Sumber gambar: hitecno.com
Menjadi admin akun instagram dengan konten yang lucu adalah pilihan terakhir Nino setelah ditinggal menikah oleh pacarnya, Mila. Pekerjaan Nino yang terbilang cukup banyak waktu luang membuat dia harus mencari kesibukan ekstra agar bisa melupakan mantannya. Lima tahun pacaran tentu bukan waktu yang sebentar. Kenangan manis dan pahit sudah terpatri di ingatannya.
Sebagaimana sebuah luka, lama kelamaan akan sembuh juga walaupun tidak sempurna. Setidaknya Nino bisa bernapas lega ketika tiba-tiba ingatan tentang Mila muncul. Nino tidak lagi merasakan sesak di dada. Tiga tahun usaha untuk melupakan Mila, tampaknya memang membuahkan hasil. Meskipun hingga saat ini Nino belum juga mendapatkan pacar baru.
Sebenarnya, wajah Nino lumayan ganteng. Tidak jarang banyak cewek pelanggan konter tempatnya bekerja meledek Nino.
“Lumayan good looking kok masih jomblo Mas Nino. Sama aku aja, mumpung suami lagi kerja luar kota.”
Nino tidak menggubris karena kebanyakan yang naksir adalah ibu-ibu muda yang kesepian. Di sela pekerjaan utamanya, Nino sibuk mengelola sosial media yang digawanginya. Setiap hari setidaknya ada 3 konten lucu yang dia unggah. Konten tersebut selalu berhasil membuatnya terhibur dan merasa dunianya sedang baik-baik saja.
Seperti biasa, setiap Selasa dan Kamis malam, Nino mengadakan sesi QnA maupun sharing. Topiknya beragam dan selalu berganti-ganti. Kamis malam kali ini adalah tentang hal konyol saat kencan pertama. Balasan dari para followers akan Nino bagikan di IG story tanpa mencantumkan nama akun mereka. Ini adalah sesi paling seru. Dari situlah Nino bisa menghibur diri. Kadang memang lebih baik membaca kisah orang dari pada membaca kisah sendiri.
“Kekonyolan saat kencan pertama versi aku nih min. Aku janjian di taman malam-malam. Aku sama doi milih duduk di bangku bawah pohon. Milih yang agak gelap soalnya. Haha. Lagi ngobrol sambil pegangan tangan, tiba-tiba doi kesurupan. Pengin punya pacar yang mukanya estetik eh dapetnya malah yang mistis begini. Sial!”
Nino jadi teringat mantan kekasihnya. Mila juga penuh dengan hal-hal mistis dan misterius. Dia tidak mau diajak jalan pada malam dan hari-hari tertentu karena katanya pantangan. Dalam hal memilih pacar, Mila juga sangat selektif. Ada kriteria tertentu yang Nino sendiri tidak tahu sampai saat ini.
“No, kamu yang terbaik. Aku seneng bisa kenal kamu. Kamu memenuhi semua kriteria. Jangan tanya kriterianya kayak apa. Kamu cukup bercermin dan lihat ada siapa di cermin itu.”
“Ada aku lah, Mil. Iya kan?”
Mila hanya tersenyum kala itu. Sampai saat ini, Nino belum pernah benar-benar bercermin. Nino takut kalau dirinya tidak seganteng yang dia kira. Nino tentu sangat bangga bisa dicintai oleh Mila yang cantik dan anak orang berada. Teman-temannya banyak yang tidak percaya dan mengira jika Mila diguna-guna oleh Nino.
“Permisi.”
Suara perempuan mengalihkan fokus Nino. Nino menoleh.
“Mas, mau beli kartu.”
Wajah perempuan itu tidak terlihat jelas karena memakai masker dan sibuk melihat-lihat kartu perdana di etalase. Rambutnya hitam panjang terurai. Nino kenal dengan bau parfumnya, wangi bebungaan yang menyengat.
“Mil....”
“Nino. Hai apa kabar?” Sapa mila sambil melepas masker.
“Baik, Mil. Kamu kapan kesini?
“Kemarin. Kebetulan lagi ada urusan.”
“Oh..Eh malah aku nggak tanya balik. Kamu gimana kabarnya? Emh, lebih tepatnya keluarga kecilmu bagaimana?”
“No, kartu yang ini dong satu.”
Mila mengalihkan pembicaraan. Nino mengambil kartu yang dimaksud Mila.
“Sekalian di registrasi ulang ya No. Aku bawa catetan no KK dan NIK nya kok.”
Nino mengangguk.
“Satu lagi, pulsanya sekalian.”
Setelah selesai, Mila langsung bergegas dengan wajah yang murung. Nino memandangi nomer telfon Mila yang tercatat di buku pembelian pulsa. Dia bermaksud untuk menghubungi Mila untuk menanyakan keadaannya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.
“Ah nanti dikira petrikor, pengganggu istri orang.” Gumamnya sambil menutup buku tersebut dan bersiap menutup konter.
Sepanjang perjalanan pulang, Nino terus memikirkan Mila. Tiga tahun perjuangan melupakan, sekarang terancam goyah karena pertemuan yang sebentar. Selama seminggu, Nino berhasil menahan hasratnya untuk mengubungi Mila. Tapi hari ini, dia gagal. Tanpa basa-basi Nino langsung mengirim pesan dan menanyakan perihal kemurungan Mila seminggu yang lalu.
Nino sudah bersiap diri jika yang membalas adalah suami Mila dan dia kena semprot. Jantungnya berdegub lebih kencang, matanya tajam menatap layar ponsel. Kluning! Mila membalas pesannya dan mengajak Nino bertemu. Kepalang senang, Nino mengiyakan tanpa pikir panjang.
Malam minggu mereka bertemu di tempat ngopi. Mila mengenakan dress putih. Rambutnya panjang terurai. Wajahnya masih muda. Tubuhnya masih ramping dan berisi. Nino yakin banyak orang mengira jika Mila masih single.
“Kamu mau aku pesankan kopi hitam, Mil?”
“Boleh.”
Malam itu, mereka berdua seperti pasangan muda mudi yang sedang dimabuk asmara. Cerita di atas meja kopi tidak sepahit kopi hitam tanpa gula pesanan Mila. Nino memegang tangan Mila. Dia lupa siapa yang sedang ia kencani malam ini.
“No, bagian manisnya udah aku ceritain. Sekarang pahitnya.” Ujar Mila lalu menyeruput kopinya.
“Oke aku siap dengerin, Mil.”
“Mungkin ini karma ya No karena aku udah ninggalin kamu tanpa alasan. Seratus tiga puluh hari setelah nikah sama Mas Ardit, aku hamil.”
“Eh bentar Mil” Nino menyela “Kenapa pakai kata seratus tiga puluh hari? Kan bisa gitu 3 bulan?”
“Biar lebih pasti aja. Kamu kan tau aku orangnya detail. Aku lanjutin ya. Anak aku lahir normal. Sayangnya, di usianya yang baru 13 hari, dia meninggal. Nggak ngerti kenapa. Meninggal begitu aja. Selang 13 bulan setelah setelah anak aku meninggal, Mas Ardit nyusul anak aku No.”
“Nyusul ke kuburan?”
“Iya maksud aku dia meninggal.”
Antara sedih dan senang, itu yang Nino rasakan setelah mendengar cerita Mila.
Setelah pertemuan malam itu, Nino dan Mila semakin dekat. Mila memustuskan untuk memperpanjang kunjungan ke rumah saudaranya demi bisa berlama-lama dengan Nino. Tidak butuh waktu lama untuk mereka kembali menjalin cinta. Nino membayar 3 tahun perjuangan melupakan Mila dengan cara menikahi janda muda itu.
“Maaf ya No. Nggak semewah dulu waktu aku nikah sama mas Ardit. Soalnya orang tuaku usahanya lagi bangkrut. Jadi nggak bisa nyumbang dana lebih.”
“Aku yang harusnya minta maaf Mil. Nggak bisa bikin resepsi yang mewah.”
“Tapi tenang aja, nanti pasti kita kaya kok.”
Nino tertawa. Bahan becandaan istrinya kali ini cukup membuatnya optimis jika suatu saat nanti mereka memang akan menjadi orang kaya.
Seminggu setelah menikah, Mila terlihat gelisah. Setiap kali ditanya, dia tidak mau menjawab. Nino tidak mau memaksa istrinya untuk bercerita. Baginya, Mila pasti akan bercerita jika sudah siap. Malam itu, seperti biasa Nino bekerja sampai pukul 9 malam. Sambil menunggu pembeli, dia kembali membuka sesi sharing di media sosial. Kamis malam kali ini tentang rahasia.
Nino membaca komentar dari followers satu per satu.
“Min, aku nggak tahu ini rahasia apa bukan. Aku sayang banget sama suamiku yang sekarang. Tapi aku terpaksa nyakitin dia. Kalau bisa memutar takdir, sejak awal aku lebih milih dia dari pada ayahku. Malam ini, mungkin malam terakhir aku lihat dia Min.”
Dahi Nino berkerut. Dia mengklik profil akun tersebut.
“Mila!” Nino terkejut. Nino mengusap wajahnya. Beruntung Nino belum menceritakan tentang pekerjaan sampingannya sebagai admin. Sehingga Mila tidak tahu jika dia sedang membuka rahasia kepada suaminya.
Hati pengantin baru itu resah. Dia izin pulang cepat. Sesampainya di rumah, istrinya tidak ada. Nino berdiri di depan cermin di kamarnya. Kali ini, dia benar-benar bercermin. Nino memandangi pantulan dirinya. Hanya ada dia. Dia yang menyayangi Mila dengan baik.
“Harusnya kamu cuma lihat aku Mil. Nggak ada orang lain di cermin. Cuma aku. Emang ada yang lebih berharga dari aku? Orang yang kata kamu terbaik?” Nino bicara sendiri.
“No.” Mila muncul dari balik horden.
“Mil. Malam ini kamu mau pergi? Salah aku apa Mil?”
“Nino maaf. Harus kaya gini cara aku ngasih tau ke kamu. Aku tahu kamu admin akun itu kok. Makanya aku tulis pesan itu buat kamu. Aku cuma bisa sampaikan lewat tulisan. Aku nggak sanggup kalau ngomong langsung.”
“Kamu mau pergi kemana?” tanya Nino lagi, matanya berair.
“Bukan aku yang pergi, No. Tapi kamu.”
Nino kembali menatap cermin, dia tidak sendirian. Itu adalah hal terakhir yang dia lihat sebelum dia pergi untuk selamanya.
Mila berjalan ke arah meja rias. Mengambil standing calender lalu menyilang sebuah tanggal menggunakan spidol merah.
“Tiga belas November 2020, Nino.” ucapnya lirih.



0 Comments