Kutuhati
  • Home
    • Version 1
  • Home
  • Artikel
  • Cerpen
  • Puisi
  • Tips
  • Suka-suka



Sumber gambar: pixabay


Selain perkataan Ibunya, Kalu juga menuruti apa yang pacarnya katakan. Jika hari itu pacarnya bilang jangan makan mie, Kalu tidak akan makan mie. Walaupun, bisa saja Kalu berbohong kepada pacarnya, lagi pula mereka tidak tinggal di rumah yang sama. Sejauh ini, apa yang pacarnya katakan adalah hal-hal baik.

“Nggak usah antar aku latihan basket ya. Soalnya teman-temanku hari ini diantar sama pacarnya. Mereka ganteng-ganteng.”

“Oke, Iyut.”

Shila, begitu pacar Kalu biasa dipanggil oleh kebanyakan orang. Tentu Kalu punya panggilan sayang sendiri, Iyut. Sedikit menggelikan. Tapi panggilan sayang itu sudah ada sejak mereka pacaran, 4 tahun lalu. Tepatnya, saat mereka berdua masih SMA. Sekarang, Kalu dan Shila kuliah di kampus yang sama, satu fakultas tapi berbeda jurusan. Mereka semester 3.

Kegiatan sehari-hari Kalu dan Shila sangat berbeda, walaupun sama-sama mahasiswa. 

“Iyut, dimana?”

“Lagi nongkrong di kafe.”

“Aku masih di perpustakan. Habis ini mau makan di warung Bu Dikin. Kamu mau aku beliin kerupuk udang?”

“Nggak usah. Ini aku malah lagi makan udang utuh, fresh juga.”

Meski terkesan dingin, Shila adalah satu-satunya orang yang perkataannya tidak pernah membuat Kalu tersinggung. Setidaknya, sampai detik ini. Dan, bagi Shila, meski Kalu jauh dari kata tampan, dia adalah satu-satunya pacar yang tidak tersinggung dengan ucapannya. Shila pernah putus dengan pacar sebelumnya karena hal yang kecil.

“Mata kamu kecil. Sempit gitu.”

Shila bukannya mempermasalahkan fisik, hanya saja dia gemar mengomentari banyak hal dan terlalu blak-blakan. Termasuk mengomentari tulisan Kalu yang akan dikirim ke website. Setiap minggu, setidaknya tiga kali, Kalu mengirim tulisan ke website milik kakak kelasnya, Mas Edo. Dari tulisan itu, Kalu mendapatkan bayaran yang uangnya bisa untuk makan di kafe bersama Shila.

“Kal, kamu pesan apa?”

“Es teh aja. Iyut mau apa?”

“Aku, udang ya?”

Kalu mengangguk. Keren sekali rasanya bisa mentraktir Shila makan udang di kafe. Sementara dia, minum es teh yang gelasnya tidak lebih berat dari gelas es teh di warung Bu Dikin. Setelah makan, mereka tidak langsung pulang. Uang hasil menulis akan kurang maksimal kegunaannya jika hanya untuk makan di kafe tanpa berlama-lama menikmati fasilitas wifi. 

Kalu bertukar tempat duduk dengan Shila agar lebih mudah menjangkau stop kontak. Dia menghidupkan laptop dan mulai menulis. Sejak semalam, tulisannya belum bertambah, masih setengah halaman. 

“Udah dibilangin, jangan nulis horor. Kamu tuh nggak bisa. Ke kamar mandi malam-malam aja telfon aku buat nemenin biar ada suara. Ini sok-sok an mau nulis horor. Buntu kan?”

“Pengin yang beda aja gitu, Yut.”

“Udah. Kamu itu cocoknya nulis romance. Apalagi kalau sad ending. Lagian, cocok sama muka kamu.”

Dip. Layar laptop Kalu gelap. Kalu mengelapnya. Wajahnya yang sendu dari lahir, terlihat jelas di layar. Dia memandangi wajahnya sendiri selama beberapa detik, kemudian menoleh ke Shila.

Kenapa, Kal? Dapat inspirasi?”

“Bukan. Kamu cabut charger laptopku, jadinya mati deh. Aku kan mau nulis.”

Kalu mengurungkan niatnya untuk menulis cerita horor. Sore yang mendung ketika mereka pulang dari kafe. Sebentar lagi, Kalu akan mendapatkan jasa cuci motor gratis. Lumayan, sudah dua minggu Kalu belum mencuci motornya. Setidaknya kali ini motornya diguyur air. 

Shila tidak pernah keberatan jika harus hujan-hujanan. Bahkan, jas hujan yang hanya ada satu itu dengan suka rela dia minta dipakai Kalu saja. Karena terakhir kali Kalu hujan-hujannya, dia demam tinggi hingga sakit berhari-hari. 

“Nanti seperti biasa sebelum dikirim, aku baca dulu tulisan kamu ya Kal. Jangan lupa, loh!”

Shila berbicara setengah berteriak. Suaranya bersahutan dengan hujan. Kalu mengangguk meski tidak terlalu mendengar apa yang Shila ucapkan. Kalu mengantar Shila pulang ke kos, kemudian pulang ke rumah tantenya yang tidak terlalu jauh dari kampus. Disanalah Kalu tinggal. Lumayan irit, dari pada ngekos.

Selesai dengan urusan membersihkan badan, Kalu kembali menyalakan laptopnya. Dia ingin bisa menulis cerpen horor. Tapi Shila bilang, dirinya tidak cocok dengan genre tulisan itu. Kalu membaca kembali pesan dari Mas Edo. Beberapa hari lalu, Kalu ditanya tentang cerpen horor.

“Kal, kalau nulis cerpen horor bisa nggak kamu? Soalnya di tetangga sebelah lagi rame tulisan itu. apalagi sejak ada kejadian isu penampakan kuntilanak di kampus kita. Tapi misal kamu nggak bisa, nggak apa-apa Kal. Jangan dipaksain.”

Kalu memang ingin mencoba menulis genre lain, termasuk horor. Selama ini, banyak orang menganggapnya spesialis cerpen romance. Kali ini, dia ingin membuktikan kepada orang-orang, kalau dia bisa menulis cerpen horor. Malam itu, Kalu lembur menulis. Meski sedikit takut saat akan ke kamar kecil, Kalu berhasil tidak menelfon Shila untuk minta ditemani.

Selesai. Dengan sumringah Kalu mengirim email ke Mas Edo. Selang satu jam, hapenya berdering.

“Kal, itu kamu yang nulis?” tanya suara di seberang sana.

“Iya, gimana Mas? Misal nggak cocok, aku ada kok cerpen yang seperti biasanya, romance.”

“Cocok kok. Aku muat aja ya sambil liat gimana respon pembaca.”

Lega, Kalu segera tidur. Besok jadwal kuliah yang padat sudah menanti. 

Di kelas, Kalu mendapat beberapa pujian dari temannya tentang cerpen horor pertamanya. Maklum, website yang dia isi memang cukup dikenal di fakultasnya, terlebih si pemiliknya ganteng dan popular di kalangan mahasiswi. Untuk seseorang yang baru pertama kali menulis cerpen horor, Kalu senang atas pujian itu. Dia semakin tertantang untuk kembali menulis cerita horor yang lebih baik.

Kelas pertama selesai, Kalu bergegas ke perpustakaan untuk menikmati koneksi wifi yang stabil. Shila datang, menunda langkah Kalu. Shila menanyakan tentang cerita horor yang Kalu tulis. Kalu tidak sabar menceritakan kepada Shila tentang respon para pembaca. Mulutnya hampir terbuka, tapi Shila mendahuluinya.

“Kenapa nggak dikirim ke aku dulu? Biasanya kan gitu, selalu! Kamu kirim tulisan itu ke aku sebelum dikirim ke bos kamu itu. Udah ngerasa jago? Udah nggak perlu minta saran dari aku?”

Semalam, Kalu lupa melakukan hal yang selalu dia lakukan. Dia terlalu bersemangat.

“Maaf, Iyut. Aku semalam langsung kirim ke Mas Edo. Terus kata dia oke. Kita coba terbitin. Aku pikir ya memang sudah oke.”

“Tapi itu bukan kamu Kal. Kamu cocoknya nulis romance. Nggak peduli apa yang lagi populer di kampus kita, kuntilanak kek, sundel bolong kek, tuyul, apa pun itu. Lagian cerita horor kamu itu nggak jelas.”

“Tapi mas Edo bilang ok. Teman-teman aku yang baca juga pada kasih pujian, Yut.”

“Terus kamu jadi merasa jago gitu nulis horor?”

“Yut, bos aku mas Edo ya. Bukan kamu. Kenapa kamu yang jadi ngatur konten sih?”

Mereka saling diam sepersekian detik. Sampai akhirnya Shila pergi lebih dulu meninggalkan ruang kelas Kalu. Beberapa mahasiswa yang masih berada di kelas memandang ke arah Kalu. Wajah sendu lelaki itu, kali ini marah. Kalu tidak habis pikir jika Shila begitu mempermasalahkan cerpennya. Padahal, Kalu berharap kekasihnya itu memberikan apresiasi atas cerpen horor pertamanya. 

Dua hari Shila tidak mengubungi Kalu, begitu pun sebaliknya. Kalu semakin menikmati pengalamannya menulis cerpen diluar genre yang dikuasainya sejak lama. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Mas Edo, nongkrong di gazebo depan fakultas. Tentu saja, banyak perempuan yang dengan sengaja mendekati Mas Edo, sementara Kalu berkali-kali menggaruk kaki karena yang mendekatinya adalah semut. Biasanya, Shila datang sekadar bertanya sedang nulis apa atau mengerjakan apa dan meletakkan infused water di dekat Kalu.

“Dihabisin ya.” Setelah itu pergi sambil ketawa ketiwi dengan teman-temannya.  

Kalu menatap layar hapenya. Foto Shila terpampang jutek disana. Tapi tetap cantik. Terbersit untuk menghubungi Shila dan meminta maaf lebih dulu. Kalu mengurungkan niatnya. Lebih baik memintaa maaf secara langsung. Kalu mencari waktu yang tepat.

Malam hari pukul 7, Kalu datang ke kos Shila. Biasanya, Shila sedang duduk di teras sambil bermain gitar. Tapi kali ini, dia tidak ada. Ibu kosnya bilang, Shila pergi dengan teman lelakinya. Kalu mencoba mengubungi Shila, tapi tidak bisa. Pikirannya melayang-layang.

Pagi hari sebelum berangkat ke kampus, Kalu mencoba menghubungi Shila. Hasilnya nihil. Kalu ingin datang ke kelas Shila, tapi dia tidak tahu jadwal kuliah kekasihnya itu. Lain halnya dengan Shila, dia selalu punya jadwal kuliah Kalu setiap semesternya. Kalu ingin bertanya pada teman Shila, tapi dia sama sekali tidak hafal satu pun wajahnya. 

Kalu berjalan di koridor dengan lesu. Mata kuliahnya diundur 2 jam lagi. Padahal dia sudah berusaha bangun pagi setelah semalam tidak bisa tidur memikirkan Shila.

“Hai Kal, gimana cerpennya? Udah jadi?” Mas Edo membuyarkan lamunannya.

“Nanti malam aku kirim Mas.”

Sebenarnya, Kalu sudah kehabiskan ide cerpen horor. Dia tidak tahu apa yang lagi yang harus ditulisnya, buntu. 

“Oke. Sibuk nggak?”

“Nggak si Mas.”

“Kebetulan aku lagi diskusi kecil-kecilan di kelas yang itu tuh. Gabung aja. Aku mau ke kamar mandi dulu sebentar.”

Kalu mengiyakan. Kemudian berjalan menuju kelas yang dimaksud oleh Mas Edo.

Eh, cerpennya Kalu yang horor itu ngebosenin nggak si? Gampang ditebak gitu.” 

Suara di dalam kelas menghentikan langkah Kalu. Dia memasang pendengarannya dengan baik. 

“Iya setuju banget.” Suara perempuan lain mengiyakan.

“Ah tapi aku tetep baca, like, komen aja gitu. Itung-itung mendukung websitenya Mas Edo.” Timpal yang lainnya

“Kalau aku sih nggak baca. Langsung komen KEREN, gitu aja.” 

Setelah itu, mereka tertawa, Kalu menelan ludah. Dia buru-buru pergi sebelum Mas Edo kembali dan mengajaknya masuk. Kalu menuju ke parkiran. Lalu mengendarai sepeda motornya tanpa tujuan. Baginya, perkataan mahasiswi tadi adalah salah satu jenis patah hati. Cerpen yang susah payah dia tulis, ternyata tidak sebaik yang dia kira. Orang-orang tidak menghargai karyanya, mereka hanya kagum kepada Mas Edo. 

Patah hati yang demikian, belum pernah Kalu rasakan selama dia menulis cerpen romance. Tidak pernah ada yang salah. Temannya bahkan sering mengajak Kalu berbincang tentang tokoh dalam cerpennya. Bukan sekadar bilang keren, bagus, oke. Beberapa teman perempuannya bahkan berharap jika tokoh itu hidup di dunia nyata. 

Kalu masih mengendarai sepeda motornya. Pikirannya tentang cerpen dan Shila bergantian mengusik kosentrasinya berkendara. Kalu memutuskan untuk datang ke kos Shila. Dia melihat Shila sudah berpakaian rapi. Shila masuk lagi ke kos dengan muka panik. Tidak lama kemudian, Shila keluar, masih dengan kepanikannya.

"Iyut.” Sapa Kalu 

“Kal, aku buru-buru. Udah telat.”

“Aku minta maaf.”

“Kal, A-KU U-DAH TE-LAT.”

“Kamu bener Yut. Aku nggak perlu maksain nulis cerpen horor.” 

Shila menghela napas kesal. Tapi Shila merasa harus mendengarkan Kalu.

“Cerpen horor aku jelek Yut. Mereka nggak bener-bener suka, bahkan ada yang sama sekali nggak baca. Mereka Cuma peduli sama Mas Edo, bukan apa yang aku tulis.” Lanjut Kalu.

“Aku akan nurut lagi apa kata kamu Yut, seperti biasanya.” Tutup Kalu, lirih.

“Nggak harus, Kal.”

“Kenapa?”

“Bagi aku hubungan ini nggak sehat. Kalau kamu selalu nurut apa kata aku.”

“Tapi apa yang kamu bilang selalu bener, Yut.”

“Nggak. Kalau waktu itu kamu nurut sama aku, kamu nggak mungkin dapat pelajaran dari kejadian ini kan? Kamu nggak tahu gimana rasanya kecewa ketika karya kamu disepelakan orang. Kamu nggak bakalan jadi lebih kuat Kal. Kamu cuma berada di zona nyaman yang tanpa kritikan. Dimana orang-orang suka sama cerpen romance kamu.”

Kalu dan Shila terdiam. Menyelami pikiran masing-masing. Shila melihat jam di tangannya. Sudah sangat telat untuk berangkat ke kampus.

“Kal, selama ini aku pikir aku adalah orang yang tahu segala hal  yang terbaik buat kamu. Ternyata aku salah. Kamu harus lebih berani lagi Kal untuk ikutin apa kata hati kamu. Aku nggak mau, gara-gara aku, kamu tumbuh tapi kerdil.”

“Kaya bonsai maksud kamu?”

“Aku nggak becanda Kal.”

“Aku mau tumbuh sama kamu. Boleh aku nurutin kata-katamu yang sesuai sama kata hatiku? Selebihnya, kita belajar bareng biar bisa tumbuh lebih baik lagi. Tumbuh jadi dua orang yang berbeda untuk melengkapi satu sama lain.”

Shila tersenyum, kemudian tertawa.

“Sumpah ya geli diperlakukan kaya cewe-cewe di cerpen kamu. Dah yuk ah jalan-jalan ngabisin bensin.” Shila menarik tangan Kalu.

“Katanya kamu mau kuliah?”

“Udah telat banget.”

Shila dan Kalu mampir ke warung Bu Dikin, membeli kerupuk udang. Kemudian mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol sambil menikmati kerupuk. Mereka memilih pergi ke taman kota. Duduk di tempat yang teduh.

“Iyut, kayaknya aku bakalan lebih jarang ngajak kamu makan udang di kafe.”

“Kenapa?”

“Aku nggak gajian lagi dari Mas Edo. Mau bikin blog sendiri aja.”

“Selamat bertumbuh, Kal.”








Sumber gambar: kompasiana.com

Hai, aku Gita. Tapi ada juga yang panggil April. Kali ini aku mau berbagi cara move on dari mantan. Move on itu artinya “berpindah”, jadi masih masih bersifat umum. Nggak harus tentang cinta, bisa juga move on dari baju kesayangan, motor kesayangan, sandal favorit, ikat rambut favorit, dan lain-lain. Cuma, kita lebih sering mengaitkan kata move on dengan dunia percintaan. Pasti udah akrab banget dong dengan kalimat GAGAL MOVE ON?

Sekarang, bisa jadi kamu juga sedang berada di fase ini. Makanya tertarik untuk baca. Atau, emang pengin mampir di blog aku dan mencari sesuatu untuk dihujat? Apaan si negatif thinking terus deh. Hihi. Oke balik ke move on. Di tulisan ini aku spesifik bahas tentang move on dari mantan ya, sesuai judulnya. Mantan yang aku maksud di sini bukan sekadar mantan pacar ya, tapi bisa juga mantan gebetan. Karena ada populasi manusia di bumi ini yang patah hati sebelum sempat memiliki.

Aku yakin, kalian udah melakukan berbagai usaha untuk move on dari dia. Bahkan ada yang udah melaluinya selama bertahun-tahun dan masih aja merasa gagal. Kenapa ya kok gagal? Kenapa hati kita masih tertuju ke dia? 

Yuk mari sini sayang, aku ajak kamu menelaah, ceilah menalaah. Hihi. Emh, aku ajak kamu untuk menengok enam cara move on yang mungkin selama ini sedang atau sudah kamu coba, dan mana sih sebenernya yang paling pas buat kamu.

1. Ganti nomer telfon

Ada orang yang begitu putus atau gagal memiliki calon gebetan, mereka memilih untuk ganti nomer telfon, termasuk aku. Nggak tanggung-tanggung, kartunya aku patahin, buang deh ke tempat sampah. Kalau ingat kejadiannya jadi geli sendiri. Kamu pernah nggak lakuin itu? Gimana efeknya?

Menurut aku, seketika emosi kita akan tersalurkan. Semacam, oke fine! Bye! Tapi setelah itu ada hal-hal yang sedikit merepotkan diri sendiri. Mulai dari beli kartu lagi, registrasi ulang kartu, apalagi sekarang kan ada minimal registrasi. Nah, untuk orang-orang yang sebenernya males ribet dengan hal-hal kecil (sukanya ribet sama hal besar, seperti perihal menyelamatkan dunia), ini tuh asli bikin males. Tapi gimana lagi, kartu udah terlanjur dibuang mungkin. Kan mau nggak mau harus beli lagi. Belum nanti memasuki sesi menghubungi nomer di kontak untuk kasih tahu kalau nomer telfon kita ganti. Responnya juga macam-macam, ada yang sekadar oke aku save. Ada juga tanya kok ganti lagi, nomer yang dulu berarti udah nggak dipake? Kenapa ganti nomer? 

Ya ampun, ngejelasinnya itu loh, males. Itu sih yang aku rasain. Bayangin misal kamu sering patah hati dan setiap kali itu terjadi kamu berniat untuk move on terus kamu ganti nomer, berapa orang di kontak hape yang kamu bikin kesel? Lama-lama orang juga males itu nyimpan nomer kamu. Mana ujung-ujungnya kalau nongol mau utang, atau nggak nyebar undangan. Hmm

Tapi positifnya ganti nomer yaitu kamu jadi punya nomer baru. Hihi. Ya iyalah.

2. Memblokir semua sosial media mantan

Cara yang satu ini juga nggak kalah popularnya. Uhuy. Bahkan, beberapa teman dekat kita mungkin pernah merekomendasikannya.  Dan aku pun pernah pakai cara ini karena termakan rekomendasi teman. Tujuannya sih biar nggak usah tahu lagi apapun tentang mantan dan dia juga nggak perlu tahu tentang kita.

Tapi eh tapi, justru rasa penasaran semakin berkecamuk. Yaelah berkecamuk. Pokonya malah jadi penasaran. Semacam, dia apa kabar ya? Dia sedih nggak sih habis putus sama aku? Fotoku masih ada nggak ya di sosmednya? Dia punya gebetan baru nggak sih? Dan masih banyak lagi. Alhasil, ya, buka blokir. Damn!

Pokonya, cara nomer dua ini untuk orang-orang yang perpegang teguh pada prinsip “kita berakhir di dunia nyata, berakhir juga di dunia maya”. Nah, kalau kamu termasuk golongan tersebut, cara ini bisa jadi ampuh. 

3. Menghilangkan jejak dokumentasi bersama pacar/gebetan

Cara ini akan sangat merepotkan kalau kamu adalah tipe orang yang suka post foto bareng pacar di sosmed. Misalkan, pacaran 5 tahun, seminggu tiga kali upload foto bareng, maka:

52 minggu x 3= 156 foto

Belum lagi postingan yang nggak ada foto dia tapi caption-nya tentang dia, ya kan harus dihapus atau diedit lah minimal. Itu yang di sosmed, belum yang di laptop mungkin, yang dicetak dan ditempel di dinding lengkap dengan lampu tumbler warna-warni, yang di dompet, di plafon kamar, di balik pintu, arghhh, pokonya banyak. Tapi ya nggak apa-apa agak repot. Yang penting hilangkan jejak dokumentasi. Hiya!

Buat yang punya sedikit banget dokumentasi bersama pacar/gebetan, betapa beruntungnya kamu kalau mau pakai cara ini, nggak ribet. Paling ngerasa sayang aja. Yaelah sayang, punya cuma sedikit, harus dibumihanguskan pula. 

Selain menghilangkan jejak dokumentasi foto maupun video, bisa juga dengan membuang atau mengembalikan barang pemberian mantan. Intinya si, apapun yang berhubungan sama dia, musnahkan. Katanya, biar nggak lihat dan nggak keingat-ingat lagi. Gitu. 

Eh tapi, aku masih simpan jaket dari mantan. Modelnya jaket baseball gitu, warnanya hitam abu-abu. Haha. Hai mantan, baca dong. 

4. Cari pacar/gebetan baru

Cara keempat ini nggak semudah membalikkan telapak tangan. Ya karena ini adalah perihal membuka hati dan belajar memulai dari 0 lagi. Makanya nggak heran kalau ada orang udah lama putus tapi masih sendiri. Atau, udah deket banget sama gebetan eh gagal memiliki, terus ya udah. Males nyari gebetan lagi. Walaupun mungkin udah banyak teman yang kasih saran supaya cari pengganti. Ada juga yang gercep, tiba-tiba udah dapet yang baru. Bahkan lebih baik dari yang kemarin. Kalau aku sih nggak pakai cara ini. Asli, kalau diniatin cari yang baru malah nggak dapet aku tuh. Haha. 

Bagi kamu yang mau pakai cara ini, pesan aku, nggak perlu buru-buru, nggak usah paksain dapet yang baru hanya kerena nggak betah kelamaan sendiri, jangan jadiin yang baru sebagai pelampiasan. Kalau kamu emang butuh jeda, kasihlah jeda. Oke?

5. Pindah kota/tempat tinggal/tempat kerja

Cara ini ala-ala di novel atau film-film gitu ya. Intinya, cari suasana baru. Karena dengan suasana baru bisa membuat pikiran kita lebih tenang. Sebelum memutuskan untuk pindah, ada baiknya kamu pikirin dulu dengan kepala yang berisi otak. Karena ya, dunia belum berakhir setelah kalian putus; Indomie masih seleraku, Le minerale masih ada manis-manisnya gitu, KFC juga masih jagonya ayam. 

6. Tetap menjalin komunikasi

Cara yang satu ini hanya dilakukan oleh pemeran profesional. Hihi. Atau pemeran yang sudah mencoba 5 cara sebelumnya, tapi menurutnya masih gagal. Akhirnya, ya udah lah, hai apa kabar lagi. Berlanjut menjadi penonton di story whatsup dan sosial media lainnya. Kalau jodoh ya pasti balik lagi dan berakhir di pelaminan.

Oke, sekian enam cara move on dari mantan. 

Lah terus, mana yang paling pas hei? Main udahan aja. Ngaco!

Hihi, gini teman-temanku atau bahkan mantanku yang budiman, ekhem. Untuk tahu mana yang paling pas, sebelumnya kamu harus tentuin dulu nih apasih definisi move on menurut kamu. Misal, move on itu udah nggak berhubungan sama dia, move on itu nggak sedih lagi kalau ingat dia, dan sebagainya.

Nah, kalau udah nemu definisi move on versi kamu, aku rasa salah satu dari enam cara di atas ada yang pas buat kamu. Contohnya nih, bagi kamu move on itu dapat pacar baru. Ya udah cara yang paling pas ya cari pacar/gebetan baru lagi. Atau move on itu ikut bahagia lihat dia bahagia. Berarti kamu nggak perlu blokir sosmed mantan. Walaupun mungkin ada teman yang bilang ‘yaelah ngapain masih follow mantan. Belum bisa move on?’ Abaikan! Caramu move on nggak harus sama kayak cara teman kamu move on. Nggak perlu paksain blokir sosmed kalau kamu emang nggak bisa lakuin itu. Nggak perlu paksain tetap jalin komunikasi kalau ternyata jiwa raga kamu nggak kuat lihat dia suatu saat sama yang lain. Paham?

Jadi, cara move on yang paling pas buat kamu ya yang sesuai sama kapasitasmu. Sanggupmu seberapa, sanggupmu yang mana. Bukan kata si A si harus gini harus gitu. Nggak harus. Oke?

Selamat menemukan cara paling tepat untuk move on dari patah hati terhebat.


@kutuhati


Sumber gambar: finansialku.com


Hai. Ini adalah tulisan perdanaku di tahun 2020 setelah lama libur nulis di blog pribadi. Sibuk jatuh cinta pada orang yang salah soalnya. Oke, ini bukan waktu untuk nulis cinta-cintaan. Next time ya. 

Aku mau tanya, diantara Bapak dan Ibu kalian, siapa yang paling jago dalam urusan nego? Maaf, Ibu Bapak udah nggak ada, maaf nggak tahu Bapak Ibuku siapa. Ganti pertanyaan, diantara teman laki-laki dan perempuan, mana yang paling jago dalam urusan nego? Maaf, aku nggak punya temen cowo. Haduh kok ya jadi ribet.
Gini aja, menurut kalian, diantara laki-laki dan perempuan, mana yang paling jago dalam hal nego? Ya ampun aku nggak denger jawaban kalian apa. Kalau menurut aku, perempuan.
Pertama, aku mengamati di keluargaku. Kalau pergi beli sesuatu sama Bapak, nggak ada acara nego. Harga 50k misalnya, ya dibayar 50k. Paling sampai di rumah kena semprot Ibu. Beda cerita kalau beli sesuatu sama Ibu, proses nego menuju deal itu bisa ditinggal ngurus SKCK. Terus biasanya ada sesi dimana Ibu memutuskan untuk meninggalkan si penjual. Padahal dalam hati ‘panggil aku ayo panggil lagi’.
Kedua, aku mengamati di lingkungan pertemananku. Kebanyakan teman perempuan bisa nego dengan tingkat keahlian yang berbeda. Ada yang nego sebatas ‘nggak bisa kurang nih’ ada juga yang udah pro ‘segini aja udah. Ini uangnya. Barangnya saya bawa’. 
Ketiga, aku mengamati di lingkungan sekitar. Terutama di pasar sih. Kalau Bapak-bapak yang belanja, jarang banget ada yang nego. Pilih, bayar, pergi. Semudah itu.
Dari pengamatanku itulah, aku berpendapat bahwa perempuan lebih pintar nego. Tapi, harus pintar nego nggak sih? Engga harus kok. Buat kalian kaum-kaum sepertiku yang nggak bisa nego, belajarlah untuk bilang ‘maaf, nggak jadi’. Duh, malu. Masa udah tanya harga tapi nggak jadi? Nggak apa-apa, daripada tetap beli tapi harga nggak sesuai budget. Mau kalian perempuan atau laki-laki, sah aja kalau bisa nego. Karena ada kalanya nego itu perlu. Tapi jangan nego ke pedagang kecil. Kalau bisa, kasih lebih. Mereka jualan buat bisa makan, bukan untuk kaya. Mereka nggak nyari untung besar-besaran, 500 sampai 1.000 aja udah bersyukur banget. Gitu sih dari apa yang pernah aku baca dan aku sependapat dengan itu.

www.arisanresik.com

Keluarga yang harmonis salah satunya dapat dicapai dengan adanya hubungan yang serasi dan seimbang antar anggota keluarga. Saling memuaskan kebutuhan satu sama lain serta memperoleh pemuasan atas kebutuhannya (Chales, 2008). Salah satu kebutuhan yang perlu dipenuhi yaitu kebutuhan biologis. Sebagai seorang istri, tentu ingin memberikan yang terbaik kepada suami dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis.

Menjaga kebersihan dan kesehatan daerah kewanitaan menjadi hal yang penting agar kebutuhan tersebut terpenuhi dengan baik. Daerah kewanitaan sangat sensitif, untuk itu diperlukan ramuan herbal yang aman untuk merawatnya.

Salah satu buah yang terbukti aman dan efektif untuk menjaga kebersihan dan kesehatan daerah kewanitaan yaitu buah manjakani. Caranya dengan mengoleskan buah yang telah ditumbuk ke daerah kewanitaan, atau bisa juga diminum sebagai jamu.

Di zaman yang modern ini, tidak perlu lagi repot meracik ramuan herbal tersebut karena kealamian dan manfaatnya bisa didapatkan pada produk Resik V Khasiat Manjakani. Produk ini 100% terbuat dari bahan alami dan sudah mendapatkan serifikat halal dari MUI. Teksturnya yang lembut mampu merawat daerah kewanitaan tanpa menyebabkan iritasi.

Selain itu, kandungan buah manjakani di dalamnya berkhasiat membersihkan, mengharumkan, mengatasi keputihan, dan yang paling didambakan semua wanita yaitu menambah kerapatan dan menjadikan miss V lebih kesat.

Cara pemakaiannya sangat mudah. Tuangkan ke telapak tangan secukupnya, tambahkan sedikit air kemudian dibusakan. Selanjutnya basuhkan secara lembut ke daerah kewanitaan. Diamkan selama 1 hingga 2 menit, bilas dengan air bersih.

Rasakan manfaatnya setelah pemakain. Daerah kewanitaan terawat, hubungan intim sehat, dan keharmonisan keluarga semakin hangat. Resik V Khasiat Manjakani, solusi hubungan intim keluarga masa kini.

www.arisanresik.com
#ArisanResik
#Liputan6com

 thecrossmountdora.org

Mungkin ide dalam tulisan ini terbilang telat banget buat ditulis dan diunggah, soalnya sekarang udah tahun 2018. Lebih baik telat dari pada nggak sama sekali, oke, kalimat itu emang mainstream banget. Tapi aku suka. Karena nggak ada kalimat lain yang aku tahu untuk mengemas keterlambatan menjadi sebuah hal yang terkesan bijak. Kalau kalian punya, barangkali bisa share ke aku.

Sepuluh hari terakhir menjelang 2017 berakhir, whatsApp dan Insta Story-ku penuh sama post tentang first impressions. Awalnya aku sama sekali nggak risih dengan itu semua. Lama kelamaan, “apa sih maksudnya?”

Firs impressions adalah bagaimana kesan pertama kalian saat bertemu dengan seseorang. Biasanya, kebanyakan dari kita udah neting (negative thinking) dulu kan ketika ketemu sama seseorang. Kesan pertama bakalan mempengaruhi sikap dan cara pandang kita kepada orang tersebut. Kalian pernah nggak pertama ketemu orang langsung menilai kalau orang itu galak?

Nah, dari situlah, selama beberapa waktu kita akan terus menganggap orang tersebut galak sampai suatu saat jika Tuhan menghendaki, kita kenal lebih jauh dengan orang tersebut, dan taraaaaaa. Ternyata nggak seperti yang kita kira kok. Aslinya orangnya asik, baik, seru, dan akhirnya orang tersebut jadi teman, sahababat dan bahkan pacar.

Di penghujung tahun 2017 ini, ternyata banyak orang posting tentang first impression. Mereka membuat story di akun sosial medianya. Seingat aku sih gini nih:

Sebelum tahun 2017 berakhir, aku pengin tahu first immpressions kalian waktu pertama ketemu aku. Komen ya.

Intinya gitu. Beberapa saat kemudian, muncullah story berupa screen shot DM orang-orang yang memberikan komentar. Sebagai orang yang always on instagram by very fast wifi in my dorm, aku nggak sayang kalo memutar semua story teman instagramku. Eh ini bukan karena aku nggak ada kerjaan. Tapi sungguh, dengan sawang-sinawang itu ide bisa berloncatan loh, dari mereka aku bisa dapat inspirasi buat nulis.

Dari semua komentar yang dijadikan story, kebanyakan manis. Ada yang pahit, tapi ujung-ujungnya manis.

Contoh 1:

Kakak tuh cantik, baik, ramah. Pokoknya luv banget deh. Kapan ketemu lagi ya kak?

Nggak Cuma di-screenshoot, si pemilik akun juga memberikan tambahan pemanis buatan di postingannya, “wah, makasih yah buat yang lebih cantik,” (emotikon cium)

Contoh 2:

Pertama ketemu sama lu nih, lu orangnya jutek, galak abis. Pelit. Tapi pas udah kenal, beh baiknya minta ampun.

Lagi-lagi, dikasih tambahan tulisan sama yang punya akun, “Sumpah ni anak ngeselin. Perasaan gue nggak jutek deh. But, thanks ya.” (emotikon ngakak, cium, dan lain-lain)

Aku nggak tahu yang komentar aslinya berapa orang, tapi, dari semua yang dijadiin story ya gitu, manis. Kok nggak ada komentar yang asli pahit ya? Apa emang ini orang bener-bener baik? Tapi setahuku kan namanya juga orang, nggak semua suka, ada juga yang benci. Atau orang yang benci itu nggak mau komen? Atau, yang komen itu sebenernya benci tapi terpendam? Aih. Pikiranku jadi kemana-mana.

Pertanyaannya adalah, ini orang beneran pengin tahu first immpressions orang lain atau cari eksistensi?

Ya beneran kepo lah, pengin tahu aja. Oke, kalau Cuma pengin tahu aja, buat apa komentarnya di posting? Ya pengin posting aja. Oke, terus kenapa kamu ngintip berapa orang yang udah liat story kamu dan siapa aja? Emh, ya pengin tahu aja siapa yang udah lihat. Oke. Seneng nggak kalau banyak yang lihat? Tik tok tik tok. Ada kepuasan tersendiri nggak ketika banyak yang lihat, apa lagi orang yang kamu bidik juga lihat? Tik tok tik tok.

Selamat bikin story lagi di tahun depan yak. Komentar pahitnya juga diposting dong, biar nggak manis-manis terus. Hidup butuh variasi.





Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Perempuan berkacamata yang suka menarasikan luka dengan penuh cinta.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tumbuh
  • 129 Ribu untuk Kado Ulang Tahunku!
  • Resik V Khasiat Manjakani, Solusi Hubungan Intim Keluarga Masa Kini
  • Sawilem
  • DIY Tote Bag dari Celana Jeans Bekas
  • 13
  • Sebentuk Hati yang Lain
  • Antara Lethe dan Mnemosyne
  • Enam Cara Move On dari Mantan, Mana yang Paling Pas Buat Kamu?
  • Perempuan (Harus) Pinter Nego?

Categories

  • artikel 4
  • cerpen 9

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates