunya menuju jembatan dekat stasiun, meletakkan surat itu di tempat dimana aku dan Almas bertemu. barangkali dia datang lagi ke tempat ini dan menemukannya. jikapun tidak, ya tidak apa. Mungkin dia bisa membaca surat ini dari jarak jauh. Aku merasa lega, dan hari-hari selanjutnya aku telah berani masuk ke stasiun lagi bahkan naik kereta ke luar kota.

Oleh: Kutu Hati

0 Comments