Tanya First Impressions; Kepo atau Eksistensi?

 thecrossmountdora.org

Mungkin ide dalam tulisan ini terbilang telat banget buat ditulis dan diunggah, soalnya sekarang udah tahun 2018. Lebih baik telat dari pada nggak sama sekali, oke, kalimat itu emang mainstream banget. Tapi aku suka. Karena nggak ada kalimat lain yang aku tahu untuk mengemas keterlambatan menjadi sebuah hal yang terkesan bijak. Kalau kalian punya, barangkali bisa share ke aku.

Sepuluh hari terakhir menjelang 2017 berakhir, whatsApp dan Insta Story-ku penuh sama post tentang first impressions. Awalnya aku sama sekali nggak risih dengan itu semua. Lama kelamaan, “apa sih maksudnya?”

Firs impressions adalah bagaimana kesan pertama kalian saat bertemu dengan seseorang. Biasanya, kebanyakan dari kita udah neting (negative thinking) dulu kan ketika ketemu sama seseorang. Kesan pertama bakalan mempengaruhi sikap dan cara pandang kita kepada orang tersebut. Kalian pernah nggak pertama ketemu orang langsung menilai kalau orang itu galak?

Nah, dari situlah, selama beberapa waktu kita akan terus menganggap orang tersebut galak sampai suatu saat jika Tuhan menghendaki, kita kenal lebih jauh dengan orang tersebut, dan taraaaaaa. Ternyata nggak seperti yang kita kira kok. Aslinya orangnya asik, baik, seru, dan akhirnya orang tersebut jadi teman, sahababat dan bahkan pacar.

Di penghujung tahun 2017 ini, ternyata banyak orang posting tentang first impression. Mereka membuat story di akun sosial medianya. Seingat aku sih gini nih:

Sebelum tahun 2017 berakhir, aku pengin tahu first immpressions kalian waktu pertama ketemu aku. Komen ya.

Intinya gitu. Beberapa saat kemudian, muncullah story berupa screen shot DM orang-orang yang memberikan komentar. Sebagai orang yang always on instagram by very fast wifi in my dorm, aku nggak sayang kalo memutar semua story teman instagramku. Eh ini bukan karena aku nggak ada kerjaan. Tapi sungguh, dengan sawang-sinawang itu ide bisa berloncatan loh, dari mereka aku bisa dapat inspirasi buat nulis.

Dari semua komentar yang dijadikan story, kebanyakan manis. Ada yang pahit, tapi ujung-ujungnya manis.

Contoh 1:

Kakak tuh cantik, baik, ramah. Pokoknya luv banget deh. Kapan ketemu lagi ya kak?

Nggak Cuma di-screenshoot, si pemilik akun juga memberikan tambahan pemanis buatan di postingannya, “wah, makasih yah buat yang lebih cantik,” (emotikon cium)

Contoh 2:

Pertama ketemu sama lu nih, lu orangnya jutek, galak abis. Pelit. Tapi pas udah kenal, beh baiknya minta ampun.

Lagi-lagi, dikasih tambahan tulisan sama yang punya akun, “Sumpah ni anak ngeselin. Perasaan gue nggak jutek deh. But, thanks ya.” (emotikon ngakak, cium, dan lain-lain)

Aku nggak tahu yang komentar aslinya berapa orang, tapi, dari semua yang dijadiin story ya gitu, manis. Kok nggak ada komentar yang asli pahit ya? Apa emang ini orang bener-bener baik? Tapi setahuku kan namanya juga orang, nggak semua suka, ada juga yang benci. Atau orang yang benci itu nggak mau komen? Atau, yang komen itu sebenernya benci tapi terpendam? Aih. Pikiranku jadi kemana-mana.

Pertanyaannya adalah, ini orang beneran pengin tahu first immpressions orang lain atau cari eksistensi?

Ya beneran kepo lah, pengin tahu aja. Oke, kalau Cuma pengin tahu aja, buat apa komentarnya di posting? Ya pengin posting aja. Oke, terus kenapa kamu ngintip berapa orang yang udah liat story kamu dan siapa aja? Emh, ya pengin tahu aja siapa yang udah lihat. Oke. Seneng nggak kalau banyak yang lihat? Tik tok tik tok. Ada kepuasan tersendiri nggak ketika banyak yang lihat, apa lagi orang yang kamu bidik juga lihat? Tik tok tik tok.

Selamat bikin story lagi di tahun depan yak. Komentar pahitnya juga diposting dong, biar nggak manis-manis terus. Hidup butuh variasi.





0 Comments