
soflen.com
Aku mencoba mengubur dalam-dalam rindu ini. Dan, bertekad tidak akan menziarahi makam sunyi kita lagi. Akan kupangkas ranting-ranting rasa yang kian tumbuh, agar tidak menjelma pohon rindang yang meneduhkan, menyembunyikan kenangan dari teriknya sang surya. Biar, biar semuanya terbakar, habis, hanguspun tidak apa. Aku cukup tahu diri, pernyataanmu sudah jelas.
“Jangan pernah diingat lagi. Jangan pernah dirasakan lagi, Na. Aku minta maaf.”
***
Masa-masa sulit itu telah kulewati dengan susah payah. Mengumpulkan lagi serpihan hati yang terberai di setiap episode kisah kita. Merangkainya menjadi hati yang berbentuk lain. Tidak akan sesempurna dulu, aku tahu itu. Tapi bagaimanapun juga, ini adalah satu-satunya hati yang kupunya, meski ia tidak lagi sempurna, semoga akan ada seseorang yang menyempurnakannya.
“Rena, even antologi puisimu bertema Rasa Dalam Dusta udah di ACC sama bos. Kapan mau eksekusi?” Oliv nongol dibalik bilik meja kerjaku sambil mengunyah permen karet.
“Secepatnya.” Jawabku singkat. Mataku tersita pada layar monitor, sedang sibuk mengirim e-sertifikat bagi para pemenang dan kontributor lomba cerpen. Mataku terbelalak ketika membaca sebuah nama yang tidak asing, pemenang pertama lomba cerpen kemarin bernama Meru Wicaksana . Ada sedikit nyeri di dadaku. Aku menggeleng, mengusir segala prasangka bahwa serifikat yang kukirim atas nama Meru Wicaksana adalah orang yang sama di masa lalu.
“Na, ada apa?” tiba-tiba saja Oliv sudah berada di dekatku, ikut memandangi monitor kerjaku.
“Meru, liv.” Jawabku lirih.
“Meru yang itu?”
“Entahlah. Aku harap bukan dia.”
Segera kukirim e-sertifikat ke alamat email yang tertera di data yang kupunya, kurasa dia bukan Meru yang kumaksud, alamat emailnya lain. Oliv telah menawarkan sejak awal agar aku mengecek biodata atas nama Meru Wicaksana. Aku menolak dengan alasan lebih baik tidak mencari tahu apapun lagi tentang dia, agar aku bisa tenang. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Rasa penasaran terus membayangiku hingga berhari-hari.
“Liv, kayaknya aku harus cek biodata atas nama Meru Wicaksana, deh.”
“Penasaran juga kan akhirnya.” Ledeknya.
Aku hanya ingin memastikan. Setelah itu, ya sudah. Selesai. Tidak ada apa-apa. Hari-hariku akan berjalan seperti biasanya. Tepat setelah aku sampai di kos, mandi, kemudian merebahkan badan di kasur, biodata atas nama Meru kuterima via email dari Oliv.
Betapa tidak percayanya aku dengan apa yang kubaca. Dia adalah Meru yang mati-matian kucoba lupakan. Setelah dua tahun tidak ada kabar, karena semua akses sosial media sudah kublokir, mengganti nomer telfon, dan pindah kota, sekarang dia muncul lagi. Wajahnya bahkan terpampang jelas memenuhi layar handphoneku. Senyumnya, ah! Selesai, tidak ada apa-apa. Iya, tidak ada apa-apa. Segera kubenamkan mata dibalik selimut.
***
“Rena, ada penulis baru yang mau pakai jasa penerbitan kita. Dia pilih kamu jadi editornya. Lima menit lagi kamu ke ruangan saya.” Kata Pak Dion, bosku, sambil berlalu melewati bilik kerjaku, dia terlihat sibuk membolak-balik map di tangannya.
Lima menit berlalau menurut perhitungan jam tanganku. Aku segera menuju ke ruangan Pak Dion. “Naskahnya masih di pegang penulisnya, Rena. Dia meminta bertemu langsung denganmu. Katanya ada beberapa hal yang akan disampaikan.”
Aku mengiyakan saja. Ini bukan pertama kalinya klien meminta bertemu secara langsung. Pak Dion memberikan alamat sebuah cafe yang dipilih oleh penulis itu sebagai tempat pertemuan kami. Pukul tujuh malam lebih sedikit, aku sudah duduk di meja nomer 17, menunggu penulis itu yang sama sekali belum kutahu namanya.
“Selamat malam, Rena Hakim.” Sebuket mawar putih diletakkan di meja oleh seorang lelaki. Aku menoleh.
“Kamu? Kalau tahu penulis itu adalah kamu, aku akan menolak pekerjaan ini!” aku beranjak meninggalkan meja. Meru menyusulku keluar cafe. Sialnya, tidak ada taksi yang melintas. Aku gagal pergi secepat mungkin dari hadapannya.
“Ren, Rena. Dengar, aku minta maaf.” Dia menarik lenganku ketika aku hendak menyeberang. Aku diam, memperhatikan lalu-lalang kendaraan di depanku.
“Rena, aku rasa kita perlu bicara. Bisa kita masuk lagi? Sebentar, aku mohon.”
***
Aku dan Meru duduk berhadapan di meja nomer 17. Tidak sekalipun aku menatapnya.
“Rena, aku minta maaf soal pertemuan kita yang terakhir kali, dua tahun silam. Aku menyesal. Sungguh. Dua tahun aku cari kamu, Na. Aku seperti orang gila. Teman, keluargamu, semua bungkam ketika aku datang menanyakan keberadaanmu. Aku tersiksa, Na. Beri aku kesempatan lagi, Na. Please. Kita mulai dari awal.”
Semua yang keluar dari mulutnya tidak boleh meruntuhkan benteng yang telah kubangun selama ini. tidak akan kubiarkan dia menghancurkan hatiku lagi. Tidak akan. Aku memelih tidak banyak bicara, “Maaf, aku tidak bisa.” Itu saja yang keluar dari mulutku.
Dengan mantap aku bangkit, meninggalkannya yang terpatut, memegang sebuket mawar putih. Dua tahun yang lalu adalah pelajaran untukku. Semuanya sudah terjadi, tidak apa aku pernah memberikan hati kepada orang yang pandai mematahkannya, tapi aku punya lem terkuat untuk menyatukannya kembali, menjadi sebentuk hati yang lain.
“Jangan pernah diingat lagi. Jangan pernah dirasakan lagi, Na. Aku minta maaf.”
***
Masa-masa sulit itu telah kulewati dengan susah payah. Mengumpulkan lagi serpihan hati yang terberai di setiap episode kisah kita. Merangkainya menjadi hati yang berbentuk lain. Tidak akan sesempurna dulu, aku tahu itu. Tapi bagaimanapun juga, ini adalah satu-satunya hati yang kupunya, meski ia tidak lagi sempurna, semoga akan ada seseorang yang menyempurnakannya.
“Rena, even antologi puisimu bertema Rasa Dalam Dusta udah di ACC sama bos. Kapan mau eksekusi?” Oliv nongol dibalik bilik meja kerjaku sambil mengunyah permen karet.
“Secepatnya.” Jawabku singkat. Mataku tersita pada layar monitor, sedang sibuk mengirim e-sertifikat bagi para pemenang dan kontributor lomba cerpen. Mataku terbelalak ketika membaca sebuah nama yang tidak asing, pemenang pertama lomba cerpen kemarin bernama Meru Wicaksana . Ada sedikit nyeri di dadaku. Aku menggeleng, mengusir segala prasangka bahwa serifikat yang kukirim atas nama Meru Wicaksana adalah orang yang sama di masa lalu.
“Na, ada apa?” tiba-tiba saja Oliv sudah berada di dekatku, ikut memandangi monitor kerjaku.
“Meru, liv.” Jawabku lirih.
“Meru yang itu?”
“Entahlah. Aku harap bukan dia.”
Segera kukirim e-sertifikat ke alamat email yang tertera di data yang kupunya, kurasa dia bukan Meru yang kumaksud, alamat emailnya lain. Oliv telah menawarkan sejak awal agar aku mengecek biodata atas nama Meru Wicaksana. Aku menolak dengan alasan lebih baik tidak mencari tahu apapun lagi tentang dia, agar aku bisa tenang. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Rasa penasaran terus membayangiku hingga berhari-hari.
“Liv, kayaknya aku harus cek biodata atas nama Meru Wicaksana, deh.”
“Penasaran juga kan akhirnya.” Ledeknya.
Aku hanya ingin memastikan. Setelah itu, ya sudah. Selesai. Tidak ada apa-apa. Hari-hariku akan berjalan seperti biasanya. Tepat setelah aku sampai di kos, mandi, kemudian merebahkan badan di kasur, biodata atas nama Meru kuterima via email dari Oliv.
Betapa tidak percayanya aku dengan apa yang kubaca. Dia adalah Meru yang mati-matian kucoba lupakan. Setelah dua tahun tidak ada kabar, karena semua akses sosial media sudah kublokir, mengganti nomer telfon, dan pindah kota, sekarang dia muncul lagi. Wajahnya bahkan terpampang jelas memenuhi layar handphoneku. Senyumnya, ah! Selesai, tidak ada apa-apa. Iya, tidak ada apa-apa. Segera kubenamkan mata dibalik selimut.
***
“Rena, ada penulis baru yang mau pakai jasa penerbitan kita. Dia pilih kamu jadi editornya. Lima menit lagi kamu ke ruangan saya.” Kata Pak Dion, bosku, sambil berlalu melewati bilik kerjaku, dia terlihat sibuk membolak-balik map di tangannya.
Lima menit berlalau menurut perhitungan jam tanganku. Aku segera menuju ke ruangan Pak Dion. “Naskahnya masih di pegang penulisnya, Rena. Dia meminta bertemu langsung denganmu. Katanya ada beberapa hal yang akan disampaikan.”
Aku mengiyakan saja. Ini bukan pertama kalinya klien meminta bertemu secara langsung. Pak Dion memberikan alamat sebuah cafe yang dipilih oleh penulis itu sebagai tempat pertemuan kami. Pukul tujuh malam lebih sedikit, aku sudah duduk di meja nomer 17, menunggu penulis itu yang sama sekali belum kutahu namanya.
“Selamat malam, Rena Hakim.” Sebuket mawar putih diletakkan di meja oleh seorang lelaki. Aku menoleh.
“Kamu? Kalau tahu penulis itu adalah kamu, aku akan menolak pekerjaan ini!” aku beranjak meninggalkan meja. Meru menyusulku keluar cafe. Sialnya, tidak ada taksi yang melintas. Aku gagal pergi secepat mungkin dari hadapannya.
“Ren, Rena. Dengar, aku minta maaf.” Dia menarik lenganku ketika aku hendak menyeberang. Aku diam, memperhatikan lalu-lalang kendaraan di depanku.
“Rena, aku rasa kita perlu bicara. Bisa kita masuk lagi? Sebentar, aku mohon.”
***
Aku dan Meru duduk berhadapan di meja nomer 17. Tidak sekalipun aku menatapnya.
“Rena, aku minta maaf soal pertemuan kita yang terakhir kali, dua tahun silam. Aku menyesal. Sungguh. Dua tahun aku cari kamu, Na. Aku seperti orang gila. Teman, keluargamu, semua bungkam ketika aku datang menanyakan keberadaanmu. Aku tersiksa, Na. Beri aku kesempatan lagi, Na. Please. Kita mulai dari awal.”
Semua yang keluar dari mulutnya tidak boleh meruntuhkan benteng yang telah kubangun selama ini. tidak akan kubiarkan dia menghancurkan hatiku lagi. Tidak akan. Aku memelih tidak banyak bicara, “Maaf, aku tidak bisa.” Itu saja yang keluar dari mulutku.
Dengan mantap aku bangkit, meninggalkannya yang terpatut, memegang sebuket mawar putih. Dua tahun yang lalu adalah pelajaran untukku. Semuanya sudah terjadi, tidak apa aku pernah memberikan hati kepada orang yang pandai mematahkannya, tapi aku punya lem terkuat untuk menyatukannya kembali, menjadi sebentuk hati yang lain.


0 Comments