Kutuhati
  • Home
    • Version 1
  • Home
  • Artikel
  • Cerpen
  • Puisi
  • Tips
  • Suka-suka

 

sumber: chatGPT

Sawilem adalah wujud ketakutan masa kecilku. Dia senjata pamungkas Ibu.

***

    Ibu menata dagangan yang baru saja diantar oleh tukang becak ke teras rumah. Tangan kecilku berusaha membantu, walaupun justru terlihat menambah kerepotan.

"Sudah, sudah. Ibu saja," Ibu merebut satu renceng ciki kesukaanku. 

"Kamu bantu yang lain saja."

"Apa?"

"Bukain warung."

    Aku melompat kegirangan. Bagian ini memang salah satu favoritku karena bisa naik ke meja warung sambil mengambil beberapa ciki yang menggantung secara diam-diam, memasukkannya ke dalam baju. 

    Warung Ibu tidak terlalu besar. Hanya sebuah kamar berukuran 2 x 3 m yang disulap menjadi warung sederhana. Tidak ada etalase kaca atau rak besi. Sayur mayur dijajakan di meja kayu buatan Bapak. Ditata rapih agar semua terlihat dan pembeli bisa dengan mudah berbelanja. Sarden, mie, tepung, gula merah, dan aneka dagangan kering ditata di etalase kayu. Lagi-lagi, buatan Bapak. Oh iya, Bapakku adalah seorang tukang. Dia suka membuat berbagai macam barang berguna dari kayu. Ibuku juga menjual kelapa parut. Alat parutnya tentu juga buatan Bapak. Walaupun tidak memakai mesin, tapi mempermudah Ibu. 

    Warung Ibu menghadap dua sisi, ke depan dan samping rumah. Aku lebih suka sisi yang menghadap samping rumah karena teduh, tertutup bayangan pohon mangga. Tidak jauh dari pohon mangga, ada tempat sampah khas orang desa. Bukan tong besar melainkan tanah yang digali membentuk persegi. Bagiku yang masih anak-anak, ukuran tempat sampah itu besar sekali dan dalam. 

    Papan penutup warung sudah dibuka sempurna. Cahaya matahari masuk leluasa, hangat. Berbagai pilihan ciki tergantung rapih, menggoda. Aku mulai menimbang dengan saksama, kali ini mana yang mau kuambil. Ya, mie kremes Anak Emas. Aku mengambil satu, buru-buru menyembunyikan di balik baju. 

"Bu, udah Bu!" teriakku menuju ke teras. Ibu masih di sana memastikan tidak ada dagangan yang tertinggal di becak. 

    Ibu mengangguk dan memberiku isyarat untuk pergi bermain. Hari minggu, aku bisa bermain sepuasnya asalkan PR sudah selesai dikerjakan.

***

"Mil, pulang! Udah adzan dzuhur!"

"Nggak mau!"

"Ibu panggilin Sawilem loh ya!"

Tanpa negosisasi, aku lari terbirit-birit meninggalkan Ibu jauh di belakang.

***

"Tidur siang! Anak kecil harus tidur siang. Ibu masih banyak kerjaan. Kalau mau ditemani tidur, buruan tidur sekarang."

"Nggak mau, masih mau main!"

"Sebentar lagi Sawilem datang itu loh nongol di jendela, bawa karung mau menculik anak yang nakal!"

Tanpa negosiasi, aku menutup mata. Membenamkan wajahku ke ketiak Ibu, rasanya aman.

***

"Mil, Ibu ada urusan sebentar. Mbah Uti minta dikerok, masuk angin kayaknya. Kamu jaga warung, sebentar aja."

"Nggak mau loh, Bu. Aku mau main. Itu mas aja main, masa aku engga!"

"Masmu laki-laki masa disuruh jagain warung, mana ngerti dia."

    Masku hanya menoleh, berlari lagi. Dia sedang bermain lempar sandal. Siapa yang terkena lemparan sandal, dialah yang jaga. Ibu tahu aku masih berat untuk mengiyakan. Tapi dia selalu tahu apa yang bisa menggodaku, tentu adalah makanan.

"Sambil nunggu Ibu, boleh makan jajan."

"Bolehnya yang mana?"

"Yang mana aja boleh."

    Kapan lagi bisa makan jajan sepuasnya tanpa harus sembunyi-sembunyi. Ini akan jadi hari yang menyenangkan. Ibu sudah pergi ke rumah Mbah Uti. Tidak jauh, rumahnya di belakang rumah kami. Aku mulai mengumpulkan jajanan yang menarik. Meletakkannya di kolong meja warung, aku biasa duduk di sana. Rasanya seperti sedang makan di dalam tenda atau semacam tempat rahasia yang tidak terlalu rahasia karena cukup terbuka. 

"Mil, Ibu ada?" 

"Lagi di Mbah Uti."

    Pembeli itu mulai memilih belanjaan, ini itu dan masih banyak lainnya. Jujur saja aku tidak hafal berapa harganya. Aku tidak khawatir jika tidak bisa menghitung semuanya, toh pembeli satu ini memang sering datang dengan kalimat andalannya, 1 2 3.... Aku berhitung dalam hati.

"Hutang dulu, nanti bilang Ibumu."

    Aku mengangguk dengan mulut penuh makanan. Kuberikan kertas bekas bungkus obat nyamuk dan pulpen agar pembeli itu bisa menulis semua yang diambil. Kuperhatikan satu-satu, jangan ada yang terlewat, kasihan Ibu nanti rugi.

***

    Ibu belum juga kembali. Tapi aku senang. Artinya, aku masih bisa makan jajan lebih banyak lagi. Pembeli datang dan pergi. Kebanyakan anak-anak, hanya membeli ciki, permen atau garam disuruh oleh ibu mereka. Tidak ada yang datang lagi, sepi. Kesempatan emas untuk bersantai di kolong. Aku terus mengunyah, ini seperti pesta kecil yang dirayakan dengan puas. Bungkus jajanan berserakan dimana-mana. 

Ada yang menarik perhatianku! 

    Mataku menangkap sebuah bayangan, dia berjalan. Samar terlihat dari celah dinding kayu. Tidak ada suara manusia, hanya desir angin dan suara daun pohon mangga bergesekan. Aku mengintip. Deg! Jantungku berdegup kencang. Itu Sawilem!

    Sekarang dia berdiri tepat di depan warung. Aku bisa merasakan bahwa saat ini dia sedang memegang dagangan Ibu. Berlagak memilih, seperti pembeli pada umumnya. Dia tertawa kecil. Tubuhku mulai gemetar. Makanan di mulut belum sempurna lumat, terpaksa kutelan. Rasanya aku butuh air, sangat butuh. Aku tersedak. Suara batuk itu tidak tertahankan.

"Uhuk! Uhuk!"

    Kututup mulut dengan kedua telapak tangan. Perlahan suara tawa Sawilem berhenti. Dia mulai mencari sumber suara. Aku memeriksa keadaan lewat celah. Kali ini, Sawilem mulai menundukkan badannya. Dia menemukan celah itu, tertawa kencang. Tangisku pecah, berteriak. 

"Ibuuuuuuuuuuuuuu!"

    Mendengarku menangis, Sawilem mencoba masuk ke warung dengan cara memanjat meja. Dia berhasil. Sekarang badannya tepat di atas meja, kepalanya melongok ke kolong. Rambut gimbal, bau, kotor dan beruban menjuntai tepat di depan wajahku. Badanku gemetar hebat, seperti akan diterkam oleh binatang buas. Pesta kecil itu kini berubah menjadi petaka.

Satu kaki Sawilem hampir menyentuh ubin. Tangannya berusaha meraihku. 

"Hahahahah" tawanya semakin menjadi-jadi.

"Hei1! Pergi sana pergi!

    Ibu datang tepat waktu. Jika tidak, mungkin yang selama ini Ibu bilang, Sawilem datang membawa karung untuk menculik anak nakal, benar-benar terjadi. 

    Ibu mengangkat sapu ijuk, mengarahkan ke Sawilem untuk menakuti. Disusul Bapak membawa bilah kayu.

"Keluar!" Bapak berkata dengan tenang sambil tetap menganyunkan bilah, waspada. 

    Ibu meraihku agar bisa keluar dari kolong meja. Aku berlindung di balik badannya, sudah tidak menangis hanya masih gemetar.

***

    Setelah kejadian itu, aku menjadi lebih menuruti apa kata Ibu. Rutin tidur siang, pulang main tidak lebih dari waktu sholat Dzuhur. Semuanya membaik. Sekali pun Sawilem datang, dia hanya meminta jatah tempe busuk. Bukannya Ibu tidak mau memberikan tempe yang masih bagus, tapi Sawilem memang tidak menyukainya. Dia penggemar tempe busuk. 

***

    Apakah kamu tahu apa yang lebih gila dari Sawilem? Iya, usia 30. Bedanya aku tidak berkeliaran di jalan. Ternyata dewasa itu sibuk menghitung pengeluaran padahal gaji belum masuk rekening, menunda keinginan sendiri demi bisa memenuhi kebutuhan anak, berdamai dengan bunyi token listrik, mulai bisa makan sayur pare dan sayuran pahit lainnya, keranjang belanja 99+ tapi nggak ada yang di-checkout, pinjam tabungan sendiri tapi nggak diganti. Saw, ternyata tawamu dulu adalah tawaku sekarang. Hahahahahahahahaha. 







Sumber: Pinterest


"Kalau kecewa sama manusia, marahnya jangan ke Allah Za!"

    ***

    Pulang sekolah selalu menjadi momen yang dinanti. Bukan karena ingin segera sampai di rumah, tapi pergi ke tempat lain yang dirasa lebih aman dan menyenangkan. Tidak ada yang menghakimi, semua seolah mengiyakan apa saja yang ada di pikiran Za dan bagaimanapun perilakunya di luar sekolah. Temannya bukan tidak mau menasihati, mereka hanya tidak mau Za pergi lebih jauh. Mencari nyaman yang semu. 

"Gimana kalau nanti ngemall aja?" tanya Za kepada Risa.

"Bosan nggak sih? Ke rumahku aja, Umi bikin cemilan enak."

"Setujuuuu", seru dua teman lainnya, Nur dan Alisa. 

Mereka memesan taksi online. Belum masuk ke mobil dengan sempurna, Za buru-buru melepas jilbab.

"Arghhhhh gerah banget sumpah nggak jelas nih jilbab" gerutunya.

"Tutup dulu pintunya please, nanti dilihat guru loh!" Risa memperingatkan.

    Pintu sudah tertutup dengan sempurna. Mereka melaju ke arah rumah Risa. Perjalanan penuh gelak tawa khas remaja. Sopir taksi online hanya bisa geleng-geleng kepala.

***

    Suasana hangat rumah Risa selalu menyambut mereka. Tidak dipungkiri, dalam hati Za dia sering kali membanding-bandingkan orang tua Risa dengan orang tuanya. Bagi Za, orang tua Risa sempurna tanpa cela. Menyenangkan, hangat dan selalu ada. Sementara rumahnya, sepi dan berantakan. Za merasa tidak beruntung dalam hal apa pun.

"Nah ini umi udah bikin camilan, soalnya semalam Risa cerita katanya kalian mau main ke rumah, dihabiskan ya."

"Siap, Mi. Aman udah pasti habis, kan ada Za," Za mengambil risol dan memasukkannya ke mulut sampai penuh. 

Za masih sibuk mengunyah risol sambil memandang layar ponsel. Sesekali menggerutu kecil.

"Apaan deh ngomel melulu. Cepet tua!" tegur Risa.

    Za tidak merespon, kembali sibuk dengan ponselnya. Sementara itu Risa, Nur dan Alisa berbincang tentang sekolah lanjutan yang mereka incar. Ketiganya membidik sekolah Negeri yang berbeda. Dua diantaranya berencana pindah ke luar kota. Nur dan Alisa memang sering kali berpindah dari kota satu ke kota lain karena pekerjaan orang tuanya.

"Nanti kalau aku sama Alisa pindah tetap komunikasi ya. Awas aja kalau jadi sombong,"

"Eh kamu capek nggak sih pindah-pindah terus?" tanya Risa.

"Capek lah. Kirain tuh nggak bakalan pindah lagi karena udah 3 tahun kan. Padahal aku berharap selamanya bisa sama kalian ih. Seru."

"Za, kamu jadinya mau lanjut sekolah di mana?" Alisa menyenderkan kepala ke bahu Za, sedikit mengintip layar ponsel.

"Belum tahu, nggak sekolah kali." Jawabnya sambil tertawa. Tidak ada yang lucu. Za hanya sedang menyembunyikan sesuatu, temannya sudah memahami itu.

    Tidak ingin membuat suasana menjadi canggung, Risa mengajak ketiga temannya untuk menonton film horor terbaru. Sejenak, Za teralihkan sebelum harus benar-benar pulang ke rumah yang sama sekali tidak dia inginkan.

***

    Za membuka pagar rumahnya, lampu teras masih menyala sejak semalam. Dia lupa tidak memadamkannya. Beberapa paket menumpuk di kursi teras. Semua tertuju untuk kakaknya, Trian. 

"Cowok hobi banget belanja online," gerutunya sambil membawa masuk tumpukan paket itu. Seperti biasanya rumah sepi, piring bekas sarapan tadi pagi masih tergeletak di wastafel. Di meja jus buah sisa setengah gelas, kulit roti tawar gosong berantakan, dan pecahan piring masih berada di tempat terakhir mendarat, dekat kursi yang diduduki Za pagi tadi. Tidak ada yang berubah, semua masih sama persis seperti sebelum dia berangkat sekolah. Bedanya, sekarang Za sendirian. 

    Za menyalakan lampu dengan lesu dan menahan takut. Ia sebenarnya tidak nyaman dengan gelap dan sepi. Tapi begitulah kenyataan yang dia hadapi. Semuanya berubah sejak Ayahnya meninggal. Dunianya tidak lagi berwarna ceria. Hanya ada hitam dan putih, terutama di mata Ibunya. 

***

    Suara sepeda motor kak Trian terdengar, Za bangkit dari tempat tidur, mengintip di jendela, lega. Setidaknya dia tidak lagi sendirian. Walaupun keberadaan Trian tidak juga memecah suasana hening, mereka hampir tidak pernah saling bicara dan mendengarkan satu sama lain. Sudah hampir tengah malam, belum ada tanda-tanda Ibunya pulang. Di pikiran Za kembali terlintas kejadian tadi pagi di meja makan saat Ibu marah dan membanting piring, berlalu pergi. 

    Hubungan mereka memang kurang baik sejak Ayah meninggal, tapi Za selalu menunggu Ibunya pulang sekali pun ia dalam keadaan marah. Playlist lagu kesukaan Za sudah habis diputar, semua media sosial sudah selesai dia jelajahi, bosan. Badan mungilnya tenggelam di balik selimut tebal dan suhu dingin kamar. Suara jam dinding seperti sedang berusaha agar Za tetap terjaga. Helaan napasnya tidak bisa berbohong, Za mulai gelisah. 

"Besok hari libur, nggak apa-apa kalau nggak tidur" bisiknya lirih kepada diri sendiri.

***

"Za lanjut sekolah di pesantren," Ibunya menyodorkan tab. Di layar menampilkan video profil sebuah pondok pesantren.

"Ini usaha terakhir Ibu buat jagain Za, seperti pesan Ayah!"

    Za menonton video sampai selesai namun pikirannya tertuju entah ke mana. Dia hanya sedang menghargai Ibunya.  

"Semalam ibu pulang jam berapa?" Za meletakkan tab di meja, berjalan ke sudut ruangan tempat di mana ia biasa menyimpan bola basket.

"Sebelum tengah malam juga udah pulang."

    Za tahu Ibunya berbohong karena Za terjaga sampai pagi, Ibunya baru pulang pukul empat. 

***

    Lapangan basket di tengah komplek perumahan itu terlihat usang di mana-mana. Hanya satu ring tersisa, cat lapangan memudar bahkan hampir tidak dikenali warna aslinya. Ketukan bola basket mengikuti irama degup jantung Za, ia sedang marah. Berkali-kali Za melemparkan bola tanpa arah, lebih tepatnya membanting. Tanpa pikir panjang, Za melepaskan jilbab dan jaketnya. Sekarang rambut pirangnya terlihat mengkilap di bawah sinar matahari pagi. Za merasa semua yang terjadi di hidupnya tidak adil. Allah tidak pernah memberi apa yang Za inginkan. 

"Astaghfirullah Za!" Suara Trian terdengar setengah berteriak. Dia berlari menghampiri Za, buru-buru memakaikan jaket dan jilbab.

"Kamu itu calon santri! Apa-apaan buka jilbab di sini Za? Kalau Ibu tahu kamu bakalan..."

"Bakalan apa? Masuk neraka? Lagian ngapain aku suruh masuk pesantren tapi kakak engga? Nggak adil. Pilih kasih. Emang cuma Ayah yang ngertiin Za!"

"Kalau kamu kecewa sama manusia, marahnya jangan ke Allah Za!"

"Terus ke siapa? Ke Ibu yang nggak pernah dengerin maunya Za? Ke Kak Trian yang nggak pernah belain Za? Iya?"

***

    Keputusan Ibu sudah bulat untuk mendaftarkan Za sekolah di pesantren. Hari-hari menjelang kelulusan terasa tidak istimewa. Bahkan Za berharap dia tidak lulus. Ia menutup diri dari teman dekatnya. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh mereka, hanya bisa berharap Za bisa berdamai dengan keputusan Ibunya.

"Oke Za nurut sekolah di pesantren. Tapi Za punya syarat!"

"Apa?" Ibunya berbinar, ia bahagia karena akhirnya putri satu-satu itu luluh.

"Jangan pernah nengokin Za ke pesantren selama 3 tahun. Jangan beri kabar apapun lewat pengurus pesantren. Apapun! Za mau sendirian selama 3 tahun, tanpa Ibu, tanpa Kak Trian. Sekali saja Ibu atau Kak Trian melanggar, Za benar-benar tidak mau pulang ke rumah."

    Ibu dan Trian diam saling pandang, menarik napas berat. Bahu Ibu mulai merunduk lesu, pelan bersandar di kursi. Mata yang berbinar kini berubah sendu. Trian memegang tangan Ibu. Matanya terus memastikan bahwa wanita di sampingnya baik-baik saja. 

***

    Za merasa sangat asing di tempat baru. Dia yang biasanya ceria di sekolah, kali ini ingin menjadi pribadi yang baru, pendiam, menyendiri, dan tidak banyak bicara. Tahun pertama begitu berat bagi Za, tapi dia bertahan sesuai janjinya. Setiap kali jadwal kunjungan santri tiba, Za memilih berdiam diri di kamar, mengaji pelan menahan tangis yang bahkan air matanya saja seolah sudah kering. Tahun berikutnya dia semakin kuat tapi keras. Ia paham betul bahwa hatinya kini membatu, tapi dia tetap pada arah yang benar. Keterpaksaan itu lambat laun membuatnya semakin dekat dengan Rabb-Nya. Sesekali Za sangat yakin bahwa ia bisa melepaskan satu per satu luka di hidupnya. Ia mulai memaafkan banyak hal yang sudah terjadi. Kecewa yang selama ini entah tertuju pada siapa, pelan namun pasti, memudar. 

***

    Za tidak bisa tidur pulas di kereta. Meskipun malu, Za akhirnya mengaku kepada diri sendiri bahwa ia rindu Ibu dan Kak Trian. Senyum tipisnya memantul di kaca jendela kereta. Laju kereta terasa lambat, Za mulai gelisah mengatur posisi duduk. Tangannya menggengam ponsel yang selama 3 tahun ia titipakan di pengurus pondok pesantren. Perlahan ia memencet tombol on. Tidak ada yang bisa dihubungi karena kartunya sudah lewat masa tenggang. 

    Peron stasiun penuh lalang manusia. Ada yang datang melepas rindu di kota ini, ada yang datang memang untuk mengadu nasib. Za mempercepat langkah kaki agar segera keluar dari stasiun, memesan ojek, pulang. 

***

"Assalamu'alaikum, Bu, Kak Trian!" ia tidak sabar menunggu pintu dibuka.

    Sepi, tidak ada jawaban. Tapi ini hari Minggu, biasanya di rumah ada orang. Za yang gelisah memutuskan untuk menunggu di gazebo halaman rumahnya. Satu dua jam, Kak Trian pulang. Ia memeluk adik satu-satunya dengan erat. Trian senang sekali, pelukannya disambut dengan hangat oleh Za yang selama ini dingin. Trian seperti tidak percaya bahwa hari yang ditunggu sudah tiba. Trian tidak kalah sepinya dari Za.

"Kenapa nggak kabarin kakak?" 

"Nomornya lewat masa tenggang, Kak. Ibu mana?"

Mata Za terus mencari, berharap Ibunya masih di dalam mobil membereskan barang belanjaan.

"Ada kok, Ibu ada. Yuk masuk dulu." Trian bisa melihat bahwa adiknya banyak berubah. Dulu, dia sangat ketus jika diajak berbicara. 

"Ada dimana? Di rumah? Dari tadi Za pencet bel nggak ada yang nyaut, Kak."

"Masuk dulu, istirahat." Trian memastikan semua baik dan tidak ada yang perlu Za khawatirkan.

***

"Ibu lagi ada urusan dulu Za."

"Tadi katanya ada."

"Iya ada. Tapi kan kakak nggak bilang ada di rumah,"

Za menganggung-angguk. 

"Nanti sore ikut kakak yuk! Kamu lama loh nggak nengokin makam Ayah. Sudah 3 tahun, ya kan?"

"Boleh. Za juga kangen"

***

    Trian benar, dia mengajak Za ke makam Ayah. Tapi sekarang ada yang lain di samping makam yang nisannya sudah usang itu. Mata Za terasa sangat panas, dia menahan air mata agar tidak meleleh di sudut. Ke mana pun Za memandang, asal bukan ke makam di samping Ayahnya. Tubuh Za rasanya ingin ambruk. Za kembali mengingat kalimat terakhirnya saat Ibu meminta dia untuk sekolah di pesantren. Ibu dan Kak Trian tidak ingar janji. 

    Za berandai mereka tidak pernah menepati janji itu. Biar saja Za marah, biar saja Za tidak lagi pulang ke rumah. Asalkan Ibu tetap hidup. Setidaknya jika Ibu masih ada, ia akan berkali-kali menelfon memintaa maaf karena sudah ingkar janji dan membujuk Za untuk pulang. Jika yang terjadi demikian, hati Za tentu akan luluh. Karena sejak tiga tahun di pesantren memang Za sudah mulai memaafkan segalanya, termasuk rasa kehilangan yang sudah lama tinggal di dalam hatinya. Za, kehilangan arah lagi.




Hai, rasanya canggung sekali setelah sekian lama tidak menulis. Tahun 2021 aku telat membayar perpanjangan domain. Sejauh yang kuingat itu karena sedang dalam masa sulit Covid-19. Aku bekerja di Madiun, terisolasi sementara waktu. Penghasilan? tentu saja mengalami banyak penyesuaian. Apa yang membuatku akhirnya mengaktifkan domain lagi padahal sudah 5 tahun berlalu? 

Beberapa waktu lalu aku mampir ke hanatfutuh.com, blog milik kakak tingkat yang sudah aktif menulis sejak kuliah sampai sekarang. Di sana aku membaca sebuah kalimat yang kurang lebih begini "merawat ingatan lewat menulis". Dahiku berkerut, mencoba mengingat hal-hal yang aku lewatkan selama lima tahun terakhir. Ternyata banyak sekali yang hanya kuingat sepotong kecil. Lebih banyak hal menyakitkan daripada bahagianya. Padahal hidup mana yang selalu sengsara, iya kan? Bahagia dan luka pasti berdampingan. Tapi rasanya ingatanku berhenti di satu titik saja yaitu luka. 

Wah, ini tidak baik, pikirku. Sepertinya ada yang salah. Memang setelah menjadi ibu aku menyadari bahwa daya ingatku menurun, kemampuanku untuk berkonsentrasi juga tidak sebaik sebelumnya. Jujur saja lima tahun belakangan aku malas sekali membaca sampai tuntas. Menulis? Ya hanya sekadar mencatat urusan pekerjaan di notes ponsel.

Benar juga yang Mbak Hanat tulis, menulis bisa jadi salah satu cara untuk merawat ingatan. Tanpa banyak berpikir, aku mengirim pesan di instagram kepada salah satu adik tingkat yang dulu membantuku membuat kutuhati.com. Dia menyarankanku menghubungi pihak penyedia domain untuk memastikan apakah domainku masih bisa diaktifkan kembali. Ternyata masih bisa, wah aku senangnya bukan main. Kubayar perpanjangan domain 129 ribu. Kuanggap sebagai hadiah ulang tahunku. 

Apakah terkesan menyedihkan? 129 ribu untuk sebuah hadiah yang kuberikan untuk diri sendiri? Ah tidak juga. Ini ulang tahun spesial karena 30 untuk usia 30. Maka aku ingin memberikan ruang yang panjang dan luas untuk menulis. 

Selamat datang usia 30, kita menulis lagi ya. 



 

Sumber gambar: hitecno.com


Menjadi admin akun instagram dengan konten yang lucu adalah pilihan terakhir Nino setelah ditinggal menikah oleh pacarnya, Mila. Pekerjaan Nino yang terbilang cukup banyak waktu luang membuat dia harus mencari kesibukan ekstra agar bisa melupakan mantannya. Lima tahun pacaran tentu bukan waktu yang sebentar. Kenangan manis dan pahit sudah terpatri di ingatannya. 

Sebagaimana sebuah luka, lama kelamaan akan sembuh juga walaupun tidak sempurna. Setidaknya Nino bisa bernapas lega ketika tiba-tiba ingatan tentang Mila muncul. Nino tidak lagi merasakan sesak di dada. Tiga tahun usaha untuk melupakan Mila, tampaknya memang membuahkan hasil. Meskipun hingga saat ini Nino belum juga mendapatkan pacar baru. 

Sebenarnya, wajah Nino lumayan ganteng. Tidak jarang banyak cewek pelanggan konter tempatnya bekerja meledek Nino. 

“Lumayan good looking kok masih jomblo Mas Nino. Sama aku aja, mumpung suami lagi kerja luar kota.”

Nino tidak menggubris karena kebanyakan yang naksir adalah ibu-ibu muda yang kesepian. Di sela pekerjaan utamanya, Nino sibuk mengelola sosial media yang digawanginya. Setiap hari setidaknya ada 3 konten lucu yang dia unggah. Konten tersebut selalu berhasil membuatnya terhibur dan merasa dunianya sedang baik-baik saja. 

Seperti biasa, setiap Selasa dan Kamis malam, Nino mengadakan sesi QnA maupun sharing. Topiknya beragam dan selalu berganti-ganti. Kamis malam kali ini adalah tentang hal konyol saat kencan pertama. Balasan dari para followers akan Nino bagikan di IG story tanpa mencantumkan nama akun mereka. Ini adalah sesi paling seru. Dari situlah Nino bisa menghibur diri. Kadang memang lebih baik membaca kisah orang dari pada membaca kisah sendiri. 

“Kekonyolan saat kencan pertama versi aku nih min. Aku janjian di taman malam-malam. Aku sama doi milih duduk di bangku bawah pohon. Milih yang agak gelap soalnya. Haha. Lagi ngobrol sambil pegangan tangan, tiba-tiba doi kesurupan. Pengin punya pacar yang mukanya estetik eh dapetnya malah yang mistis begini. Sial!”

Nino jadi teringat mantan kekasihnya. Mila juga penuh dengan hal-hal mistis dan misterius. Dia tidak mau diajak jalan pada malam dan hari-hari tertentu karena katanya pantangan. Dalam hal memilih pacar, Mila juga sangat selektif. Ada kriteria tertentu yang Nino sendiri tidak tahu sampai saat ini.

“No, kamu yang terbaik. Aku seneng bisa kenal kamu. Kamu memenuhi semua kriteria. Jangan tanya kriterianya kayak apa. Kamu cukup bercermin dan lihat ada siapa di cermin itu.”

“Ada aku lah, Mil. Iya kan?” 

Mila hanya tersenyum kala itu. Sampai saat ini, Nino belum pernah benar-benar bercermin. Nino takut kalau dirinya tidak seganteng yang dia kira. Nino tentu sangat bangga bisa dicintai oleh Mila yang cantik dan anak orang berada. Teman-temannya banyak yang tidak percaya dan mengira jika Mila diguna-guna oleh Nino.

“Permisi.”

Suara perempuan mengalihkan fokus Nino. Nino menoleh. 

“Mas, mau beli kartu.”

Wajah perempuan itu tidak terlihat jelas karena memakai masker dan sibuk melihat-lihat kartu perdana di etalase. Rambutnya hitam panjang terurai. Nino kenal dengan bau parfumnya, wangi bebungaan yang menyengat.

“Mil....” 

“Nino. Hai apa kabar?” Sapa mila sambil melepas masker.

“Baik, Mil. Kamu kapan kesini? 

“Kemarin. Kebetulan lagi ada urusan.”

“Oh..Eh malah aku nggak tanya balik. Kamu gimana kabarnya? Emh, lebih tepatnya keluarga kecilmu bagaimana?”

“No, kartu yang ini dong satu.”

Mila mengalihkan pembicaraan. Nino mengambil kartu yang dimaksud Mila. 

“Sekalian di registrasi ulang ya No. Aku bawa catetan no KK dan NIK nya kok.”

Nino mengangguk. 

“Satu lagi, pulsanya sekalian.”

Setelah selesai, Mila langsung bergegas dengan wajah yang murung. Nino memandangi nomer telfon Mila yang tercatat di buku pembelian pulsa. Dia bermaksud untuk menghubungi Mila untuk menanyakan keadaannya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. 

“Ah nanti dikira petrikor, pengganggu istri orang.” Gumamnya sambil menutup buku tersebut dan bersiap menutup konter. 

Sepanjang perjalanan pulang, Nino terus memikirkan Mila. Tiga tahun perjuangan melupakan, sekarang terancam goyah karena pertemuan yang sebentar. Selama seminggu, Nino berhasil menahan hasratnya untuk mengubungi Mila. Tapi hari ini, dia gagal. Tanpa basa-basi Nino langsung mengirim pesan dan menanyakan perihal kemurungan Mila seminggu yang lalu.

Nino sudah bersiap diri jika yang membalas adalah suami Mila dan dia kena semprot. Jantungnya berdegub lebih kencang, matanya tajam menatap layar ponsel. Kluning! Mila membalas pesannya dan mengajak Nino bertemu. Kepalang senang, Nino mengiyakan tanpa pikir panjang.

Malam minggu mereka bertemu di tempat ngopi. Mila mengenakan dress putih. Rambutnya panjang terurai. Wajahnya masih muda. Tubuhnya masih ramping dan berisi. Nino yakin banyak orang mengira jika Mila masih single. 

“Kamu mau aku pesankan kopi hitam, Mil?”

“Boleh.”

Malam itu, mereka berdua seperti pasangan muda mudi yang sedang dimabuk asmara. Cerita di atas meja kopi tidak sepahit kopi hitam tanpa gula pesanan Mila. Nino memegang tangan Mila. Dia lupa siapa yang sedang ia kencani malam ini.

“No, bagian manisnya udah aku ceritain. Sekarang pahitnya.” Ujar Mila lalu menyeruput kopinya.

“Oke aku siap dengerin, Mil.”

“Mungkin ini karma ya No karena aku udah ninggalin kamu tanpa alasan. Seratus tiga puluh hari setelah nikah sama Mas Ardit, aku hamil.”

“Eh bentar Mil” Nino menyela “Kenapa pakai kata seratus tiga puluh hari? Kan bisa gitu 3 bulan?”

“Biar lebih pasti aja. Kamu kan tau aku orangnya detail. Aku lanjutin ya. Anak aku lahir normal. Sayangnya, di usianya yang baru 13 hari, dia meninggal. Nggak ngerti kenapa. Meninggal begitu aja. Selang 13 bulan setelah setelah anak aku meninggal, Mas Ardit nyusul anak aku No.”

“Nyusul ke kuburan?”

“Iya maksud aku dia meninggal.”

Antara sedih dan senang, itu yang Nino rasakan setelah mendengar cerita Mila.

Setelah pertemuan malam itu, Nino dan Mila semakin dekat. Mila memustuskan untuk memperpanjang kunjungan ke rumah saudaranya demi bisa berlama-lama dengan Nino. Tidak butuh waktu lama untuk mereka kembali menjalin cinta. Nino membayar 3 tahun perjuangan melupakan Mila dengan cara menikahi janda muda itu. 

“Maaf ya No. Nggak semewah dulu waktu aku nikah sama mas Ardit. Soalnya orang tuaku usahanya lagi bangkrut. Jadi nggak bisa nyumbang dana lebih.”

“Aku yang harusnya minta maaf Mil. Nggak bisa bikin resepsi yang mewah.”

“Tapi tenang aja, nanti pasti kita kaya kok.” 

Nino tertawa. Bahan becandaan istrinya kali ini cukup membuatnya optimis jika suatu saat nanti mereka memang akan menjadi orang kaya.

Seminggu setelah menikah, Mila terlihat gelisah. Setiap kali ditanya, dia tidak mau menjawab. Nino tidak mau memaksa istrinya untuk bercerita. Baginya, Mila pasti akan bercerita jika sudah siap. Malam itu, seperti biasa Nino bekerja sampai pukul 9 malam. Sambil menunggu pembeli, dia kembali membuka sesi sharing di media sosial. Kamis malam kali ini tentang rahasia.

Nino membaca komentar dari followers satu per satu.

“Min, aku nggak tahu ini rahasia apa bukan. Aku sayang banget sama suamiku yang sekarang. Tapi aku terpaksa nyakitin dia. Kalau bisa memutar takdir, sejak awal aku lebih milih dia dari pada ayahku. Malam ini, mungkin malam terakhir aku lihat dia Min.”

Dahi Nino berkerut. Dia mengklik profil akun tersebut.

“Mila!” Nino terkejut. Nino mengusap wajahnya. Beruntung Nino belum menceritakan tentang pekerjaan sampingannya sebagai admin. Sehingga Mila tidak tahu jika dia sedang membuka rahasia kepada suaminya. 

Hati pengantin baru itu resah. Dia izin pulang cepat. Sesampainya di rumah, istrinya tidak ada. Nino berdiri di depan cermin di kamarnya. Kali ini, dia benar-benar bercermin. Nino memandangi pantulan dirinya. Hanya ada dia. Dia yang menyayangi Mila dengan baik.

“Harusnya kamu cuma lihat aku Mil. Nggak ada orang lain di cermin. Cuma aku. Emang ada yang lebih berharga dari aku? Orang yang kata kamu terbaik?” Nino bicara sendiri.

“No.” Mila muncul dari balik horden.

“Mil. Malam ini kamu mau pergi? Salah aku apa Mil?”

“Nino maaf. Harus kaya gini cara aku ngasih tau ke kamu. Aku tahu kamu admin akun itu kok. Makanya aku tulis pesan itu buat kamu. Aku cuma bisa sampaikan lewat tulisan. Aku nggak sanggup kalau ngomong langsung.”

“Kamu mau pergi kemana?” tanya Nino lagi, matanya berair. 

“Bukan aku yang pergi, No. Tapi kamu.” 

Nino kembali menatap cermin, dia tidak sendirian. Itu adalah hal terakhir yang dia lihat sebelum dia pergi untuk selamanya.

Mila berjalan ke arah meja rias. Mengambil standing calender lalu menyilang sebuah tanggal menggunakan spidol merah.

“Tiga belas November 2020, Nino.” ucapnya lirih. 



Dokumen Pribadi


Halo, selamat datang di Kutuhati dan salam kenal buat kalian yang baru aja mampir di personal blog aku. Bagi kalian yang udah kenal aku, kali ini kontennya beda banget ya dari sebelumnya. Lagi iseng nih di rumah kebetulan cuti 3 bulan karena habis kecelakaan dan operasi tulang ekor. So, bosen banget ya kan di rumah. Nah buat ngisi waktu yang teramat luang, aku mau DIY tote bag dari celana jeans bekas. Kebetulan di rumah punya lumayan banyak celana jeans yang udah nggak kepake. Karena aku udh 6 tahun ini stop pakai celana jeans.

Yuk langsung intip gimana cara pembuatannya:

1. Siapkan celana jeans yang udah nggak kepake. Nggak harus celana si, rok atau jaket gitu juga bisa asalkan udah nggak kepake. Potong bagian bawah sepanjang 45 cm. Untuk ukurannya bisa sesuai selera ya. Boleh lebih atau kurang dari 45 cm.

Dokumen Pribadi

2. Setelah dipotong, gunting bagian jahitannya seperti gambar di bawah ini ya.

Dokumen Pribadi


3.Gambar pola kotak ukuran 8 cm x 8 cm di bagian pojok bawah kain seperti gambar berikut. Ukuran pola sesuai selera ya. Semakin lebar maka volume tas kalian semakin besar. Begitu juga sebaliknya.

Dokumen Pribadi


4.Setelah digambar polanya, gunting bagian tersebut. Agar hasilnya lebih akurat dan rapih, kalian bisa menggunakan bantuan jarum seperti gambar di bawah ini.

Dokumen Pribadi


5. Setelah kedua pola tersebut dipotong, kain akan tampak seperti gambar di bawah ini. 

Dokumen Pribadi


Jahit bagian yang aku kasih tanda garis putus-putus warna merah ya. Boleh jahit manual pakai tangan atau pakai mesin. Kalau aku pakai tangan karena nggak punya mesin jahit dan nggak bisa pakai mesin jahit. Heeee ~

6.Selanjutnya jahit bagian pojok kain dengan posisi seperti gambar di bawah ini ya.

Dokumen Pribadi


7.Untuk tali tasnya, kalian bisa gunting bagian pinggang celana. Panjangnya bisa disesuaikan dengan keinginan kalian. 

Dokumen Pribadi


8.Jahit masing-masing ujungnya di bagian pinggir tas. Nah kalian bisa lihat di salah satu ujungnya ada yang tidak rapih. Itu aku sengaja biar dapet efek unfinishnya. Kalau kalian pengin rapih bisa dijahit dulu tepi ujungngnya.

Dokumen Pribadi


Selain ini, kalian juga bisa taruh sambungan tali tasnya di bagian dalam. Kalau aku ini di bagian luar tasnya karena pengin aja si. Hihihi

9.Biar nggak polos banget tasnya, boleh dikasih ornamen sesuai keinginan kalian. Aku pakai ornamen seperti gambar di bawah ini ya.

Dokumen Pribadi

Dokumen Pribadi

10.Jahit ornamen di bagian yang kalian suka. Karena aku pingin ada 2 look di 1 tas, jadi masing-masing ornamen aku jahit di sisi yang berbeda. Penampakannya seperti gambar di bawah ini. 

Dokumen Pribadi


Sekian teman-teman untuk DIY kali ini. Semoga bermanfaat ya. Selamat berkarya. Salam sayang dari aku.




Sumber gambar: pixabay


Selain perkataan Ibunya, Kalu juga menuruti apa yang pacarnya katakan. Jika hari itu pacarnya bilang jangan makan mie, Kalu tidak akan makan mie. Walaupun, bisa saja Kalu berbohong kepada pacarnya, lagi pula mereka tidak tinggal di rumah yang sama. Sejauh ini, apa yang pacarnya katakan adalah hal-hal baik.

“Nggak usah antar aku latihan basket ya. Soalnya teman-temanku hari ini diantar sama pacarnya. Mereka ganteng-ganteng.”

“Oke, Iyut.”

Shila, begitu pacar Kalu biasa dipanggil oleh kebanyakan orang. Tentu Kalu punya panggilan sayang sendiri, Iyut. Sedikit menggelikan. Tapi panggilan sayang itu sudah ada sejak mereka pacaran, 4 tahun lalu. Tepatnya, saat mereka berdua masih SMA. Sekarang, Kalu dan Shila kuliah di kampus yang sama, satu fakultas tapi berbeda jurusan. Mereka semester 3.

Kegiatan sehari-hari Kalu dan Shila sangat berbeda, walaupun sama-sama mahasiswa. 

“Iyut, dimana?”

“Lagi nongkrong di kafe.”

“Aku masih di perpustakan. Habis ini mau makan di warung Bu Dikin. Kamu mau aku beliin kerupuk udang?”

“Nggak usah. Ini aku malah lagi makan udang utuh, fresh juga.”

Meski terkesan dingin, Shila adalah satu-satunya orang yang perkataannya tidak pernah membuat Kalu tersinggung. Setidaknya, sampai detik ini. Dan, bagi Shila, meski Kalu jauh dari kata tampan, dia adalah satu-satunya pacar yang tidak tersinggung dengan ucapannya. Shila pernah putus dengan pacar sebelumnya karena hal yang kecil.

“Mata kamu kecil. Sempit gitu.”

Shila bukannya mempermasalahkan fisik, hanya saja dia gemar mengomentari banyak hal dan terlalu blak-blakan. Termasuk mengomentari tulisan Kalu yang akan dikirim ke website. Setiap minggu, setidaknya tiga kali, Kalu mengirim tulisan ke website milik kakak kelasnya, Mas Edo. Dari tulisan itu, Kalu mendapatkan bayaran yang uangnya bisa untuk makan di kafe bersama Shila.

“Kal, kamu pesan apa?”

“Es teh aja. Iyut mau apa?”

“Aku, udang ya?”

Kalu mengangguk. Keren sekali rasanya bisa mentraktir Shila makan udang di kafe. Sementara dia, minum es teh yang gelasnya tidak lebih berat dari gelas es teh di warung Bu Dikin. Setelah makan, mereka tidak langsung pulang. Uang hasil menulis akan kurang maksimal kegunaannya jika hanya untuk makan di kafe tanpa berlama-lama menikmati fasilitas wifi. 

Kalu bertukar tempat duduk dengan Shila agar lebih mudah menjangkau stop kontak. Dia menghidupkan laptop dan mulai menulis. Sejak semalam, tulisannya belum bertambah, masih setengah halaman. 

“Udah dibilangin, jangan nulis horor. Kamu tuh nggak bisa. Ke kamar mandi malam-malam aja telfon aku buat nemenin biar ada suara. Ini sok-sok an mau nulis horor. Buntu kan?”

“Pengin yang beda aja gitu, Yut.”

“Udah. Kamu itu cocoknya nulis romance. Apalagi kalau sad ending. Lagian, cocok sama muka kamu.”

Dip. Layar laptop Kalu gelap. Kalu mengelapnya. Wajahnya yang sendu dari lahir, terlihat jelas di layar. Dia memandangi wajahnya sendiri selama beberapa detik, kemudian menoleh ke Shila.

Kenapa, Kal? Dapat inspirasi?”

“Bukan. Kamu cabut charger laptopku, jadinya mati deh. Aku kan mau nulis.”

Kalu mengurungkan niatnya untuk menulis cerita horor. Sore yang mendung ketika mereka pulang dari kafe. Sebentar lagi, Kalu akan mendapatkan jasa cuci motor gratis. Lumayan, sudah dua minggu Kalu belum mencuci motornya. Setidaknya kali ini motornya diguyur air. 

Shila tidak pernah keberatan jika harus hujan-hujanan. Bahkan, jas hujan yang hanya ada satu itu dengan suka rela dia minta dipakai Kalu saja. Karena terakhir kali Kalu hujan-hujannya, dia demam tinggi hingga sakit berhari-hari. 

“Nanti seperti biasa sebelum dikirim, aku baca dulu tulisan kamu ya Kal. Jangan lupa, loh!”

Shila berbicara setengah berteriak. Suaranya bersahutan dengan hujan. Kalu mengangguk meski tidak terlalu mendengar apa yang Shila ucapkan. Kalu mengantar Shila pulang ke kos, kemudian pulang ke rumah tantenya yang tidak terlalu jauh dari kampus. Disanalah Kalu tinggal. Lumayan irit, dari pada ngekos.

Selesai dengan urusan membersihkan badan, Kalu kembali menyalakan laptopnya. Dia ingin bisa menulis cerpen horor. Tapi Shila bilang, dirinya tidak cocok dengan genre tulisan itu. Kalu membaca kembali pesan dari Mas Edo. Beberapa hari lalu, Kalu ditanya tentang cerpen horor.

“Kal, kalau nulis cerpen horor bisa nggak kamu? Soalnya di tetangga sebelah lagi rame tulisan itu. apalagi sejak ada kejadian isu penampakan kuntilanak di kampus kita. Tapi misal kamu nggak bisa, nggak apa-apa Kal. Jangan dipaksain.”

Kalu memang ingin mencoba menulis genre lain, termasuk horor. Selama ini, banyak orang menganggapnya spesialis cerpen romance. Kali ini, dia ingin membuktikan kepada orang-orang, kalau dia bisa menulis cerpen horor. Malam itu, Kalu lembur menulis. Meski sedikit takut saat akan ke kamar kecil, Kalu berhasil tidak menelfon Shila untuk minta ditemani.

Selesai. Dengan sumringah Kalu mengirim email ke Mas Edo. Selang satu jam, hapenya berdering.

“Kal, itu kamu yang nulis?” tanya suara di seberang sana.

“Iya, gimana Mas? Misal nggak cocok, aku ada kok cerpen yang seperti biasanya, romance.”

“Cocok kok. Aku muat aja ya sambil liat gimana respon pembaca.”

Lega, Kalu segera tidur. Besok jadwal kuliah yang padat sudah menanti. 

Di kelas, Kalu mendapat beberapa pujian dari temannya tentang cerpen horor pertamanya. Maklum, website yang dia isi memang cukup dikenal di fakultasnya, terlebih si pemiliknya ganteng dan popular di kalangan mahasiswi. Untuk seseorang yang baru pertama kali menulis cerpen horor, Kalu senang atas pujian itu. Dia semakin tertantang untuk kembali menulis cerita horor yang lebih baik.

Kelas pertama selesai, Kalu bergegas ke perpustakaan untuk menikmati koneksi wifi yang stabil. Shila datang, menunda langkah Kalu. Shila menanyakan tentang cerita horor yang Kalu tulis. Kalu tidak sabar menceritakan kepada Shila tentang respon para pembaca. Mulutnya hampir terbuka, tapi Shila mendahuluinya.

“Kenapa nggak dikirim ke aku dulu? Biasanya kan gitu, selalu! Kamu kirim tulisan itu ke aku sebelum dikirim ke bos kamu itu. Udah ngerasa jago? Udah nggak perlu minta saran dari aku?”

Semalam, Kalu lupa melakukan hal yang selalu dia lakukan. Dia terlalu bersemangat.

“Maaf, Iyut. Aku semalam langsung kirim ke Mas Edo. Terus kata dia oke. Kita coba terbitin. Aku pikir ya memang sudah oke.”

“Tapi itu bukan kamu Kal. Kamu cocoknya nulis romance. Nggak peduli apa yang lagi populer di kampus kita, kuntilanak kek, sundel bolong kek, tuyul, apa pun itu. Lagian cerita horor kamu itu nggak jelas.”

“Tapi mas Edo bilang ok. Teman-teman aku yang baca juga pada kasih pujian, Yut.”

“Terus kamu jadi merasa jago gitu nulis horor?”

“Yut, bos aku mas Edo ya. Bukan kamu. Kenapa kamu yang jadi ngatur konten sih?”

Mereka saling diam sepersekian detik. Sampai akhirnya Shila pergi lebih dulu meninggalkan ruang kelas Kalu. Beberapa mahasiswa yang masih berada di kelas memandang ke arah Kalu. Wajah sendu lelaki itu, kali ini marah. Kalu tidak habis pikir jika Shila begitu mempermasalahkan cerpennya. Padahal, Kalu berharap kekasihnya itu memberikan apresiasi atas cerpen horor pertamanya. 

Dua hari Shila tidak mengubungi Kalu, begitu pun sebaliknya. Kalu semakin menikmati pengalamannya menulis cerpen diluar genre yang dikuasainya sejak lama. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Mas Edo, nongkrong di gazebo depan fakultas. Tentu saja, banyak perempuan yang dengan sengaja mendekati Mas Edo, sementara Kalu berkali-kali menggaruk kaki karena yang mendekatinya adalah semut. Biasanya, Shila datang sekadar bertanya sedang nulis apa atau mengerjakan apa dan meletakkan infused water di dekat Kalu.

“Dihabisin ya.” Setelah itu pergi sambil ketawa ketiwi dengan teman-temannya.  

Kalu menatap layar hapenya. Foto Shila terpampang jutek disana. Tapi tetap cantik. Terbersit untuk menghubungi Shila dan meminta maaf lebih dulu. Kalu mengurungkan niatnya. Lebih baik memintaa maaf secara langsung. Kalu mencari waktu yang tepat.

Malam hari pukul 7, Kalu datang ke kos Shila. Biasanya, Shila sedang duduk di teras sambil bermain gitar. Tapi kali ini, dia tidak ada. Ibu kosnya bilang, Shila pergi dengan teman lelakinya. Kalu mencoba mengubungi Shila, tapi tidak bisa. Pikirannya melayang-layang.

Pagi hari sebelum berangkat ke kampus, Kalu mencoba menghubungi Shila. Hasilnya nihil. Kalu ingin datang ke kelas Shila, tapi dia tidak tahu jadwal kuliah kekasihnya itu. Lain halnya dengan Shila, dia selalu punya jadwal kuliah Kalu setiap semesternya. Kalu ingin bertanya pada teman Shila, tapi dia sama sekali tidak hafal satu pun wajahnya. 

Kalu berjalan di koridor dengan lesu. Mata kuliahnya diundur 2 jam lagi. Padahal dia sudah berusaha bangun pagi setelah semalam tidak bisa tidur memikirkan Shila.

“Hai Kal, gimana cerpennya? Udah jadi?” Mas Edo membuyarkan lamunannya.

“Nanti malam aku kirim Mas.”

Sebenarnya, Kalu sudah kehabiskan ide cerpen horor. Dia tidak tahu apa yang lagi yang harus ditulisnya, buntu. 

“Oke. Sibuk nggak?”

“Nggak si Mas.”

“Kebetulan aku lagi diskusi kecil-kecilan di kelas yang itu tuh. Gabung aja. Aku mau ke kamar mandi dulu sebentar.”

Kalu mengiyakan. Kemudian berjalan menuju kelas yang dimaksud oleh Mas Edo.

Eh, cerpennya Kalu yang horor itu ngebosenin nggak si? Gampang ditebak gitu.” 

Suara di dalam kelas menghentikan langkah Kalu. Dia memasang pendengarannya dengan baik. 

“Iya setuju banget.” Suara perempuan lain mengiyakan.

“Ah tapi aku tetep baca, like, komen aja gitu. Itung-itung mendukung websitenya Mas Edo.” Timpal yang lainnya

“Kalau aku sih nggak baca. Langsung komen KEREN, gitu aja.” 

Setelah itu, mereka tertawa, Kalu menelan ludah. Dia buru-buru pergi sebelum Mas Edo kembali dan mengajaknya masuk. Kalu menuju ke parkiran. Lalu mengendarai sepeda motornya tanpa tujuan. Baginya, perkataan mahasiswi tadi adalah salah satu jenis patah hati. Cerpen yang susah payah dia tulis, ternyata tidak sebaik yang dia kira. Orang-orang tidak menghargai karyanya, mereka hanya kagum kepada Mas Edo. 

Patah hati yang demikian, belum pernah Kalu rasakan selama dia menulis cerpen romance. Tidak pernah ada yang salah. Temannya bahkan sering mengajak Kalu berbincang tentang tokoh dalam cerpennya. Bukan sekadar bilang keren, bagus, oke. Beberapa teman perempuannya bahkan berharap jika tokoh itu hidup di dunia nyata. 

Kalu masih mengendarai sepeda motornya. Pikirannya tentang cerpen dan Shila bergantian mengusik kosentrasinya berkendara. Kalu memutuskan untuk datang ke kos Shila. Dia melihat Shila sudah berpakaian rapi. Shila masuk lagi ke kos dengan muka panik. Tidak lama kemudian, Shila keluar, masih dengan kepanikannya.

"Iyut.” Sapa Kalu 

“Kal, aku buru-buru. Udah telat.”

“Aku minta maaf.”

“Kal, A-KU U-DAH TE-LAT.”

“Kamu bener Yut. Aku nggak perlu maksain nulis cerpen horor.” 

Shila menghela napas kesal. Tapi Shila merasa harus mendengarkan Kalu.

“Cerpen horor aku jelek Yut. Mereka nggak bener-bener suka, bahkan ada yang sama sekali nggak baca. Mereka Cuma peduli sama Mas Edo, bukan apa yang aku tulis.” Lanjut Kalu.

“Aku akan nurut lagi apa kata kamu Yut, seperti biasanya.” Tutup Kalu, lirih.

“Nggak harus, Kal.”

“Kenapa?”

“Bagi aku hubungan ini nggak sehat. Kalau kamu selalu nurut apa kata aku.”

“Tapi apa yang kamu bilang selalu bener, Yut.”

“Nggak. Kalau waktu itu kamu nurut sama aku, kamu nggak mungkin dapat pelajaran dari kejadian ini kan? Kamu nggak tahu gimana rasanya kecewa ketika karya kamu disepelakan orang. Kamu nggak bakalan jadi lebih kuat Kal. Kamu cuma berada di zona nyaman yang tanpa kritikan. Dimana orang-orang suka sama cerpen romance kamu.”

Kalu dan Shila terdiam. Menyelami pikiran masing-masing. Shila melihat jam di tangannya. Sudah sangat telat untuk berangkat ke kampus.

“Kal, selama ini aku pikir aku adalah orang yang tahu segala hal  yang terbaik buat kamu. Ternyata aku salah. Kamu harus lebih berani lagi Kal untuk ikutin apa kata hati kamu. Aku nggak mau, gara-gara aku, kamu tumbuh tapi kerdil.”

“Kaya bonsai maksud kamu?”

“Aku nggak becanda Kal.”

“Aku mau tumbuh sama kamu. Boleh aku nurutin kata-katamu yang sesuai sama kata hatiku? Selebihnya, kita belajar bareng biar bisa tumbuh lebih baik lagi. Tumbuh jadi dua orang yang berbeda untuk melengkapi satu sama lain.”

Shila tersenyum, kemudian tertawa.

“Sumpah ya geli diperlakukan kaya cewe-cewe di cerpen kamu. Dah yuk ah jalan-jalan ngabisin bensin.” Shila menarik tangan Kalu.

“Katanya kamu mau kuliah?”

“Udah telat banget.”

Shila dan Kalu mampir ke warung Bu Dikin, membeli kerupuk udang. Kemudian mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol sambil menikmati kerupuk. Mereka memilih pergi ke taman kota. Duduk di tempat yang teduh.

“Iyut, kayaknya aku bakalan lebih jarang ngajak kamu makan udang di kafe.”

“Kenapa?”

“Aku nggak gajian lagi dari Mas Edo. Mau bikin blog sendiri aja.”

“Selamat bertumbuh, Kal.”








Sumber gambar: kompasiana.com

Hai, aku Gita. Tapi ada juga yang panggil April. Kali ini aku mau berbagi cara move on dari mantan. Move on itu artinya “berpindah”, jadi masih masih bersifat umum. Nggak harus tentang cinta, bisa juga move on dari baju kesayangan, motor kesayangan, sandal favorit, ikat rambut favorit, dan lain-lain. Cuma, kita lebih sering mengaitkan kata move on dengan dunia percintaan. Pasti udah akrab banget dong dengan kalimat GAGAL MOVE ON?

Sekarang, bisa jadi kamu juga sedang berada di fase ini. Makanya tertarik untuk baca. Atau, emang pengin mampir di blog aku dan mencari sesuatu untuk dihujat? Apaan si negatif thinking terus deh. Hihi. Oke balik ke move on. Di tulisan ini aku spesifik bahas tentang move on dari mantan ya, sesuai judulnya. Mantan yang aku maksud di sini bukan sekadar mantan pacar ya, tapi bisa juga mantan gebetan. Karena ada populasi manusia di bumi ini yang patah hati sebelum sempat memiliki.

Aku yakin, kalian udah melakukan berbagai usaha untuk move on dari dia. Bahkan ada yang udah melaluinya selama bertahun-tahun dan masih aja merasa gagal. Kenapa ya kok gagal? Kenapa hati kita masih tertuju ke dia? 

Yuk mari sini sayang, aku ajak kamu menelaah, ceilah menalaah. Hihi. Emh, aku ajak kamu untuk menengok enam cara move on yang mungkin selama ini sedang atau sudah kamu coba, dan mana sih sebenernya yang paling pas buat kamu.

1. Ganti nomer telfon

Ada orang yang begitu putus atau gagal memiliki calon gebetan, mereka memilih untuk ganti nomer telfon, termasuk aku. Nggak tanggung-tanggung, kartunya aku patahin, buang deh ke tempat sampah. Kalau ingat kejadiannya jadi geli sendiri. Kamu pernah nggak lakuin itu? Gimana efeknya?

Menurut aku, seketika emosi kita akan tersalurkan. Semacam, oke fine! Bye! Tapi setelah itu ada hal-hal yang sedikit merepotkan diri sendiri. Mulai dari beli kartu lagi, registrasi ulang kartu, apalagi sekarang kan ada minimal registrasi. Nah, untuk orang-orang yang sebenernya males ribet dengan hal-hal kecil (sukanya ribet sama hal besar, seperti perihal menyelamatkan dunia), ini tuh asli bikin males. Tapi gimana lagi, kartu udah terlanjur dibuang mungkin. Kan mau nggak mau harus beli lagi. Belum nanti memasuki sesi menghubungi nomer di kontak untuk kasih tahu kalau nomer telfon kita ganti. Responnya juga macam-macam, ada yang sekadar oke aku save. Ada juga tanya kok ganti lagi, nomer yang dulu berarti udah nggak dipake? Kenapa ganti nomer? 

Ya ampun, ngejelasinnya itu loh, males. Itu sih yang aku rasain. Bayangin misal kamu sering patah hati dan setiap kali itu terjadi kamu berniat untuk move on terus kamu ganti nomer, berapa orang di kontak hape yang kamu bikin kesel? Lama-lama orang juga males itu nyimpan nomer kamu. Mana ujung-ujungnya kalau nongol mau utang, atau nggak nyebar undangan. Hmm

Tapi positifnya ganti nomer yaitu kamu jadi punya nomer baru. Hihi. Ya iyalah.

2. Memblokir semua sosial media mantan

Cara yang satu ini juga nggak kalah popularnya. Uhuy. Bahkan, beberapa teman dekat kita mungkin pernah merekomendasikannya.  Dan aku pun pernah pakai cara ini karena termakan rekomendasi teman. Tujuannya sih biar nggak usah tahu lagi apapun tentang mantan dan dia juga nggak perlu tahu tentang kita.

Tapi eh tapi, justru rasa penasaran semakin berkecamuk. Yaelah berkecamuk. Pokonya malah jadi penasaran. Semacam, dia apa kabar ya? Dia sedih nggak sih habis putus sama aku? Fotoku masih ada nggak ya di sosmednya? Dia punya gebetan baru nggak sih? Dan masih banyak lagi. Alhasil, ya, buka blokir. Damn!

Pokonya, cara nomer dua ini untuk orang-orang yang perpegang teguh pada prinsip “kita berakhir di dunia nyata, berakhir juga di dunia maya”. Nah, kalau kamu termasuk golongan tersebut, cara ini bisa jadi ampuh. 

3. Menghilangkan jejak dokumentasi bersama pacar/gebetan

Cara ini akan sangat merepotkan kalau kamu adalah tipe orang yang suka post foto bareng pacar di sosmed. Misalkan, pacaran 5 tahun, seminggu tiga kali upload foto bareng, maka:

52 minggu x 3= 156 foto

Belum lagi postingan yang nggak ada foto dia tapi caption-nya tentang dia, ya kan harus dihapus atau diedit lah minimal. Itu yang di sosmed, belum yang di laptop mungkin, yang dicetak dan ditempel di dinding lengkap dengan lampu tumbler warna-warni, yang di dompet, di plafon kamar, di balik pintu, arghhh, pokonya banyak. Tapi ya nggak apa-apa agak repot. Yang penting hilangkan jejak dokumentasi. Hiya!

Buat yang punya sedikit banget dokumentasi bersama pacar/gebetan, betapa beruntungnya kamu kalau mau pakai cara ini, nggak ribet. Paling ngerasa sayang aja. Yaelah sayang, punya cuma sedikit, harus dibumihanguskan pula. 

Selain menghilangkan jejak dokumentasi foto maupun video, bisa juga dengan membuang atau mengembalikan barang pemberian mantan. Intinya si, apapun yang berhubungan sama dia, musnahkan. Katanya, biar nggak lihat dan nggak keingat-ingat lagi. Gitu. 

Eh tapi, aku masih simpan jaket dari mantan. Modelnya jaket baseball gitu, warnanya hitam abu-abu. Haha. Hai mantan, baca dong. 

4. Cari pacar/gebetan baru

Cara keempat ini nggak semudah membalikkan telapak tangan. Ya karena ini adalah perihal membuka hati dan belajar memulai dari 0 lagi. Makanya nggak heran kalau ada orang udah lama putus tapi masih sendiri. Atau, udah deket banget sama gebetan eh gagal memiliki, terus ya udah. Males nyari gebetan lagi. Walaupun mungkin udah banyak teman yang kasih saran supaya cari pengganti. Ada juga yang gercep, tiba-tiba udah dapet yang baru. Bahkan lebih baik dari yang kemarin. Kalau aku sih nggak pakai cara ini. Asli, kalau diniatin cari yang baru malah nggak dapet aku tuh. Haha. 

Bagi kamu yang mau pakai cara ini, pesan aku, nggak perlu buru-buru, nggak usah paksain dapet yang baru hanya kerena nggak betah kelamaan sendiri, jangan jadiin yang baru sebagai pelampiasan. Kalau kamu emang butuh jeda, kasihlah jeda. Oke?

5. Pindah kota/tempat tinggal/tempat kerja

Cara ini ala-ala di novel atau film-film gitu ya. Intinya, cari suasana baru. Karena dengan suasana baru bisa membuat pikiran kita lebih tenang. Sebelum memutuskan untuk pindah, ada baiknya kamu pikirin dulu dengan kepala yang berisi otak. Karena ya, dunia belum berakhir setelah kalian putus; Indomie masih seleraku, Le minerale masih ada manis-manisnya gitu, KFC juga masih jagonya ayam. 

6. Tetap menjalin komunikasi

Cara yang satu ini hanya dilakukan oleh pemeran profesional. Hihi. Atau pemeran yang sudah mencoba 5 cara sebelumnya, tapi menurutnya masih gagal. Akhirnya, ya udah lah, hai apa kabar lagi. Berlanjut menjadi penonton di story whatsup dan sosial media lainnya. Kalau jodoh ya pasti balik lagi dan berakhir di pelaminan.

Oke, sekian enam cara move on dari mantan. 

Lah terus, mana yang paling pas hei? Main udahan aja. Ngaco!

Hihi, gini teman-temanku atau bahkan mantanku yang budiman, ekhem. Untuk tahu mana yang paling pas, sebelumnya kamu harus tentuin dulu nih apasih definisi move on menurut kamu. Misal, move on itu udah nggak berhubungan sama dia, move on itu nggak sedih lagi kalau ingat dia, dan sebagainya.

Nah, kalau udah nemu definisi move on versi kamu, aku rasa salah satu dari enam cara di atas ada yang pas buat kamu. Contohnya nih, bagi kamu move on itu dapat pacar baru. Ya udah cara yang paling pas ya cari pacar/gebetan baru lagi. Atau move on itu ikut bahagia lihat dia bahagia. Berarti kamu nggak perlu blokir sosmed mantan. Walaupun mungkin ada teman yang bilang ‘yaelah ngapain masih follow mantan. Belum bisa move on?’ Abaikan! Caramu move on nggak harus sama kayak cara teman kamu move on. Nggak perlu paksain blokir sosmed kalau kamu emang nggak bisa lakuin itu. Nggak perlu paksain tetap jalin komunikasi kalau ternyata jiwa raga kamu nggak kuat lihat dia suatu saat sama yang lain. Paham?

Jadi, cara move on yang paling pas buat kamu ya yang sesuai sama kapasitasmu. Sanggupmu seberapa, sanggupmu yang mana. Bukan kata si A si harus gini harus gitu. Nggak harus. Oke?

Selamat menemukan cara paling tepat untuk move on dari patah hati terhebat.


@kutuhati


Sumber gambar: finansialku.com


Hai. Ini adalah tulisan perdanaku di tahun 2020 setelah lama libur nulis di blog pribadi. Sibuk jatuh cinta pada orang yang salah soalnya. Oke, ini bukan waktu untuk nulis cinta-cintaan. Next time ya. 

Aku mau tanya, diantara Bapak dan Ibu kalian, siapa yang paling jago dalam urusan nego? Maaf, Ibu Bapak udah nggak ada, maaf nggak tahu Bapak Ibuku siapa. Ganti pertanyaan, diantara teman laki-laki dan perempuan, mana yang paling jago dalam urusan nego? Maaf, aku nggak punya temen cowo. Haduh kok ya jadi ribet.
Gini aja, menurut kalian, diantara laki-laki dan perempuan, mana yang paling jago dalam hal nego? Ya ampun aku nggak denger jawaban kalian apa. Kalau menurut aku, perempuan.
Pertama, aku mengamati di keluargaku. Kalau pergi beli sesuatu sama Bapak, nggak ada acara nego. Harga 50k misalnya, ya dibayar 50k. Paling sampai di rumah kena semprot Ibu. Beda cerita kalau beli sesuatu sama Ibu, proses nego menuju deal itu bisa ditinggal ngurus SKCK. Terus biasanya ada sesi dimana Ibu memutuskan untuk meninggalkan si penjual. Padahal dalam hati ‘panggil aku ayo panggil lagi’.
Kedua, aku mengamati di lingkungan pertemananku. Kebanyakan teman perempuan bisa nego dengan tingkat keahlian yang berbeda. Ada yang nego sebatas ‘nggak bisa kurang nih’ ada juga yang udah pro ‘segini aja udah. Ini uangnya. Barangnya saya bawa’. 
Ketiga, aku mengamati di lingkungan sekitar. Terutama di pasar sih. Kalau Bapak-bapak yang belanja, jarang banget ada yang nego. Pilih, bayar, pergi. Semudah itu.
Dari pengamatanku itulah, aku berpendapat bahwa perempuan lebih pintar nego. Tapi, harus pintar nego nggak sih? Engga harus kok. Buat kalian kaum-kaum sepertiku yang nggak bisa nego, belajarlah untuk bilang ‘maaf, nggak jadi’. Duh, malu. Masa udah tanya harga tapi nggak jadi? Nggak apa-apa, daripada tetap beli tapi harga nggak sesuai budget. Mau kalian perempuan atau laki-laki, sah aja kalau bisa nego. Karena ada kalanya nego itu perlu. Tapi jangan nego ke pedagang kecil. Kalau bisa, kasih lebih. Mereka jualan buat bisa makan, bukan untuk kaya. Mereka nggak nyari untung besar-besaran, 500 sampai 1.000 aja udah bersyukur banget. Gitu sih dari apa yang pernah aku baca dan aku sependapat dengan itu.

www.arisanresik.com

Keluarga yang harmonis salah satunya dapat dicapai dengan adanya hubungan yang serasi dan seimbang antar anggota keluarga. Saling memuaskan kebutuhan satu sama lain serta memperoleh pemuasan atas kebutuhannya (Chales, 2008). Salah satu kebutuhan yang perlu dipenuhi yaitu kebutuhan biologis. Sebagai seorang istri, tentu ingin memberikan yang terbaik kepada suami dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis.

Menjaga kebersihan dan kesehatan daerah kewanitaan menjadi hal yang penting agar kebutuhan tersebut terpenuhi dengan baik. Daerah kewanitaan sangat sensitif, untuk itu diperlukan ramuan herbal yang aman untuk merawatnya.

Salah satu buah yang terbukti aman dan efektif untuk menjaga kebersihan dan kesehatan daerah kewanitaan yaitu buah manjakani. Caranya dengan mengoleskan buah yang telah ditumbuk ke daerah kewanitaan, atau bisa juga diminum sebagai jamu.

Di zaman yang modern ini, tidak perlu lagi repot meracik ramuan herbal tersebut karena kealamian dan manfaatnya bisa didapatkan pada produk Resik V Khasiat Manjakani. Produk ini 100% terbuat dari bahan alami dan sudah mendapatkan serifikat halal dari MUI. Teksturnya yang lembut mampu merawat daerah kewanitaan tanpa menyebabkan iritasi.

Selain itu, kandungan buah manjakani di dalamnya berkhasiat membersihkan, mengharumkan, mengatasi keputihan, dan yang paling didambakan semua wanita yaitu menambah kerapatan dan menjadikan miss V lebih kesat.

Cara pemakaiannya sangat mudah. Tuangkan ke telapak tangan secukupnya, tambahkan sedikit air kemudian dibusakan. Selanjutnya basuhkan secara lembut ke daerah kewanitaan. Diamkan selama 1 hingga 2 menit, bilas dengan air bersih.

Rasakan manfaatnya setelah pemakain. Daerah kewanitaan terawat, hubungan intim sehat, dan keharmonisan keluarga semakin hangat. Resik V Khasiat Manjakani, solusi hubungan intim keluarga masa kini.

www.arisanresik.com
#ArisanResik
#Liputan6com

 thecrossmountdora.org

Mungkin ide dalam tulisan ini terbilang telat banget buat ditulis dan diunggah, soalnya sekarang udah tahun 2018. Lebih baik telat dari pada nggak sama sekali, oke, kalimat itu emang mainstream banget. Tapi aku suka. Karena nggak ada kalimat lain yang aku tahu untuk mengemas keterlambatan menjadi sebuah hal yang terkesan bijak. Kalau kalian punya, barangkali bisa share ke aku.

Sepuluh hari terakhir menjelang 2017 berakhir, whatsApp dan Insta Story-ku penuh sama post tentang first impressions. Awalnya aku sama sekali nggak risih dengan itu semua. Lama kelamaan, “apa sih maksudnya?”

Firs impressions adalah bagaimana kesan pertama kalian saat bertemu dengan seseorang. Biasanya, kebanyakan dari kita udah neting (negative thinking) dulu kan ketika ketemu sama seseorang. Kesan pertama bakalan mempengaruhi sikap dan cara pandang kita kepada orang tersebut. Kalian pernah nggak pertama ketemu orang langsung menilai kalau orang itu galak?

Nah, dari situlah, selama beberapa waktu kita akan terus menganggap orang tersebut galak sampai suatu saat jika Tuhan menghendaki, kita kenal lebih jauh dengan orang tersebut, dan taraaaaaa. Ternyata nggak seperti yang kita kira kok. Aslinya orangnya asik, baik, seru, dan akhirnya orang tersebut jadi teman, sahababat dan bahkan pacar.

Di penghujung tahun 2017 ini, ternyata banyak orang posting tentang first impression. Mereka membuat story di akun sosial medianya. Seingat aku sih gini nih:

Sebelum tahun 2017 berakhir, aku pengin tahu first immpressions kalian waktu pertama ketemu aku. Komen ya.

Intinya gitu. Beberapa saat kemudian, muncullah story berupa screen shot DM orang-orang yang memberikan komentar. Sebagai orang yang always on instagram by very fast wifi in my dorm, aku nggak sayang kalo memutar semua story teman instagramku. Eh ini bukan karena aku nggak ada kerjaan. Tapi sungguh, dengan sawang-sinawang itu ide bisa berloncatan loh, dari mereka aku bisa dapat inspirasi buat nulis.

Dari semua komentar yang dijadikan story, kebanyakan manis. Ada yang pahit, tapi ujung-ujungnya manis.

Contoh 1:

Kakak tuh cantik, baik, ramah. Pokoknya luv banget deh. Kapan ketemu lagi ya kak?

Nggak Cuma di-screenshoot, si pemilik akun juga memberikan tambahan pemanis buatan di postingannya, “wah, makasih yah buat yang lebih cantik,” (emotikon cium)

Contoh 2:

Pertama ketemu sama lu nih, lu orangnya jutek, galak abis. Pelit. Tapi pas udah kenal, beh baiknya minta ampun.

Lagi-lagi, dikasih tambahan tulisan sama yang punya akun, “Sumpah ni anak ngeselin. Perasaan gue nggak jutek deh. But, thanks ya.” (emotikon ngakak, cium, dan lain-lain)

Aku nggak tahu yang komentar aslinya berapa orang, tapi, dari semua yang dijadiin story ya gitu, manis. Kok nggak ada komentar yang asli pahit ya? Apa emang ini orang bener-bener baik? Tapi setahuku kan namanya juga orang, nggak semua suka, ada juga yang benci. Atau orang yang benci itu nggak mau komen? Atau, yang komen itu sebenernya benci tapi terpendam? Aih. Pikiranku jadi kemana-mana.

Pertanyaannya adalah, ini orang beneran pengin tahu first immpressions orang lain atau cari eksistensi?

Ya beneran kepo lah, pengin tahu aja. Oke, kalau Cuma pengin tahu aja, buat apa komentarnya di posting? Ya pengin posting aja. Oke, terus kenapa kamu ngintip berapa orang yang udah liat story kamu dan siapa aja? Emh, ya pengin tahu aja siapa yang udah lihat. Oke. Seneng nggak kalau banyak yang lihat? Tik tok tik tok. Ada kepuasan tersendiri nggak ketika banyak yang lihat, apa lagi orang yang kamu bidik juga lihat? Tik tok tik tok.

Selamat bikin story lagi di tahun depan yak. Komentar pahitnya juga diposting dong, biar nggak manis-manis terus. Hidup butuh variasi.





Sebentuk Hati yang Lain
soflen.com
Aku mencoba mengubur dalam-dalam rindu ini. Dan, bertekad tidak akan menziarahi makam sunyi kita lagi. Akan kupangkas ranting-ranting rasa yang kian tumbuh, agar tidak  menjelma pohon rindang yang meneduhkan, menyembunyikan kenangan dari teriknya sang surya. Biar, biar semuanya terbakar, habis, hanguspun tidak apa. Aku cukup tahu diri, pernyataanmu sudah jelas.

“Jangan pernah diingat lagi. Jangan pernah dirasakan lagi, Na. Aku minta maaf.”

***

Masa-masa sulit itu telah kulewati dengan susah payah. Mengumpulkan lagi serpihan hati yang terberai di setiap episode kisah kita. Merangkainya menjadi hati yang berbentuk lain. Tidak akan sesempurna dulu, aku tahu itu. Tapi bagaimanapun juga, ini adalah satu-satunya hati yang kupunya, meski ia tidak lagi sempurna, semoga akan ada seseorang yang menyempurnakannya.

“Rena, even antologi puisimu bertema Rasa Dalam Dusta udah di ACC sama bos. Kapan mau eksekusi?” Oliv nongol dibalik bilik meja kerjaku sambil mengunyah permen karet.

“Secepatnya.” Jawabku singkat. Mataku tersita pada layar monitor, sedang sibuk mengirim e-sertifikat bagi para pemenang dan kontributor lomba cerpen. Mataku terbelalak ketika membaca sebuah nama yang tidak asing, pemenang pertama lomba cerpen kemarin bernama Meru Wicaksana . Ada sedikit nyeri di dadaku. Aku menggeleng, mengusir segala prasangka bahwa serifikat yang kukirim atas nama Meru Wicaksana adalah orang yang sama di masa lalu.

“Na, ada apa?” tiba-tiba saja Oliv sudah berada di dekatku, ikut memandangi monitor kerjaku.

“Meru, liv.” Jawabku lirih.

“Meru yang itu?”

“Entahlah. Aku harap bukan dia.”

Segera kukirim e-sertifikat ke alamat email yang tertera di data yang kupunya, kurasa dia bukan Meru yang kumaksud, alamat emailnya lain. Oliv telah menawarkan sejak awal agar aku mengecek biodata atas nama Meru Wicaksana. Aku menolak dengan alasan lebih baik tidak mencari tahu apapun lagi tentang dia, agar aku bisa tenang. Ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Rasa penasaran terus membayangiku hingga berhari-hari.

“Liv, kayaknya aku harus cek biodata atas nama Meru Wicaksana, deh.”

“Penasaran juga kan akhirnya.” Ledeknya.

Aku hanya ingin memastikan. Setelah itu, ya sudah. Selesai. Tidak ada apa-apa. Hari-hariku akan berjalan seperti biasanya. Tepat setelah aku sampai di kos, mandi, kemudian merebahkan badan di kasur, biodata atas nama Meru kuterima via email dari Oliv.

Betapa tidak percayanya aku dengan apa yang kubaca. Dia adalah Meru yang mati-matian kucoba lupakan. Setelah dua tahun tidak ada kabar, karena semua akses sosial media sudah kublokir, mengganti nomer telfon, dan pindah kota, sekarang dia muncul lagi. Wajahnya bahkan terpampang jelas memenuhi layar handphoneku. Senyumnya, ah! Selesai, tidak ada apa-apa. Iya, tidak ada apa-apa. Segera kubenamkan mata dibalik selimut.

***

“Rena, ada penulis baru yang mau pakai jasa penerbitan kita. Dia pilih kamu jadi editornya. Lima menit lagi kamu ke ruangan saya.” Kata Pak Dion, bosku, sambil berlalu melewati bilik kerjaku, dia terlihat sibuk membolak-balik map di tangannya.

Lima menit berlalau menurut perhitungan jam tanganku. Aku segera menuju ke ruangan Pak Dion. “Naskahnya masih di pegang penulisnya, Rena. Dia meminta bertemu langsung denganmu. Katanya ada beberapa hal yang akan disampaikan.”

Aku mengiyakan saja. Ini bukan pertama kalinya klien meminta bertemu secara langsung. Pak Dion memberikan alamat sebuah cafe yang dipilih oleh penulis itu sebagai tempat pertemuan kami. Pukul tujuh malam lebih sedikit, aku sudah duduk di meja nomer 17, menunggu penulis itu yang sama sekali belum kutahu namanya.

“Selamat malam, Rena Hakim.” Sebuket mawar putih diletakkan di meja oleh seorang lelaki. Aku menoleh.

“Kamu? Kalau tahu penulis itu adalah kamu, aku akan menolak pekerjaan ini!” aku beranjak meninggalkan meja. Meru menyusulku keluar cafe. Sialnya, tidak ada taksi yang melintas. Aku gagal pergi secepat mungkin dari hadapannya. 

“Ren, Rena. Dengar, aku minta maaf.” Dia menarik lenganku ketika aku hendak menyeberang. Aku diam, memperhatikan lalu-lalang kendaraan di depanku.

“Rena, aku rasa kita perlu bicara. Bisa kita masuk lagi? Sebentar, aku mohon.”

***

Aku dan Meru duduk berhadapan di meja nomer 17. Tidak sekalipun aku menatapnya.

“Rena, aku minta maaf soal pertemuan kita yang terakhir kali, dua tahun silam. Aku menyesal. Sungguh. Dua tahun aku cari kamu, Na. Aku seperti orang gila. Teman, keluargamu, semua bungkam ketika aku datang menanyakan keberadaanmu. Aku tersiksa, Na. Beri aku kesempatan lagi, Na. Please. Kita mulai dari awal.”

Semua yang keluar dari mulutnya tidak boleh meruntuhkan benteng yang telah kubangun selama ini. tidak akan kubiarkan dia menghancurkan hatiku lagi. Tidak akan. Aku memelih tidak banyak bicara, “Maaf, aku tidak bisa.” Itu saja yang keluar dari mulutku.

Dengan mantap aku bangkit, meninggalkannya yang terpatut, memegang sebuket mawar putih. Dua tahun yang lalu adalah pelajaran untukku. Semuanya sudah terjadi, tidak apa aku pernah memberikan hati kepada orang yang pandai mematahkannya, tapi aku punya lem terkuat untuk menyatukannya kembali, menjadi sebentuk hati yang lain. 

@kutuhati

The Laundry
anggitaapriliasa.blogspot.co.id

Kepalaku terasa berat, sepertinya otakku berubah menjadi batu setelah semalam lembur mengerjakan tugas. Bungkus makanan ringan dan softdrink berserakan di lantai, leptop masih memeutar daftar lagu sejak semalam, beberapa menit kemudian muncul peringatan batreai lemah di layar. Aku menguap, menengok ke kolong tempat tidur, gelap, membuatku ingin memejamkan mata lagi. Tapi jam weker sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Itu artinya tersisa waktu satu jam untukku bersiap pergi ke kampus sebelum mata kuliah dosen killer itu dimulai.

Dengan malas aku bangkit, membuka jendela. Cahaya matahari pagi yang menembus kaca jendela kamar membuatku harus menyipitkan mata, berkedip-kedip untuk kemudian bisa menatap pemandangan di luar sana dengan jelas. Beruntung kamarku berada di lantai dua, bisa menikmati hijaunya pegunungan yang berjarak 2km dari tempatku berdiri saat ini. perlahan kuhirup udara pagi yang sejuk, aroma embun masih tercium meskipun sedikit, maklum saja aku bangun kesiangan, embun-embun itu pasti sudah dicumbui oleh cahaya matahari. 

Aku selalu suka menatap gunung di pagi hari, hal itu akan mengingatkanku pada pengalaman mendaki bersama seseorang yang spesial, Beni. Suasana sunrise kala itu di gunung Slamet masih kuingat dnegan jelas, juga bagaimana suara Beni sedikit gemetar ketika berucap cinta kepadaku yang terbengong-bengong menatap keindahan dari puncak gunung terbesar di jawa tengah itu. Beni sampai harus mengulang tiga kali karena aku gagal fokus.

Astaga, aku sudah menghabiskan hampir setengah jam berdiri menatap gunung dan memutar memori tentangnya. Aku bergegas mandi, lebih tepatnya mandi kilat. Betapa paniknya aku ketika teringat bahwa pakaianku masih di tempat laundry, belum sempat kuambil sejak kemarin. Yang tersisa di lemari hanya pakaian untuk tidur dan bersantai, tidak pantas kan dipakai untuk ke kampus. Kulirik jam weker. Lima belas menit lagi jarum  jam menunjukan pukul delapan tepat.

Setelah berpakain seadanya, aku tergesa-gesa menuruni tangga, tidak memperdulikan sapaan tetangga kamar, bergegas memacu sepeda motor menuju ke tempat laudry langgananku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kos.

“Pong, mau ambil laundry.”

“Ya ampun, Cin. Baru aja buka. Eyke mau beres-beres dulu. Tunggu ye?”

“Aduh Pong! Aku nggak bisa nunggu. Buru-buru banget nih.”

“Ih rese deh. Ambil sendiri deh sana. awas yah jangan berantakan.”

Mataku berkeliaran mencari bungkusan baju berlabel namaku, Luky. Bajuku ada di loker paling atas. Setelah berhasil mengambil dan membayarnya, aku segera kembali ke kos. Berganti pakaian, berpacu dengan waktu. Kubuka plastik pembungkus baju, memilih yang akan kupakai. Ada yang ganjil, tidak ada satupun bajuku. Kukelurkan semuanya secara sembarang.

“Kok baju cowok?” aku bertanya pada diri sendiri dengan kesal. Aku kembali membaca nama pada label, benar, namanya Luky. Bagus, aku salah ambil. Ini pasti milik Luky berjenis kelamin laki-laki. Aku bangkit, meremas-remas rambut sambil mondar-mandir. Sementara jarum jam terus berdetak, membuatku semakin panik.

Waktu tidak memungkinkan untukku mengembalikan baju-baju itu sekarang ke laundry. Lagipula aku sudah terlanjur mengacak-acaknya. Aku masih mondar-mandir sambil menatap baju yang berserakan di atas tempat tidur. Ada satu yang mirip dengan baju perempuan, dan dugaannku benar, baju bermotif bunga-bunga itu memang baju perempuan. Tanpa pikir panjang, aku memakainya.

***

Seusai perkuliahan, aku pergi ke kantin bersama beberapa teman, memesan nasi uduk dan jus jambu. Sambil menunggu pesanan, kami berbincang-bincang. Dari kejauhan, mataku menangkap sesuatu yang tidak asing. Kaos yang dikenakan oleh lelaki berbadan jangkung itu berwarna putih dan bertuliskan huruf B. Persis seperti milik Beni. Aku yakin di dunia ini hanya dia pemilik kaos seperti itu, bagaimana tidak? Aku yang membuatnya bersama dia saat mengunjungi vestifal kaos lukis. Bercak-bercak warna di sekitar huruf merupakan bukti bahwa si pelukisnya masih amatir.

Lelaki itu semakin mendekat, menatapku tajam, kemudian melewati mejaku. Tidak salah lagi, itu adalah kaos milik Beni yang masih kusimpan. Aku menoleh ke tempatnya duduk, ternayat dia juga sedang menatapku. Setelah saling tatap beberapa saat, kami bangkit dari tempat duduk masing-masing, kemudian saling mendekat.

“Lepas baju itu sekarang!” kataku dan lelaki itu secara bersamaan.

Suasana lengang, pengunjung kantin yang mendengarnya menatap kami berdua. Begitu juga dengan teman-temanku. Aku menelan ludah, menatap sekitar. Kemudian lenganku ditarik oleh lelaki itu, keluar kantin.

“Kenapa kamu pakai dress itu?” tanyanya dengan tatapan menyelidik.

“kamu juga kenapa pakai kaos itu?” aku bertanya balik.

Kami saling diam, “Tunggu, kamu Luky?” tanyaku kemudian.

Kening lelaki itu berkerut, kemudian diacungkan jari telunjuknya ke mukaku, “Kamu cewek yang salah ambil laudry. Gara-gara kamu aku hampir telat ketemu dosen pembimbing skripsi.”

“Kamu cowok yang namanya ikut-ikutan namaku. Gara-gara kamu juga aku hampir telat masuk kuliahnya si dosen killer.”

“Gara-gara aku? Kamu yang salah ambil.”

“Kamu yang namanya ikut-ikutan aku!”

“Ribet ya ngomong sama cewek. Pokonya lepas dress itu secepatnya, aku nggak terima ada cewek lain selain dia yang pakai dress itu.”

“Aku juga nggak terima, ada cowok selain dia yang pakai kaos itu!”

“Lepas sekarang!” ucap kami bersamaan.

***

“Oke, aku lepas sekarang!” lelaki itu mulai melepas kaosnya. Aku berteriak sambil menutup mata dengan telapak tangan.

“Kenapa teriak?” tanyanya.

“Kamu porno banget ya, masa lepas baju di sini.”

Lelaki dihadapanku tertawa, aku mengintip lewat sela jari. Kaos itu masih melekat di badannya.

“Balikin baju-bajuku dan dress itu setelah kamu cuci bersih di laundry-an yang kemarin. Jangan kelamaan, besok harus udah dibalikin.”

“bajuku sama kaos itu juga. Besok ketemu di laundry-an.” 

“Oke. Jam empat tepat.”

Setelah berucap demikian, dia pergi. Punggungnya menghilang di tengah kerumunan. Teman-temanku memanggil, salah satu dari mereka menganggat sepiring nasi uduk dan jus jambu pesananku. Aku mendekat, kemudian dihujani pertanyaan tentang lelaki itu sebelum akhirnya menyantap pesananku.

“Jadi, nama kalian samaan?” tanya Leni.

“Iya gitu deh.”

“Wah, jangan-jangan jodoh.”

Aku melirik, kemudian memelototkan mata kepadanya. Yang dipelototi tertawa kecil sambil menutup mulut burung beonya itu.

***

Baju milik lelaki itu terkena air kencing kucing milik Ibu kos, aku lupa tidak mengunci kamar sebelum berangkat kuliah. Alhasil monster kecil itu kencing sembarangan di kamarku. Setelah berganti baju, aku segera pergi ke Ipong Laundry. Hari berikutnya, seperti kesepakatan, aku dan Luky bertemu di Ipong laundry untuk saling mengembalikan baju yang tertukar, kebetulan kuliahku libur. Dengan santai aku mengendarai sepeda motor, kemudian menepi ke Ipong Laundry. Seorang lelaki terlihat sedang berdebat kecil dengan Ipong, pemilik laundry yang sudah kukenal sejak lama.

“Pong,” sapaku.

Mereke berhenti berdebat, Ipong menyapaku, lelaki itu yang ternyata adalah Luky langsung memintaku menunjukkan struk pengambilan laundry.

“Buruan kasih lihat, biar bisa diambil baju-bajuku! Ini baju kamu.” Luky menyodorkannya.

“Iya, iya. Nggak sabaran amat jadi orang.”

Ipong mencari-cari bungkusan baju atas nama Luky. Cukup lama, lelaki itu terlihat gelisah, mengetukan jemarinya ke meja.

“Lama banget sih?”

“Duh, sabar cin. Tiba-tiba nama Luky jadi banyak binggo.”

Lelaki di sebelahku melirik ke jam tangannya, semakin gelisah, kemudian bangkit, “Eh Luky cewe, aku nggak bisa nunggu kelamaan. Aku harus pergi sekarang. Nanti kalau bajunya udah ketemu, kamu buruan nyusul aku ke taman kota.”

Belum sempat kujawab, dia pergi begitu saja, mengendarai sepeda motor matic. Menyebalkan.

“Loh, kemana Luky cowok? Ini bajunya udah ketemu, Cin.”

“Udah pergi dia. buru-buru katanya.”

Setelah membayar, aku pergi ke taman kota. Celingukan mencarinya sambil membawa sekantong plastik hitam berisi baju. Beberapa pengunjung menatapku, mungkin mereka bertanya-tanya apa yang kubawa. Kakiku mulai terasa pegal, berkeliling mencarinya. Kuputuskan untuk duduk terlebih dahulu, memebeli minuman dingin, meneguknya. Kembali kuedarkan pandangan mencari Luky. Dapat, dia sedang duduk tidak jauh dari tempatku saat ini, bersama seorang perempuan. Aku berlari kecil menghampiri mereka.

“Luky, ini bajunya.” Seruku sambil mengangakat kantong plastik di tangan kiri.

Mereka menoleh. Luky memberi isyarat agar aku mendekat. Sekarang aku, dia, dan perempuan itu duduk di satu kursi panjang.

“Sya, aku masih sayang sama kamu. buktinya, aku masih simpang dress yang aku beli buat kamu, Sya. Dress yang kamu balikin ke aku waktu kita putus. Kamu masih ingat kan?”

Aku terdiam, sambil sedikit menguping obrolan Luky dengan permpuan itu. sebenarnya tanpa menguping pun aku dapat dengan jelas mendengarnya. Luky menyikut lenganku beberapa kali, “Eh Luky cewek, mana dressnya?” tanyanya lirih.

“Ada di dalam plastik ini.”

“Buruan keluarin.”

Kuacak-acak seisi plastik, mencari short dress bunga-bunga, kemudian menyerahkan kepadanya.

“Lihat, Sya. Ini dressnya, kamu masih ingat kan? Setiap minggu aku pasti bawa ke laundry-an walaupun nggak kotor. Aku masih jaga ini baik-baik, kayak aku jaga perasaanku ke kamu, Sya.”

Astaga, aku mual mendengar kata-kata gombal lelaki itu. Si perempuan masih terdiam.

“Sya?”

“Luky, itu Cuma baju. Bukan simbol cinta atau semacamnya. Nggak ada gunanya kamu masih simpan, apa lagi ngelaundry-nya setiap minggu. Nggak perlu, Luky. Mau kamu simpan sampai kapanpu, mau kamu laundry berapa kalipun, aku nggak akan bisa balik ke kamu.”

Sekrang Luky yang diam, menunduk sambil memegang short dress bunga-bunga.

“Luky, aku harap kamu paham.” Ucap Si perempuan.

“Kenapa kamu tinggalin aku, Sya? Kenapa kamu lebih pilih lelaki lain?” Luky bertanya dengan suara parau setelah beberapa saat terdiam, jemarinya meremas short dress bunga-bunga di tangannya.

Rasa mualku hilang, sekarang aku seperti sedang menyaksikan pertunjukkan drama tentang cinta.

“Luky, kamu itu nggak punya cita-cita. Arah tujuan hidup kamu nggak jelas. Aku nggak suka lelaki yang nggak punya target dalam hidupnya. Sedangkan dia, lelaki yang aku pilih, dia punya cita-cita, arah tujuan hidupnya jelas. Kamu banyak omong ini itu, tapi kosong. Not action, talk only.”

Si perempuan bangkit, melangkah pergi, tanpa ada raut bersalah di wajahnya. Sementara Luky masih tertunduk. Lengang. Kutawarkan minum kepadanya, tapi dia menolak. Hening.

“Kamu ditinggalin seseorang karena nggak punya cita-cita, sedangkan aku ditinggalin seseorang karena dia ingin mengejar cita-citanya. Hidup terkadang lucu ya?” aku mulai membuka bercakapan, berharap keheningan itu pecah. Luky menghela nafas, kemudian meneguk sebotol minuman dingin yang tadi ditolaknya.

Luky tersenyum kecut, matanya menatap lurus ke depan.

“Iya, lucu.”

“Eh, tapi ada benarnya juga apa yang dibilang cewek tadi. Buat apa kamu masih simpan dress itu. aku jadi ingat kaos yang kemarin kamu pakai. Kaos itu milik, Beni, mantanku. Sampai sekrang aku juga masih simpan baik-baik kaosnya dengan harapan dia bakalan balik suatu saat nanti, dan aku akan kasih lihat kaos itu sebagai bukti kesetiaanku.”

“Masih mau simpan kaosnya?”

Aku menggeleng, tersenyum, “Nggak.”

“Sekarang dimana kaosnya?”

“Ada di motor.”

“Yuk, ambil.”

Aku dan Luky pergi ke parkiran, mengambil kaos milik Beni. Kemudian dia mengajakku pergi, entah kemana. Aku hanya mengikuti di belakang. Setelah lima belas menit, dia berbelok ke gang, kemudian berhenti di depan sebuah rumah.

“Ini kosku. Masuk aja. Naik ke atap lantai dua. Tunggu di sana. aku mau ambil sesuatu.” Katanya.

Aku menaiki tangga menuju ke atap lantai dua. Tidak lama kemudian, Luky datang membawa sebuah tong sampah yang terbuat dari besi.

“Masukin kaosnya.”

“Mau dibakar?”

“Iya.”

Kumasukkan kaos milik Beni, Luky juga memasukkan short dress milik si perempuan itu, membakarnya.

“Jadi, setelah ini apa?” tanyaku.

“Kamu punya cita-cita?” dia balik bertanya.

“Punya sih, tapi..”

“Luky cewek, tadi kamu bilang aku ditinggalin karena nggak punya cita-cita, dan kamu ditinggalin karena dia mau ngejar cita-citanya. Jadi, sekarang aku harus punya cita-cita, dan kamu harus kejar cita-citamu, bukan untuk mereka, tapi untuk kebaikan diri kita sendiri.”

Aku tersenyum mencerna kata-katanya. Orang yang patah hati terkadang menjadi sangat bijak. Setelah sepakat dengan hal apa yang akan kami lakukan masing-masing, aku dan Luky berpisah di senja yang masih orange. Kami sering bertemu di Laundry secara tidak sengaja. Ya, kami memang memutuskan untuk tidak saling bertukar nomer ponsel, berteman secara intens, atau menyengaja bertemu. biarkan waktu yang mempertemukan dan memberikan kami ruang untuk saling bercerita tentang kesepakatan di senja kala itu.



Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

Perempuan berkacamata yang suka menarasikan luka dengan penuh cinta.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Tumbuh
  • 129 Ribu untuk Kado Ulang Tahunku!
  • Resik V Khasiat Manjakani, Solusi Hubungan Intim Keluarga Masa Kini
  • Sawilem
  • DIY Tote Bag dari Celana Jeans Bekas
  • 13
  • Sebentuk Hati yang Lain
  • Antara Lethe dan Mnemosyne
  • Enam Cara Move On dari Mantan, Mana yang Paling Pas Buat Kamu?
  • Perempuan (Harus) Pinter Nego?

Categories

  • artikel 4
  • cerpen 9

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates