![]() |
| sumber: chatGPT |
Sawilem adalah wujud ketakutan masa kecilku. Dia senjata pamungkas Ibu.
***
Ibu menata dagangan yang baru saja diantar oleh tukang becak ke teras rumah. Tangan kecilku berusaha membantu, walaupun justru terlihat menambah kerepotan.
"Sudah, sudah. Ibu saja," Ibu merebut satu renceng ciki kesukaanku.
"Kamu bantu yang lain saja."
"Apa?"
"Bukain warung."
Aku melompat kegirangan. Bagian ini memang salah satu favoritku karena bisa naik ke meja warung sambil mengambil beberapa ciki yang menggantung secara diam-diam, memasukkannya ke dalam baju.
Warung Ibu tidak terlalu besar. Hanya sebuah kamar berukuran 2 x 3 m yang disulap menjadi warung sederhana. Tidak ada etalase kaca atau rak besi. Sayur mayur dijajakan di meja kayu buatan Bapak. Ditata rapih agar semua terlihat dan pembeli bisa dengan mudah berbelanja. Sarden, mie, tepung, gula merah, dan aneka dagangan kering ditata di etalase kayu. Lagi-lagi, buatan Bapak. Oh iya, Bapakku adalah seorang tukang. Dia suka membuat berbagai macam barang berguna dari kayu. Ibuku juga menjual kelapa parut. Alat parutnya tentu juga buatan Bapak. Walaupun tidak memakai mesin, tapi mempermudah Ibu.
Warung Ibu menghadap dua sisi, ke depan dan samping rumah. Aku lebih suka sisi yang menghadap samping rumah karena teduh, tertutup bayangan pohon mangga. Tidak jauh dari pohon mangga, ada tempat sampah khas orang desa. Bukan tong besar melainkan tanah yang digali membentuk persegi. Bagiku yang masih anak-anak, ukuran tempat sampah itu besar sekali dan dalam.
Papan penutup warung sudah dibuka sempurna. Cahaya matahari masuk leluasa, hangat. Berbagai pilihan ciki tergantung rapih, menggoda. Aku mulai menimbang dengan saksama, kali ini mana yang mau kuambil. Ya, mie kremes Anak Emas. Aku mengambil satu, buru-buru menyembunyikan di balik baju.
"Bu, udah Bu!" teriakku menuju ke teras. Ibu masih di sana memastikan tidak ada dagangan yang tertinggal di becak.
Ibu mengangguk dan memberiku isyarat untuk pergi bermain. Hari minggu, aku bisa bermain sepuasnya asalkan PR sudah selesai dikerjakan.
***
"Mil, pulang! Udah adzan dzuhur!"
"Nggak mau!"
"Ibu panggilin Sawilem loh ya!"
Tanpa negosisasi, aku lari terbirit-birit meninggalkan Ibu jauh di belakang.
***
"Tidur siang! Anak kecil harus tidur siang. Ibu masih banyak kerjaan. Kalau mau ditemani tidur, buruan tidur sekarang."
"Nggak mau, masih mau main!"
"Sebentar lagi Sawilem datang itu loh nongol di jendela, bawa karung mau menculik anak yang nakal!"
Tanpa negosiasi, aku menutup mata. Membenamkan wajahku ke ketiak Ibu, rasanya aman.
***
"Mil, Ibu ada urusan sebentar. Mbah Uti minta dikerok, masuk angin kayaknya. Kamu jaga warung, sebentar aja."
"Nggak mau loh, Bu. Aku mau main. Itu mas aja main, masa aku engga!"
"Masmu laki-laki masa disuruh jagain warung, mana ngerti dia."
Masku hanya menoleh, berlari lagi. Dia sedang bermain lempar sandal. Siapa yang terkena lemparan sandal, dialah yang jaga. Ibu tahu aku masih berat untuk mengiyakan. Tapi dia selalu tahu apa yang bisa menggodaku, tentu adalah makanan.
"Sambil nunggu Ibu, boleh makan jajan."
"Bolehnya yang mana?"
"Yang mana aja boleh."
Kapan lagi bisa makan jajan sepuasnya tanpa harus sembunyi-sembunyi. Ini akan jadi hari yang menyenangkan. Ibu sudah pergi ke rumah Mbah Uti. Tidak jauh, rumahnya di belakang rumah kami. Aku mulai mengumpulkan jajanan yang menarik. Meletakkannya di kolong meja warung, aku biasa duduk di sana. Rasanya seperti sedang makan di dalam tenda atau semacam tempat rahasia yang tidak terlalu rahasia karena cukup terbuka.
"Mil, Ibu ada?"
"Lagi di Mbah Uti."
Pembeli itu mulai memilih belanjaan, ini itu dan masih banyak lainnya. Jujur saja aku tidak hafal berapa harganya. Aku tidak khawatir jika tidak bisa menghitung semuanya, toh pembeli satu ini memang sering datang dengan kalimat andalannya, 1 2 3.... Aku berhitung dalam hati.
"Hutang dulu, nanti bilang Ibumu."
Aku mengangguk dengan mulut penuh makanan. Kuberikan kertas bekas bungkus obat nyamuk dan pulpen agar pembeli itu bisa menulis semua yang diambil. Kuperhatikan satu-satu, jangan ada yang terlewat, kasihan Ibu nanti rugi.
***
Ibu belum juga kembali. Tapi aku senang. Artinya, aku masih bisa makan jajan lebih banyak lagi. Pembeli datang dan pergi. Kebanyakan anak-anak, hanya membeli ciki, permen atau garam disuruh oleh ibu mereka. Tidak ada yang datang lagi, sepi. Kesempatan emas untuk bersantai di kolong. Aku terus mengunyah, ini seperti pesta kecil yang dirayakan dengan puas. Bungkus jajanan berserakan dimana-mana.
Ada yang menarik perhatianku!
Mataku menangkap sebuah bayangan, dia berjalan. Samar terlihat dari celah dinding kayu. Tidak ada suara manusia, hanya desir angin dan suara daun pohon mangga bergesekan. Aku mengintip. Deg! Jantungku berdegup kencang. Itu Sawilem!
Sekarang dia berdiri tepat di depan warung. Aku bisa merasakan bahwa saat ini dia sedang memegang dagangan Ibu. Berlagak memilih, seperti pembeli pada umumnya. Dia tertawa kecil. Tubuhku mulai gemetar. Makanan di mulut belum sempurna lumat, terpaksa kutelan. Rasanya aku butuh air, sangat butuh. Aku tersedak. Suara batuk itu tidak tertahankan.
"Uhuk! Uhuk!"
Kututup mulut dengan kedua telapak tangan. Perlahan suara tawa Sawilem berhenti. Dia mulai mencari sumber suara. Aku memeriksa keadaan lewat celah. Kali ini, Sawilem mulai menundukkan badannya. Dia menemukan celah itu, tertawa kencang. Tangisku pecah, berteriak.
"Ibuuuuuuuuuuuuuu!"
Mendengarku menangis, Sawilem mencoba masuk ke warung dengan cara memanjat meja. Dia berhasil. Sekarang badannya tepat di atas meja, kepalanya melongok ke kolong. Rambut gimbal, bau, kotor dan beruban menjuntai tepat di depan wajahku. Badanku gemetar hebat, seperti akan diterkam oleh binatang buas. Pesta kecil itu kini berubah menjadi petaka.
Satu kaki Sawilem hampir menyentuh ubin. Tangannya berusaha meraihku.
"Hahahahah" tawanya semakin menjadi-jadi.
"Hei1! Pergi sana pergi!
Ibu datang tepat waktu. Jika tidak, mungkin yang selama ini Ibu bilang, Sawilem datang membawa karung untuk menculik anak nakal, benar-benar terjadi.
Ibu mengangkat sapu ijuk, mengarahkan ke Sawilem untuk menakuti. Disusul Bapak membawa bilah kayu.
"Keluar!" Bapak berkata dengan tenang sambil tetap menganyunkan bilah, waspada.
Ibu meraihku agar bisa keluar dari kolong meja. Aku berlindung di balik badannya, sudah tidak menangis hanya masih gemetar.
***
Setelah kejadian itu, aku menjadi lebih menuruti apa kata Ibu. Rutin tidur siang, pulang main tidak lebih dari waktu sholat Dzuhur. Semuanya membaik. Sekali pun Sawilem datang, dia hanya meminta jatah tempe busuk. Bukannya Ibu tidak mau memberikan tempe yang masih bagus, tapi Sawilem memang tidak menyukainya. Dia penggemar tempe busuk.
***
Apakah kamu tahu apa yang lebih gila dari Sawilem? Iya, usia 30. Bedanya aku tidak berkeliaran di jalan. Ternyata dewasa itu sibuk menghitung pengeluaran padahal gaji belum masuk rekening, menunda keinginan sendiri demi bisa memenuhi kebutuhan anak, berdamai dengan bunyi token listrik, mulai bisa makan sayur pare dan sayuran pahit lainnya, keranjang belanja 99+ tapi nggak ada yang di-checkout, pinjam tabungan sendiri tapi nggak diganti. Saw, ternyata tawamu dulu adalah tawaku sekarang. Hahahahahahahahaha.



0 Comments