Kutuhati
  • Home
    • Version 1
  • Home
  • Artikel
  • Cerpen
  • Puisi
  • Tips
  • Suka-suka

 

sumber: chatGPT

Sawilem adalah wujud ketakutan masa kecilku. Dia senjata pamungkas Ibu.

***

    Ibu menata dagangan yang baru saja diantar oleh tukang becak ke teras rumah. Tangan kecilku berusaha membantu, walaupun justru terlihat menambah kerepotan.

"Sudah, sudah. Ibu saja," Ibu merebut satu renceng ciki kesukaanku. 

"Kamu bantu yang lain saja."

"Apa?"

"Bukain warung."

    Aku melompat kegirangan. Bagian ini memang salah satu favoritku karena bisa naik ke meja warung sambil mengambil beberapa ciki yang menggantung secara diam-diam, memasukkannya ke dalam baju. 

    Warung Ibu tidak terlalu besar. Hanya sebuah kamar berukuran 2 x 3 m yang disulap menjadi warung sederhana. Tidak ada etalase kaca atau rak besi. Sayur mayur dijajakan di meja kayu buatan Bapak. Ditata rapih agar semua terlihat dan pembeli bisa dengan mudah berbelanja. Sarden, mie, tepung, gula merah, dan aneka dagangan kering ditata di etalase kayu. Lagi-lagi, buatan Bapak. Oh iya, Bapakku adalah seorang tukang. Dia suka membuat berbagai macam barang berguna dari kayu. Ibuku juga menjual kelapa parut. Alat parutnya tentu juga buatan Bapak. Walaupun tidak memakai mesin, tapi mempermudah Ibu. 

    Warung Ibu menghadap dua sisi, ke depan dan samping rumah. Aku lebih suka sisi yang menghadap samping rumah karena teduh, tertutup bayangan pohon mangga. Tidak jauh dari pohon mangga, ada tempat sampah khas orang desa. Bukan tong besar melainkan tanah yang digali membentuk persegi. Bagiku yang masih anak-anak, ukuran tempat sampah itu besar sekali dan dalam. 

    Papan penutup warung sudah dibuka sempurna. Cahaya matahari masuk leluasa, hangat. Berbagai pilihan ciki tergantung rapih, menggoda. Aku mulai menimbang dengan saksama, kali ini mana yang mau kuambil. Ya, mie kremes Anak Emas. Aku mengambil satu, buru-buru menyembunyikan di balik baju. 

"Bu, udah Bu!" teriakku menuju ke teras. Ibu masih di sana memastikan tidak ada dagangan yang tertinggal di becak. 

    Ibu mengangguk dan memberiku isyarat untuk pergi bermain. Hari minggu, aku bisa bermain sepuasnya asalkan PR sudah selesai dikerjakan.

***

"Mil, pulang! Udah adzan dzuhur!"

"Nggak mau!"

"Ibu panggilin Sawilem loh ya!"

Tanpa negosisasi, aku lari terbirit-birit meninggalkan Ibu jauh di belakang.

***

"Tidur siang! Anak kecil harus tidur siang. Ibu masih banyak kerjaan. Kalau mau ditemani tidur, buruan tidur sekarang."

"Nggak mau, masih mau main!"

"Sebentar lagi Sawilem datang itu loh nongol di jendela, bawa karung mau menculik anak yang nakal!"

Tanpa negosiasi, aku menutup mata. Membenamkan wajahku ke ketiak Ibu, rasanya aman.

***

"Mil, Ibu ada urusan sebentar. Mbah Uti minta dikerok, masuk angin kayaknya. Kamu jaga warung, sebentar aja."

"Nggak mau loh, Bu. Aku mau main. Itu mas aja main, masa aku engga!"

"Masmu laki-laki masa disuruh jagain warung, mana ngerti dia."

    Masku hanya menoleh, berlari lagi. Dia sedang bermain lempar sandal. Siapa yang terkena lemparan sandal, dialah yang jaga. Ibu tahu aku masih berat untuk mengiyakan. Tapi dia selalu tahu apa yang bisa menggodaku, tentu adalah makanan.

"Sambil nunggu Ibu, boleh makan jajan."

"Bolehnya yang mana?"

"Yang mana aja boleh."

    Kapan lagi bisa makan jajan sepuasnya tanpa harus sembunyi-sembunyi. Ini akan jadi hari yang menyenangkan. Ibu sudah pergi ke rumah Mbah Uti. Tidak jauh, rumahnya di belakang rumah kami. Aku mulai mengumpulkan jajanan yang menarik. Meletakkannya di kolong meja warung, aku biasa duduk di sana. Rasanya seperti sedang makan di dalam tenda atau semacam tempat rahasia yang tidak terlalu rahasia karena cukup terbuka. 

"Mil, Ibu ada?" 

"Lagi di Mbah Uti."

    Pembeli itu mulai memilih belanjaan, ini itu dan masih banyak lainnya. Jujur saja aku tidak hafal berapa harganya. Aku tidak khawatir jika tidak bisa menghitung semuanya, toh pembeli satu ini memang sering datang dengan kalimat andalannya, 1 2 3.... Aku berhitung dalam hati.

"Hutang dulu, nanti bilang Ibumu."

    Aku mengangguk dengan mulut penuh makanan. Kuberikan kertas bekas bungkus obat nyamuk dan pulpen agar pembeli itu bisa menulis semua yang diambil. Kuperhatikan satu-satu, jangan ada yang terlewat, kasihan Ibu nanti rugi.

***

    Ibu belum juga kembali. Tapi aku senang. Artinya, aku masih bisa makan jajan lebih banyak lagi. Pembeli datang dan pergi. Kebanyakan anak-anak, hanya membeli ciki, permen atau garam disuruh oleh ibu mereka. Tidak ada yang datang lagi, sepi. Kesempatan emas untuk bersantai di kolong. Aku terus mengunyah, ini seperti pesta kecil yang dirayakan dengan puas. Bungkus jajanan berserakan dimana-mana. 

Ada yang menarik perhatianku! 

    Mataku menangkap sebuah bayangan, dia berjalan. Samar terlihat dari celah dinding kayu. Tidak ada suara manusia, hanya desir angin dan suara daun pohon mangga bergesekan. Aku mengintip. Deg! Jantungku berdegup kencang. Itu Sawilem!

    Sekarang dia berdiri tepat di depan warung. Aku bisa merasakan bahwa saat ini dia sedang memegang dagangan Ibu. Berlagak memilih, seperti pembeli pada umumnya. Dia tertawa kecil. Tubuhku mulai gemetar. Makanan di mulut belum sempurna lumat, terpaksa kutelan. Rasanya aku butuh air, sangat butuh. Aku tersedak. Suara batuk itu tidak tertahankan.

"Uhuk! Uhuk!"

    Kututup mulut dengan kedua telapak tangan. Perlahan suara tawa Sawilem berhenti. Dia mulai mencari sumber suara. Aku memeriksa keadaan lewat celah. Kali ini, Sawilem mulai menundukkan badannya. Dia menemukan celah itu, tertawa kencang. Tangisku pecah, berteriak. 

"Ibuuuuuuuuuuuuuu!"

    Mendengarku menangis, Sawilem mencoba masuk ke warung dengan cara memanjat meja. Dia berhasil. Sekarang badannya tepat di atas meja, kepalanya melongok ke kolong. Rambut gimbal, bau, kotor dan beruban menjuntai tepat di depan wajahku. Badanku gemetar hebat, seperti akan diterkam oleh binatang buas. Pesta kecil itu kini berubah menjadi petaka.

Satu kaki Sawilem hampir menyentuh ubin. Tangannya berusaha meraihku. 

"Hahahahah" tawanya semakin menjadi-jadi.

"Hei1! Pergi sana pergi!

    Ibu datang tepat waktu. Jika tidak, mungkin yang selama ini Ibu bilang, Sawilem datang membawa karung untuk menculik anak nakal, benar-benar terjadi. 

    Ibu mengangkat sapu ijuk, mengarahkan ke Sawilem untuk menakuti. Disusul Bapak membawa bilah kayu.

"Keluar!" Bapak berkata dengan tenang sambil tetap menganyunkan bilah, waspada. 

    Ibu meraihku agar bisa keluar dari kolong meja. Aku berlindung di balik badannya, sudah tidak menangis hanya masih gemetar.

***

    Setelah kejadian itu, aku menjadi lebih menuruti apa kata Ibu. Rutin tidur siang, pulang main tidak lebih dari waktu sholat Dzuhur. Semuanya membaik. Sekali pun Sawilem datang, dia hanya meminta jatah tempe busuk. Bukannya Ibu tidak mau memberikan tempe yang masih bagus, tapi Sawilem memang tidak menyukainya. Dia penggemar tempe busuk. 

***

    Apakah kamu tahu apa yang lebih gila dari Sawilem? Iya, usia 30. Bedanya aku tidak berkeliaran di jalan. Ternyata dewasa itu sibuk menghitung pengeluaran padahal gaji belum masuk rekening, menunda keinginan sendiri demi bisa memenuhi kebutuhan anak, berdamai dengan bunyi token listrik, mulai bisa makan sayur pare dan sayuran pahit lainnya, keranjang belanja 99+ tapi nggak ada yang di-checkout, pinjam tabungan sendiri tapi nggak diganti. Saw, ternyata tawamu dulu adalah tawaku sekarang. Hahahahahahahahaha. 







Sumber: Pinterest


"Kalau kecewa sama manusia, marahnya jangan ke Allah Za!"

    ***

    Pulang sekolah selalu menjadi momen yang dinanti. Bukan karena ingin segera sampai di rumah, tapi pergi ke tempat lain yang dirasa lebih aman dan menyenangkan. Tidak ada yang menghakimi, semua seolah mengiyakan apa saja yang ada di pikiran Za dan bagaimanapun perilakunya di luar sekolah. Temannya bukan tidak mau menasihati, mereka hanya tidak mau Za pergi lebih jauh. Mencari nyaman yang semu. 

"Gimana kalau nanti ngemall aja?" tanya Za kepada Risa.

"Bosan nggak sih? Ke rumahku aja, Umi bikin cemilan enak."

"Setujuuuu", seru dua teman lainnya, Nur dan Alisa. 

Mereka memesan taksi online. Belum masuk ke mobil dengan sempurna, Za buru-buru melepas jilbab.

"Arghhhhh gerah banget sumpah nggak jelas nih jilbab" gerutunya.

"Tutup dulu pintunya please, nanti dilihat guru loh!" Risa memperingatkan.

    Pintu sudah tertutup dengan sempurna. Mereka melaju ke arah rumah Risa. Perjalanan penuh gelak tawa khas remaja. Sopir taksi online hanya bisa geleng-geleng kepala.

***

    Suasana hangat rumah Risa selalu menyambut mereka. Tidak dipungkiri, dalam hati Za dia sering kali membanding-bandingkan orang tua Risa dengan orang tuanya. Bagi Za, orang tua Risa sempurna tanpa cela. Menyenangkan, hangat dan selalu ada. Sementara rumahnya, sepi dan berantakan. Za merasa tidak beruntung dalam hal apa pun.

"Nah ini umi udah bikin camilan, soalnya semalam Risa cerita katanya kalian mau main ke rumah, dihabiskan ya."

"Siap, Mi. Aman udah pasti habis, kan ada Za," Za mengambil risol dan memasukkannya ke mulut sampai penuh. 

Za masih sibuk mengunyah risol sambil memandang layar ponsel. Sesekali menggerutu kecil.

"Apaan deh ngomel melulu. Cepet tua!" tegur Risa.

    Za tidak merespon, kembali sibuk dengan ponselnya. Sementara itu Risa, Nur dan Alisa berbincang tentang sekolah lanjutan yang mereka incar. Ketiganya membidik sekolah Negeri yang berbeda. Dua diantaranya berencana pindah ke luar kota. Nur dan Alisa memang sering kali berpindah dari kota satu ke kota lain karena pekerjaan orang tuanya.

"Nanti kalau aku sama Alisa pindah tetap komunikasi ya. Awas aja kalau jadi sombong,"

"Eh kamu capek nggak sih pindah-pindah terus?" tanya Risa.

"Capek lah. Kirain tuh nggak bakalan pindah lagi karena udah 3 tahun kan. Padahal aku berharap selamanya bisa sama kalian ih. Seru."

"Za, kamu jadinya mau lanjut sekolah di mana?" Alisa menyenderkan kepala ke bahu Za, sedikit mengintip layar ponsel.

"Belum tahu, nggak sekolah kali." Jawabnya sambil tertawa. Tidak ada yang lucu. Za hanya sedang menyembunyikan sesuatu, temannya sudah memahami itu.

    Tidak ingin membuat suasana menjadi canggung, Risa mengajak ketiga temannya untuk menonton film horor terbaru. Sejenak, Za teralihkan sebelum harus benar-benar pulang ke rumah yang sama sekali tidak dia inginkan.

***

    Za membuka pagar rumahnya, lampu teras masih menyala sejak semalam. Dia lupa tidak memadamkannya. Beberapa paket menumpuk di kursi teras. Semua tertuju untuk kakaknya, Trian. 

"Cowok hobi banget belanja online," gerutunya sambil membawa masuk tumpukan paket itu. Seperti biasanya rumah sepi, piring bekas sarapan tadi pagi masih tergeletak di wastafel. Di meja jus buah sisa setengah gelas, kulit roti tawar gosong berantakan, dan pecahan piring masih berada di tempat terakhir mendarat, dekat kursi yang diduduki Za pagi tadi. Tidak ada yang berubah, semua masih sama persis seperti sebelum dia berangkat sekolah. Bedanya, sekarang Za sendirian. 

    Za menyalakan lampu dengan lesu dan menahan takut. Ia sebenarnya tidak nyaman dengan gelap dan sepi. Tapi begitulah kenyataan yang dia hadapi. Semuanya berubah sejak Ayahnya meninggal. Dunianya tidak lagi berwarna ceria. Hanya ada hitam dan putih, terutama di mata Ibunya. 

***

    Suara sepeda motor kak Trian terdengar, Za bangkit dari tempat tidur, mengintip di jendela, lega. Setidaknya dia tidak lagi sendirian. Walaupun keberadaan Trian tidak juga memecah suasana hening, mereka hampir tidak pernah saling bicara dan mendengarkan satu sama lain. Sudah hampir tengah malam, belum ada tanda-tanda Ibunya pulang. Di pikiran Za kembali terlintas kejadian tadi pagi di meja makan saat Ibu marah dan membanting piring, berlalu pergi. 

    Hubungan mereka memang kurang baik sejak Ayah meninggal, tapi Za selalu menunggu Ibunya pulang sekali pun ia dalam keadaan marah. Playlist lagu kesukaan Za sudah habis diputar, semua media sosial sudah selesai dia jelajahi, bosan. Badan mungilnya tenggelam di balik selimut tebal dan suhu dingin kamar. Suara jam dinding seperti sedang berusaha agar Za tetap terjaga. Helaan napasnya tidak bisa berbohong, Za mulai gelisah. 

"Besok hari libur, nggak apa-apa kalau nggak tidur" bisiknya lirih kepada diri sendiri.

***

"Za lanjut sekolah di pesantren," Ibunya menyodorkan tab. Di layar menampilkan video profil sebuah pondok pesantren.

"Ini usaha terakhir Ibu buat jagain Za, seperti pesan Ayah!"

    Za menonton video sampai selesai namun pikirannya tertuju entah ke mana. Dia hanya sedang menghargai Ibunya.  

"Semalam ibu pulang jam berapa?" Za meletakkan tab di meja, berjalan ke sudut ruangan tempat di mana ia biasa menyimpan bola basket.

"Sebelum tengah malam juga udah pulang."

    Za tahu Ibunya berbohong karena Za terjaga sampai pagi, Ibunya baru pulang pukul empat. 

***

    Lapangan basket di tengah komplek perumahan itu terlihat usang di mana-mana. Hanya satu ring tersisa, cat lapangan memudar bahkan hampir tidak dikenali warna aslinya. Ketukan bola basket mengikuti irama degup jantung Za, ia sedang marah. Berkali-kali Za melemparkan bola tanpa arah, lebih tepatnya membanting. Tanpa pikir panjang, Za melepaskan jilbab dan jaketnya. Sekarang rambut pirangnya terlihat mengkilap di bawah sinar matahari pagi. Za merasa semua yang terjadi di hidupnya tidak adil. Allah tidak pernah memberi apa yang Za inginkan. 

"Astaghfirullah Za!" Suara Trian terdengar setengah berteriak. Dia berlari menghampiri Za, buru-buru memakaikan jaket dan jilbab.

"Kamu itu calon santri! Apa-apaan buka jilbab di sini Za? Kalau Ibu tahu kamu bakalan..."

"Bakalan apa? Masuk neraka? Lagian ngapain aku suruh masuk pesantren tapi kakak engga? Nggak adil. Pilih kasih. Emang cuma Ayah yang ngertiin Za!"

"Kalau kamu kecewa sama manusia, marahnya jangan ke Allah Za!"

"Terus ke siapa? Ke Ibu yang nggak pernah dengerin maunya Za? Ke Kak Trian yang nggak pernah belain Za? Iya?"

***

    Keputusan Ibu sudah bulat untuk mendaftarkan Za sekolah di pesantren. Hari-hari menjelang kelulusan terasa tidak istimewa. Bahkan Za berharap dia tidak lulus. Ia menutup diri dari teman dekatnya. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh mereka, hanya bisa berharap Za bisa berdamai dengan keputusan Ibunya.

"Oke Za nurut sekolah di pesantren. Tapi Za punya syarat!"

"Apa?" Ibunya berbinar, ia bahagia karena akhirnya putri satu-satu itu luluh.

"Jangan pernah nengokin Za ke pesantren selama 3 tahun. Jangan beri kabar apapun lewat pengurus pesantren. Apapun! Za mau sendirian selama 3 tahun, tanpa Ibu, tanpa Kak Trian. Sekali saja Ibu atau Kak Trian melanggar, Za benar-benar tidak mau pulang ke rumah."

    Ibu dan Trian diam saling pandang, menarik napas berat. Bahu Ibu mulai merunduk lesu, pelan bersandar di kursi. Mata yang berbinar kini berubah sendu. Trian memegang tangan Ibu. Matanya terus memastikan bahwa wanita di sampingnya baik-baik saja. 

***

    Za merasa sangat asing di tempat baru. Dia yang biasanya ceria di sekolah, kali ini ingin menjadi pribadi yang baru, pendiam, menyendiri, dan tidak banyak bicara. Tahun pertama begitu berat bagi Za, tapi dia bertahan sesuai janjinya. Setiap kali jadwal kunjungan santri tiba, Za memilih berdiam diri di kamar, mengaji pelan menahan tangis yang bahkan air matanya saja seolah sudah kering. Tahun berikutnya dia semakin kuat tapi keras. Ia paham betul bahwa hatinya kini membatu, tapi dia tetap pada arah yang benar. Keterpaksaan itu lambat laun membuatnya semakin dekat dengan Rabb-Nya. Sesekali Za sangat yakin bahwa ia bisa melepaskan satu per satu luka di hidupnya. Ia mulai memaafkan banyak hal yang sudah terjadi. Kecewa yang selama ini entah tertuju pada siapa, pelan namun pasti, memudar. 

***

    Za tidak bisa tidur pulas di kereta. Meskipun malu, Za akhirnya mengaku kepada diri sendiri bahwa ia rindu Ibu dan Kak Trian. Senyum tipisnya memantul di kaca jendela kereta. Laju kereta terasa lambat, Za mulai gelisah mengatur posisi duduk. Tangannya menggengam ponsel yang selama 3 tahun ia titipakan di pengurus pondok pesantren. Perlahan ia memencet tombol on. Tidak ada yang bisa dihubungi karena kartunya sudah lewat masa tenggang. 

    Peron stasiun penuh lalang manusia. Ada yang datang melepas rindu di kota ini, ada yang datang memang untuk mengadu nasib. Za mempercepat langkah kaki agar segera keluar dari stasiun, memesan ojek, pulang. 

***

"Assalamu'alaikum, Bu, Kak Trian!" ia tidak sabar menunggu pintu dibuka.

    Sepi, tidak ada jawaban. Tapi ini hari Minggu, biasanya di rumah ada orang. Za yang gelisah memutuskan untuk menunggu di gazebo halaman rumahnya. Satu dua jam, Kak Trian pulang. Ia memeluk adik satu-satunya dengan erat. Trian senang sekali, pelukannya disambut dengan hangat oleh Za yang selama ini dingin. Trian seperti tidak percaya bahwa hari yang ditunggu sudah tiba. Trian tidak kalah sepinya dari Za.

"Kenapa nggak kabarin kakak?" 

"Nomornya lewat masa tenggang, Kak. Ibu mana?"

Mata Za terus mencari, berharap Ibunya masih di dalam mobil membereskan barang belanjaan.

"Ada kok, Ibu ada. Yuk masuk dulu." Trian bisa melihat bahwa adiknya banyak berubah. Dulu, dia sangat ketus jika diajak berbicara. 

"Ada dimana? Di rumah? Dari tadi Za pencet bel nggak ada yang nyaut, Kak."

"Masuk dulu, istirahat." Trian memastikan semua baik dan tidak ada yang perlu Za khawatirkan.

***

"Ibu lagi ada urusan dulu Za."

"Tadi katanya ada."

"Iya ada. Tapi kan kakak nggak bilang ada di rumah,"

Za menganggung-angguk. 

"Nanti sore ikut kakak yuk! Kamu lama loh nggak nengokin makam Ayah. Sudah 3 tahun, ya kan?"

"Boleh. Za juga kangen"

***

    Trian benar, dia mengajak Za ke makam Ayah. Tapi sekarang ada yang lain di samping makam yang nisannya sudah usang itu. Mata Za terasa sangat panas, dia menahan air mata agar tidak meleleh di sudut. Ke mana pun Za memandang, asal bukan ke makam di samping Ayahnya. Tubuh Za rasanya ingin ambruk. Za kembali mengingat kalimat terakhirnya saat Ibu meminta dia untuk sekolah di pesantren. Ibu dan Kak Trian tidak ingar janji. 

    Za berandai mereka tidak pernah menepati janji itu. Biar saja Za marah, biar saja Za tidak lagi pulang ke rumah. Asalkan Ibu tetap hidup. Setidaknya jika Ibu masih ada, ia akan berkali-kali menelfon memintaa maaf karena sudah ingkar janji dan membujuk Za untuk pulang. Jika yang terjadi demikian, hati Za tentu akan luluh. Karena sejak tiga tahun di pesantren memang Za sudah mulai memaafkan segalanya, termasuk rasa kehilangan yang sudah lama tinggal di dalam hatinya. Za, kehilangan arah lagi.




Hai, rasanya canggung sekali setelah sekian lama tidak menulis. Tahun 2021 aku telat membayar perpanjangan domain. Sejauh yang kuingat itu karena sedang dalam masa sulit Covid-19. Aku bekerja di Madiun, terisolasi sementara waktu. Penghasilan? tentu saja mengalami banyak penyesuaian. Apa yang membuatku akhirnya mengaktifkan domain lagi padahal sudah 5 tahun berlalu? 

Beberapa waktu lalu aku mampir ke hanatfutuh.com, blog milik kakak tingkat yang sudah aktif menulis sejak kuliah sampai sekarang. Di sana aku membaca sebuah kalimat yang kurang lebih begini "merawat ingatan lewat menulis". Dahiku berkerut, mencoba mengingat hal-hal yang aku lewatkan selama lima tahun terakhir. Ternyata banyak sekali yang hanya kuingat sepotong kecil. Lebih banyak hal menyakitkan daripada bahagianya. Padahal hidup mana yang selalu sengsara, iya kan? Bahagia dan luka pasti berdampingan. Tapi rasanya ingatanku berhenti di satu titik saja yaitu luka. 

Wah, ini tidak baik, pikirku. Sepertinya ada yang salah. Memang setelah menjadi ibu aku menyadari bahwa daya ingatku menurun, kemampuanku untuk berkonsentrasi juga tidak sebaik sebelumnya. Jujur saja lima tahun belakangan aku malas sekali membaca sampai tuntas. Menulis? Ya hanya sekadar mencatat urusan pekerjaan di notes ponsel.

Benar juga yang Mbak Hanat tulis, menulis bisa jadi salah satu cara untuk merawat ingatan. Tanpa banyak berpikir, aku mengirim pesan di instagram kepada salah satu adik tingkat yang dulu membantuku membuat kutuhati.com. Dia menyarankanku menghubungi pihak penyedia domain untuk memastikan apakah domainku masih bisa diaktifkan kembali. Ternyata masih bisa, wah aku senangnya bukan main. Kubayar perpanjangan domain 129 ribu. Kuanggap sebagai hadiah ulang tahunku. 

Apakah terkesan menyedihkan? 129 ribu untuk sebuah hadiah yang kuberikan untuk diri sendiri? Ah tidak juga. Ini ulang tahun spesial karena 30 untuk usia 30. Maka aku ingin memberikan ruang yang panjang dan luas untuk menulis. 

Selamat datang usia 30, kita menulis lagi ya. 



 

Sumber gambar: hitecno.com


Menjadi admin akun instagram dengan konten yang lucu adalah pilihan terakhir Nino setelah ditinggal menikah oleh pacarnya, Mila. Pekerjaan Nino yang terbilang cukup banyak waktu luang membuat dia harus mencari kesibukan ekstra agar bisa melupakan mantannya. Lima tahun pacaran tentu bukan waktu yang sebentar. Kenangan manis dan pahit sudah terpatri di ingatannya. 

Sebagaimana sebuah luka, lama kelamaan akan sembuh juga walaupun tidak sempurna. Setidaknya Nino bisa bernapas lega ketika tiba-tiba ingatan tentang Mila muncul. Nino tidak lagi merasakan sesak di dada. Tiga tahun usaha untuk melupakan Mila, tampaknya memang membuahkan hasil. Meskipun hingga saat ini Nino belum juga mendapatkan pacar baru. 

Sebenarnya, wajah Nino lumayan ganteng. Tidak jarang banyak cewek pelanggan konter tempatnya bekerja meledek Nino. 

“Lumayan good looking kok masih jomblo Mas Nino. Sama aku aja, mumpung suami lagi kerja luar kota.”

Nino tidak menggubris karena kebanyakan yang naksir adalah ibu-ibu muda yang kesepian. Di sela pekerjaan utamanya, Nino sibuk mengelola sosial media yang digawanginya. Setiap hari setidaknya ada 3 konten lucu yang dia unggah. Konten tersebut selalu berhasil membuatnya terhibur dan merasa dunianya sedang baik-baik saja. 

Seperti biasa, setiap Selasa dan Kamis malam, Nino mengadakan sesi QnA maupun sharing. Topiknya beragam dan selalu berganti-ganti. Kamis malam kali ini adalah tentang hal konyol saat kencan pertama. Balasan dari para followers akan Nino bagikan di IG story tanpa mencantumkan nama akun mereka. Ini adalah sesi paling seru. Dari situlah Nino bisa menghibur diri. Kadang memang lebih baik membaca kisah orang dari pada membaca kisah sendiri. 

“Kekonyolan saat kencan pertama versi aku nih min. Aku janjian di taman malam-malam. Aku sama doi milih duduk di bangku bawah pohon. Milih yang agak gelap soalnya. Haha. Lagi ngobrol sambil pegangan tangan, tiba-tiba doi kesurupan. Pengin punya pacar yang mukanya estetik eh dapetnya malah yang mistis begini. Sial!”

Nino jadi teringat mantan kekasihnya. Mila juga penuh dengan hal-hal mistis dan misterius. Dia tidak mau diajak jalan pada malam dan hari-hari tertentu karena katanya pantangan. Dalam hal memilih pacar, Mila juga sangat selektif. Ada kriteria tertentu yang Nino sendiri tidak tahu sampai saat ini.

“No, kamu yang terbaik. Aku seneng bisa kenal kamu. Kamu memenuhi semua kriteria. Jangan tanya kriterianya kayak apa. Kamu cukup bercermin dan lihat ada siapa di cermin itu.”

“Ada aku lah, Mil. Iya kan?” 

Mila hanya tersenyum kala itu. Sampai saat ini, Nino belum pernah benar-benar bercermin. Nino takut kalau dirinya tidak seganteng yang dia kira. Nino tentu sangat bangga bisa dicintai oleh Mila yang cantik dan anak orang berada. Teman-temannya banyak yang tidak percaya dan mengira jika Mila diguna-guna oleh Nino.

“Permisi.”

Suara perempuan mengalihkan fokus Nino. Nino menoleh. 

“Mas, mau beli kartu.”

Wajah perempuan itu tidak terlihat jelas karena memakai masker dan sibuk melihat-lihat kartu perdana di etalase. Rambutnya hitam panjang terurai. Nino kenal dengan bau parfumnya, wangi bebungaan yang menyengat.

“Mil....” 

“Nino. Hai apa kabar?” Sapa mila sambil melepas masker.

“Baik, Mil. Kamu kapan kesini? 

“Kemarin. Kebetulan lagi ada urusan.”

“Oh..Eh malah aku nggak tanya balik. Kamu gimana kabarnya? Emh, lebih tepatnya keluarga kecilmu bagaimana?”

“No, kartu yang ini dong satu.”

Mila mengalihkan pembicaraan. Nino mengambil kartu yang dimaksud Mila. 

“Sekalian di registrasi ulang ya No. Aku bawa catetan no KK dan NIK nya kok.”

Nino mengangguk. 

“Satu lagi, pulsanya sekalian.”

Setelah selesai, Mila langsung bergegas dengan wajah yang murung. Nino memandangi nomer telfon Mila yang tercatat di buku pembelian pulsa. Dia bermaksud untuk menghubungi Mila untuk menanyakan keadaannya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. 

“Ah nanti dikira petrikor, pengganggu istri orang.” Gumamnya sambil menutup buku tersebut dan bersiap menutup konter. 

Sepanjang perjalanan pulang, Nino terus memikirkan Mila. Tiga tahun perjuangan melupakan, sekarang terancam goyah karena pertemuan yang sebentar. Selama seminggu, Nino berhasil menahan hasratnya untuk mengubungi Mila. Tapi hari ini, dia gagal. Tanpa basa-basi Nino langsung mengirim pesan dan menanyakan perihal kemurungan Mila seminggu yang lalu.

Nino sudah bersiap diri jika yang membalas adalah suami Mila dan dia kena semprot. Jantungnya berdegub lebih kencang, matanya tajam menatap layar ponsel. Kluning! Mila membalas pesannya dan mengajak Nino bertemu. Kepalang senang, Nino mengiyakan tanpa pikir panjang.

Malam minggu mereka bertemu di tempat ngopi. Mila mengenakan dress putih. Rambutnya panjang terurai. Wajahnya masih muda. Tubuhnya masih ramping dan berisi. Nino yakin banyak orang mengira jika Mila masih single. 

“Kamu mau aku pesankan kopi hitam, Mil?”

“Boleh.”

Malam itu, mereka berdua seperti pasangan muda mudi yang sedang dimabuk asmara. Cerita di atas meja kopi tidak sepahit kopi hitam tanpa gula pesanan Mila. Nino memegang tangan Mila. Dia lupa siapa yang sedang ia kencani malam ini.

“No, bagian manisnya udah aku ceritain. Sekarang pahitnya.” Ujar Mila lalu menyeruput kopinya.

“Oke aku siap dengerin, Mil.”

“Mungkin ini karma ya No karena aku udah ninggalin kamu tanpa alasan. Seratus tiga puluh hari setelah nikah sama Mas Ardit, aku hamil.”

“Eh bentar Mil” Nino menyela “Kenapa pakai kata seratus tiga puluh hari? Kan bisa gitu 3 bulan?”

“Biar lebih pasti aja. Kamu kan tau aku orangnya detail. Aku lanjutin ya. Anak aku lahir normal. Sayangnya, di usianya yang baru 13 hari, dia meninggal. Nggak ngerti kenapa. Meninggal begitu aja. Selang 13 bulan setelah setelah anak aku meninggal, Mas Ardit nyusul anak aku No.”

“Nyusul ke kuburan?”

“Iya maksud aku dia meninggal.”

Antara sedih dan senang, itu yang Nino rasakan setelah mendengar cerita Mila.

Setelah pertemuan malam itu, Nino dan Mila semakin dekat. Mila memustuskan untuk memperpanjang kunjungan ke rumah saudaranya demi bisa berlama-lama dengan Nino. Tidak butuh waktu lama untuk mereka kembali menjalin cinta. Nino membayar 3 tahun perjuangan melupakan Mila dengan cara menikahi janda muda itu. 

“Maaf ya No. Nggak semewah dulu waktu aku nikah sama mas Ardit. Soalnya orang tuaku usahanya lagi bangkrut. Jadi nggak bisa nyumbang dana lebih.”

“Aku yang harusnya minta maaf Mil. Nggak bisa bikin resepsi yang mewah.”

“Tapi tenang aja, nanti pasti kita kaya kok.” 

Nino tertawa. Bahan becandaan istrinya kali ini cukup membuatnya optimis jika suatu saat nanti mereka memang akan menjadi orang kaya.

Seminggu setelah menikah, Mila terlihat gelisah. Setiap kali ditanya, dia tidak mau menjawab. Nino tidak mau memaksa istrinya untuk bercerita. Baginya, Mila pasti akan bercerita jika sudah siap. Malam itu, seperti biasa Nino bekerja sampai pukul 9 malam. Sambil menunggu pembeli, dia kembali membuka sesi sharing di media sosial. Kamis malam kali ini tentang rahasia.

Nino membaca komentar dari followers satu per satu.

“Min, aku nggak tahu ini rahasia apa bukan. Aku sayang banget sama suamiku yang sekarang. Tapi aku terpaksa nyakitin dia. Kalau bisa memutar takdir, sejak awal aku lebih milih dia dari pada ayahku. Malam ini, mungkin malam terakhir aku lihat dia Min.”

Dahi Nino berkerut. Dia mengklik profil akun tersebut.

“Mila!” Nino terkejut. Nino mengusap wajahnya. Beruntung Nino belum menceritakan tentang pekerjaan sampingannya sebagai admin. Sehingga Mila tidak tahu jika dia sedang membuka rahasia kepada suaminya. 

Hati pengantin baru itu resah. Dia izin pulang cepat. Sesampainya di rumah, istrinya tidak ada. Nino berdiri di depan cermin di kamarnya. Kali ini, dia benar-benar bercermin. Nino memandangi pantulan dirinya. Hanya ada dia. Dia yang menyayangi Mila dengan baik.

“Harusnya kamu cuma lihat aku Mil. Nggak ada orang lain di cermin. Cuma aku. Emang ada yang lebih berharga dari aku? Orang yang kata kamu terbaik?” Nino bicara sendiri.

“No.” Mila muncul dari balik horden.

“Mil. Malam ini kamu mau pergi? Salah aku apa Mil?”

“Nino maaf. Harus kaya gini cara aku ngasih tau ke kamu. Aku tahu kamu admin akun itu kok. Makanya aku tulis pesan itu buat kamu. Aku cuma bisa sampaikan lewat tulisan. Aku nggak sanggup kalau ngomong langsung.”

“Kamu mau pergi kemana?” tanya Nino lagi, matanya berair. 

“Bukan aku yang pergi, No. Tapi kamu.” 

Nino kembali menatap cermin, dia tidak sendirian. Itu adalah hal terakhir yang dia lihat sebelum dia pergi untuk selamanya.

Mila berjalan ke arah meja rias. Mengambil standing calender lalu menyilang sebuah tanggal menggunakan spidol merah.

“Tiga belas November 2020, Nino.” ucapnya lirih. 



Dokumen Pribadi


Halo, selamat datang di Kutuhati dan salam kenal buat kalian yang baru aja mampir di personal blog aku. Bagi kalian yang udah kenal aku, kali ini kontennya beda banget ya dari sebelumnya. Lagi iseng nih di rumah kebetulan cuti 3 bulan karena habis kecelakaan dan operasi tulang ekor. So, bosen banget ya kan di rumah. Nah buat ngisi waktu yang teramat luang, aku mau DIY tote bag dari celana jeans bekas. Kebetulan di rumah punya lumayan banyak celana jeans yang udah nggak kepake. Karena aku udh 6 tahun ini stop pakai celana jeans.

Yuk langsung intip gimana cara pembuatannya:

1. Siapkan celana jeans yang udah nggak kepake. Nggak harus celana si, rok atau jaket gitu juga bisa asalkan udah nggak kepake. Potong bagian bawah sepanjang 45 cm. Untuk ukurannya bisa sesuai selera ya. Boleh lebih atau kurang dari 45 cm.

Dokumen Pribadi

2. Setelah dipotong, gunting bagian jahitannya seperti gambar di bawah ini ya.

Dokumen Pribadi


3.Gambar pola kotak ukuran 8 cm x 8 cm di bagian pojok bawah kain seperti gambar berikut. Ukuran pola sesuai selera ya. Semakin lebar maka volume tas kalian semakin besar. Begitu juga sebaliknya.

Dokumen Pribadi


4.Setelah digambar polanya, gunting bagian tersebut. Agar hasilnya lebih akurat dan rapih, kalian bisa menggunakan bantuan jarum seperti gambar di bawah ini.

Dokumen Pribadi


5. Setelah kedua pola tersebut dipotong, kain akan tampak seperti gambar di bawah ini. 

Dokumen Pribadi


Jahit bagian yang aku kasih tanda garis putus-putus warna merah ya. Boleh jahit manual pakai tangan atau pakai mesin. Kalau aku pakai tangan karena nggak punya mesin jahit dan nggak bisa pakai mesin jahit. Heeee ~

6.Selanjutnya jahit bagian pojok kain dengan posisi seperti gambar di bawah ini ya.

Dokumen Pribadi


7.Untuk tali tasnya, kalian bisa gunting bagian pinggang celana. Panjangnya bisa disesuaikan dengan keinginan kalian. 

Dokumen Pribadi


8.Jahit masing-masing ujungnya di bagian pinggir tas. Nah kalian bisa lihat di salah satu ujungnya ada yang tidak rapih. Itu aku sengaja biar dapet efek unfinishnya. Kalau kalian pengin rapih bisa dijahit dulu tepi ujungngnya.

Dokumen Pribadi


Selain ini, kalian juga bisa taruh sambungan tali tasnya di bagian dalam. Kalau aku ini di bagian luar tasnya karena pengin aja si. Hihihi

9.Biar nggak polos banget tasnya, boleh dikasih ornamen sesuai keinginan kalian. Aku pakai ornamen seperti gambar di bawah ini ya.

Dokumen Pribadi

Dokumen Pribadi

10.Jahit ornamen di bagian yang kalian suka. Karena aku pingin ada 2 look di 1 tas, jadi masing-masing ornamen aku jahit di sisi yang berbeda. Penampakannya seperti gambar di bawah ini. 

Dokumen Pribadi


Sekian teman-teman untuk DIY kali ini. Semoga bermanfaat ya. Selamat berkarya. Salam sayang dari aku.


Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Perempuan berkacamata yang suka menarasikan luka dengan penuh cinta.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tumbuh
  • 129 Ribu untuk Kado Ulang Tahunku!
  • Enam Cara Move On dari Mantan, Mana yang Paling Pas Buat Kamu?
  • Resik V Khasiat Manjakani, Solusi Hubungan Intim Keluarga Masa Kini
  • Sawilem
  • DIY Tote Bag dari Celana Jeans Bekas
  • 13
  • Antara Lethe dan Mnemosyne
  • Perempuan (Harus) Pinter Nego?
  • Sebentuk Hati yang Lain

Categories

  • artikel 4
  • cerpen 9

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates