
loverholicblog.wordpress.com
***
“Ergi, ayo main perang-perangan. Teman yang lain sudah menunggu.” Nafas Lisa tersengal-sengal, dia memegang tembakan mainan dari pelepah pisang.
“Iya, iya, Lis. Tunggu sebentar. Aku akan mengambil tembakan mainanku.” Ergi bangkit, meninggalkan setumpukan daun pisang yang hendak dijualnya ke pembuat tempe.
Lisa menunggu Ergi di teras sambil memainkan tembakan pelepah pisangnya. Cukup lama, hingga dia tampak gelisah, kemudian mengamati lewat jendela. Di dalam, Ergi sedang duduk menunduk, berhadapan dengan Ibunya, dia memegang tembak-tembakan.
“Ergi, Bapakmu itu sedang sakit. Ibu harus menyelesaikan pesanan kue tetangga. Apa kamu tidak bisa libur bermain dulu? Masih ada daun pisang yang bisa dikumpulkan dari kebun milik Pak Yos. Kita bisa menjualnya. Lumayan untuk tambahan uang sakumu, Nak.” Ujar Ibunya sambil menunagkan adonan kue lapis ke loyang.
Perlahan Ergi meletakkan tembak-tembakannya ke lantai rumah yang masih beralaskan tanah, tangan kanannya meraih pisau, “Iya, Bu. Ergi tidak jadi bermain. Ergi akan pergi ke kebun pisang milik Pak Yos.” Ujarnya kemudian mencium tangan Ibunya, berpamitan.
Melihat Ergi hendak melangkah ke luar, Lisa buru-buru kembali ke posisinya semula seperti pertama dia datang, berpura-pura memainkan tembakan pelepah pisangnya.
“Eh, Ergi. Bagaimana? Kamu jadi ikut main?” Lisa berbasa-basi
“Emh. Maaf, Lisa. Aku tidak ikut main.” Ergi meraih sebilah bambu panjang yang diujungnya terbelah, kemudian menyelipkan pisau, diikatnya dengan tali. Aku harus pergi ke kebun pisang milik Pak Yos untuk mengambil daun pisang, Lisa. Kamu pergilah bermain sekarang, teman-teman pasti sudah menunggu sang jagoan perempuan yang cengeng.” Ergi tertawa kecil, Lisa tersenyum.
“Aku tidak cengeng, Ergi. Itu adalah jurus jitu untuk menang.”
“Iya, iya. Kamu memang selalu menang, Lisa.” Ergi mengambil ranjang bambu, digendongnya di punggung. “Aku pergi dulu, Lisa. Semoga kamu menang lagi.”
Ergi pergi ke arah kebun Pak Yos, sementara Lisa ke arah di mana mereka biasa bermain perang-perangan. Lisa berlari, memegan erat tembakan pelepah pisangnya. Tidak lama kemudian, dia berhenti, menoleh ke belakang. Dilihatnya punggung Ergi yang semakin jauh, kemudian dia menatap tembakan-tembakan di tangannya, begitu selama tiga kali.
“Ergi!” teriaknya.
Ergi terus berjalan, dia tidak mendengarnya. Lisa telah mengurungkan niat untuk pergi bermain. Dia berlari mengejar Ergi.
“Ergi tunggu!” Lisa berteriak untuk kedua kalinya.
Ergi menoleh, berhenti. Menatap Lisa yang mendekat. Langkah lari Lisa memang panjang, dengan cepat dia sampai di depan Ergi.
“Aku tidak jadi main. Boleh aku ikut ke kebun Pak Yos?”
Ergi mengangguk. mereka berjalan bersama menuju ke kebun Pak Yos. Di kebun, Ergi sibuk memilih pelepah pisang yang hendak dipotong dan diambil daunnya, sementara Lisa duduk di bawah pohon pisang, memperhatikan apa yang sedang dikerjakan oleh Ergi.
“Ergi, sini biar aku bantu memungut pelepah pisangnya.”
Dengan cekatan Lisa memungut pelepah pisang, meletakkannya di pinggir agar tidak terinjak-injak.
Sejak hari itu. Lisa senang membantu Ergi mencari daun pisang di kebu Pak Yos yang luas. Bahkan mereka pernah mencuri pisang karena terlampau lapar. Mengetahuinya, Pak Yos tidak marah, dia malah memberikan setundun pisang untuk mereka.
“Lain kali minta saja, Ergi, Lisa. Dari pada kalian sudah payah memetiknya.” Begitu kata Pak Yos ketika mendapati mereka sedang saling bergantian mencoba memetika pisang dengan menggunakan sebilah bambu.
Siapa yang mengira, pekerjaan mengumpulkan daun pisang untuk dijual ke pembuat tempe digeluti Ergi hingga dia SMP kelas satu. Lisa, masih setia menemaninya seperti biasa.
“Tidak terasa ya, Ergi. Kita sudah hampir kelas satu SMP.” Lisa membuka percakapan ketika mereka sedang beristirahat di bawah pohon pisang sambil menikmati minum yang dibawa oleh Lisa.
“Iya, Lisa.” Jawab Ergi, dia sedang sibuk merangkai daun pisang.
Lisa menoleh, memperhatikan apa yang sedang dibuat oleh Ergi. “Apa itu, Ergi?” tanyanya setelah Ergi selesai.
“Ini mahkota.” Jawab Ergi sambil meletakkan mahkota daun pisang di kepala Lisa.
Lisa tertawa kecil, “Terimaksih.” Dia sangat senang memakainya. Tapi raut wajah Lisa mendadak mendung, dilepaskannya mahkota itu. “Ergi, boleh aku membawanya?”
“Tentu saja. Nanti kalau sudah rusak , aku akan membuatkan yang baru, Lisa.”
“aku akan menjaganya agar tidak rusak. Aku khawatir kamu tidak bisa membuatkannay lagi untukku.”
“Tentu saja aku bisa. Lihatnya, daun pisang di kebun Pak Yos masih sangat berlimpah meski setiap minggu aku mengambilnya.”
“Aku akan pindah ke kota, Ergi. Ayah mendapatkan perkerjaan tetap di perusahaan. Aku akan membawa mahkota ini sebagai kenang-kenangan.”
Ergi sedih, saat itu dia tidak tahu kenapa. Karena sebentar lagi berpisah dngan teman baiknya atau degan seorang gadis yang dicintainya. Dia sama sekali tidak tahu. Ergi berjanji akan menemui Lisa suatu saat nanti. Bertahun-tahun berlalu. Ergi teryata menuruni bakat membuat kue dari Ibunya. Tidak hanya kue lapis, bahkan berbagai macam kue. Setelah Ayahnya meninggal, dia pergi merantau ke kota. Bekerja di sebuah toko roti. Kemampuannya semakin terasah, sampai akhirnya dia memutuska untuk keluar dan membuka usaha kue kecil-kecilan dengan modal gajinya yang masih tersisa. Usahanya lambat laun mengalami kemajuan yang pesat. Ibunya diboyong tinggal di Ibu Kota. Seringkali Ergi kebanjiran order, termasuk order kue pernikahan. Dia jarang sekali membirakan karyawannya membuat kue sendiri, Ergi selalu ikut turun tangan demi mempertahankan cita rasa kuenya. Tentang Lisa, Ergi mencarinya selama bertahun-tahun semenjak dia menginjakkan kaki di Ibu Kota. Tapi sampai saat ini, hasilnya msih nihil.
“Pak Ergi. Ini daftar pesanan kue pernikahan.” Karyawannya menyerahkan berkas.
Ergi membacanya dengan seksama, di urutan nomer empat, tertera Lisa Hisyam dan Wicaksana Triangga. Jantungnya seketika berdegup kencang.
“Lisa” gumamnya liirh.
Ergi segera menekan nomor telfon atas nama Lisa di kolom contact person pada berkas. Menarik nafas dalam-dalam, kemudian menekan tombol hijau. Telfon tersambung.
“Halo.” Sapa suara perempuan di seberang sana.
Ergi segera menutup telfon sepihak. Dia masih ingat bagaimana suara Lisa, dan dia adalah Lisa, teman masa kecilnya. Tapi, ada rasa tidak percaya di benaknya. Setelah mencatat alamat kemana kue itu akan dikirim, Ergi bergegas pergi mencarinya.
Dia sampai pada alamat yang dituju, rumah di sebuah komplek perumahan. Ergi membuka kaca mobilnya, mengamati keadaan. Beberapa orang sibuk mendekorasi halaman rumah yang terbilang cukup luas. Rasa penasaran mendorong dia untuk turun dan memastikan dekorasi itu untuk pernikahan Lisa yang akan digelar sehari lagi. Benar, Lisa akan menikah. Fotonya terpampang jelas di salah satu sudut halaman.
***
Ini adalaah kali pertama Ergi ikut mengantar kue pesanan, tentu karena pemesannya adalah orang yang spesial di hidupnya, Lisa. Dengan hati-hati dia menyusup masuk ke kmar rias pengantin perempuan. Lisa sedang duduk di depan cermin, teramat cantik. Dia sendirian. Penata riasnya baru saja keluar beberapa menit yang lalau seblum Ergi menyusup masuk.
“Lisa.” Panggilnya.
Lisa menoleh, terkejut. Mata mereka saling terpaku bberapa saat.
“Ergi, kamu...” lisa bngkit
“Iya ini aku, Lisa.”
Mereka berdiri berjauhan.
“Lisa, aku membawaka mahkota daun pisang. Duabelas tahun pasti mahkota yang dulu kuberikan sudah rusak. Kmau tidak perlu lagi khawatir kalau aku tidak bisa membuatkannya lagi. Lihatlah, ini adalah mahkota yang terbuat dari daun pisang kebun Pak Yos. Sama seperti yang dulu kubutakan. Kamu ingat?”
Lisa menatap tidak percaya, dia mengambil sebuah kotak dari lacinya, kemudian saling mendkeat.
“Mahkotanya sudah kering, Ergi. Tapi aku masih menyimpannya.” Lisa membuka kotak dan menyerahkannya kepada Ergi. “Sudah kering, kan? Sama keringnya dengan perasaanku kepadamu Ergi. Tahukah? Semenjak aku pindah, aku menyadari sesuatu bahwa ada rasa lain kepadamu, lebih dari seoarng teman. Rasa itu semakin mekar bersamaan dengan usiaku yang bertambah. Rsa itu selalu menunggu hujan setiap harinya, tapi dia tidak kunjung datang. Sampai akhirnya benar-benar kering.”
“Lisa, bisakah aku menjadi hujan dan menyirami rasa itu lagi?”
“Hujan hanya akan menghayutkannya. Tidak akan pernah bisa membuatnya tumbuh dan mekar lagi. Dia sudah kering, sangat kering. Aku akan menikah hari ini, Ergi. Kumohon lupakan saja tentang ini.”
***
“Bagaimana saksi? Sah?”
“Sah”
“Sah”
“Sah” gumam Ergi. Kemudian pergi, meninggalkan resepsi pernikahan Lisa.


0 Comments